In Memories

In Memories
part 63



Ziana yang tengah bingung mendapat pertanyaan yang membuatnya bahkan sulit untuk menelan salivanya sendiri, ia merasa kini tenggorokannya di penuhi oleh biji kedondong. Sangat sulit untuk mengeluarkan kata yang seharusnya ia utarakan pada Aditya, tapi melihat raut wajah Aditya yang tampak sangat manis malam ini membuatnya harus berpikir ulang untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


Saat tengah berpikir keras tentang apa yang harus ia katakan pada Aditya, di saat bersamaan datanglah pelayan dengan membawakan pesanan mereka malam ini.


"Terimakasih ya Mas." Ziana tersenyum pada pelayanan pria yang tampak masih sangat muda. Melihat hal itu raut wajah Aditya berubah masam ia sangat tidak suka jika kekasihnya itu bersikap manis pada pria lain.


"Apa harus seperti itu?"


"Maksudnya?" Ziana yang tak mengerti pun mengerutkan keningnya.


"Aku tidak suka jika kau bersikap manis pada pria mana pun selain padaku." ucap Aditya dengan tatapan nya yang tajam.


"Oh itu ya, tapi kan aku hanya bersikap sopan Kak."


"Tapi aku tidak suka, kembali ke topik awal apa yang menjadi ganjalan mu?" Aditya kembali ke pertanyaan tadi yang belum sempat mendapatkan jawaban dari Ziana.


"Sebenarnya tidak ada ganjalan apa pun Kak hanya saja bagaimana dengan kuliah ku, bahkan aku saat ini masih jauh dari kata dewasa untuk menjadi seorang istri." Ziana mencoba memilih kata yang tepat agar ia tak salah dalam berucap.


"Dengarkan aku saat seorang pria telah yakin akan pilihan hati nya terutama aku, maka aku telah menerima sepaket lengkap apa yang ada dalam diri mu, baik kelebihan atau kekurangan mu. Aku hanya butuh kau selalu ada di samping ku menjadi pelengkap hidupku sampai maut yang memisahkan." Ucap Aditya dengan tetap menatap lekat Ziana yang terlihat sangat gugup malam ini.


"Issh Kak jangan bawa kata maut segala, aku takut." Ziana mengerucutkan bibirnya.


"Karena aku ingin hidup lebih lama bersama dengan mu, sarang hae oppa." Ziana memperlihatkan finger heart pada Aditya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Aditya tersenyum melihat tingkah Ziana yang sangat menggemaskan baginya, itu yang membuatnya tak bisa untuk lebih lama membiarkannya hanya dengan status kekasih, Ziana ibarat bunga yang tengah mekar akan banyak kumbang yang mendekatinya. Hanya dengan mengingat hal itu saja sudah sangat membuatnya gusar apalagi jika terjadi mungkin akan membuat nya gila.


"Terimakasih sayang, aku tak ingin banyak berjanji tapi setidaknya aku akan mewujudkannya dalam setiap perlakuan ku pada mu." Aditya pun mengecup tangan Ziana yang sedari tadi ia genggam erat.


"Apa aku boleh mendengar panggilan itu lagi?" Ucap Ziana dengan mata yang berbinar karena ini baru pertama kalinya ia di panggil sayang oleh Aditya, terasa ada ribuan kupu - kupu yang beterbangan di pipinya.


"Tidak ada, nanti saja setelah kau resmi menjadi istriku." Aditya pun memilih menyantap makan malamnya sedangkan Ziana mmengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Aditya.


Mereka pun makan dengan sesekali berbincang ringan, saling mengenal lebih dekat satu sama lainnya meskipun tanpa ia mengorek langsung tentang pribadi Ziana. Ia sudah tau semua detil tentang Ziana dari anak buahnya.


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam setelah mereka selesai makan malam, ia pun membawa ziana ke danau. Tak ada yang turun dari mobil mereka hanya ingin menikmati indahnya malam di tepian danau yang indah tersorot cahaya sinar lampu dan sinar rembulan dengan secara bersamaan.


"Jangan ragukan aku, cukup kau di sampingku sehebat apapun masalah yang akan kita hadapi nanti, mari kita hadapi bersama." Aditya menggengam tangan Ziana kembali untuk menyalurkan kehangatan yang ia berikan untuk kekasihnya itu.


"Aku bukannya ragu hanya saja mungkin karena usia ku yang masih labil, membuatku belum bisa berpikir dengan matang." Ziana menatap mata Aditya untuk lebih meyakinkan hatinya akan pilihannya.


"I love you." Ucap Aditya


Aditya pun memajukan tubuhnya setelah jarak mereka hanya tinggal beberapa inci ia mulai mengecup bibir Ziana yang baginya sangat manis, bibir dan pemiliknya yang sebentar lagi akan seutuhnya menjadi miliknya.


Aditya terus mencium bibir Ziana, gerakan kaku Ziana yang lebih banyak diam membuat Aditya gemas, perlahan ia mengecup bibir atasnya kemudian ia menggigit kecil bibir bawah Ziana. Dengan refleks Ziana membuka mulutnya kesempatan itu tak di sia - sia kan Aditya, ia pun memasukan lidahnya untuk mengabsen setiap sudut yang ada di rongga mulutnya. Ziana pun mulai membalas dengan intens ciuman dari Aditya. Setelah hampir kehabisan oksigen mereka pun menyudahi ciuman mereka.


Aditya menyeka bibir Ziana yang basah dan bengkak dengan ibu jarinya.


"Kau pintar belajar ya." Aditya tertawa mengingat kejadian yang baru saja mereka lalui.


"Isshh kau yang mengajarkan ku ya." Ziana mencebikkan bibirnya.


"Tidak apa aku menyukainya."


"Nanti setelah kita menikah aku akan mengajari mu banyak hal." Aditya tersenyum simpul dengan mengedipkan matanya.


"Ih apa sih Kak." Ziana memukul pelan tangan Aditya, jika ini siang hari pasti wajahnya yang terasa hangat dan putih bersih akan merona merah karena rasa malu dengan apa yang Aditya katakan padanya.


Otak suci nya mulai traveling kemana - mana, ia terus membayangkan hal yang tak berfaedah untuk dirinya yang masih berstatus seorang gadis. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya itu.


"Kenapa kau mulai membayangkan nya?" Aditya terus saja menggoda Ziana.


"Mana ada, sudahlah Kak sebaiknya kita pulang saja ini sudah malam." Ziana berusaha menghindari tatapan Aditya yang saat ini terus menggodanya.


"Baiklah memang sebaiknya kita pulang, aku takut tak bisa menahan diri jika terus bersama mu." Aditya pun melajukan mobilnya meninggalkan danau yang telah menjadi saksi bisu cinta mereka.


***


"Rumah kok sepi Bu?" tanya Zian yang baru saja kembali dari base camp tempat biasa mereka berlatih band, meskipun bukan milik mereka tapi di tempat mereka sering berlatih mengasah bakat terpendamnya.


"Bapak lagi di pos ronda, Ziana lagi pacaran." Jawab Bu Rina dengan tatapan mata yang tak teralihkan dari layar tv yang sedang menayangkan acara favoritnya.


"Sama Kak Aditya?" Zian pun duduk di samping Bu Rina dengan mengunyah cemilan dari pangkuan sang Ibu.


"Iya siapa lagi, eh menurutmu bagaimana calon Kakak ipar mu itu?" Bu Rina terlihat antusias bertanya pada putranya.


"Aku sih suka Bu sama Kak Aditya bahkan dia adalah panutan ku sekarang, kalau sudah dewasa nanti aku ingin seperti dia. Semua kekuasaan seperti ada dalam genggamannya." Zian berkata dengan berapi - api, ia tengah membayangkan dirinya menjadi sosok Aditya dengan setelan jas duduk di depan mobil sport dan di bawahnya ada banyak hamparan uang.


"Kau ini." Bu Rina pun menoyor kepala Zian.