
Kerumunan orang di depan perusahaan Erlangga Corp membuat kemacetan panjang tak sedikit di antara mereka yang mengabadikan kejadian tersebut.
Pria yang saat ini tengah memangku tubuh Ziana erat dalam pelukannya dengan posisi duduk karena tangan dan kakinya juga terluka, ia terus mengguncangkan tubuh wanita yang sangat di cintainya.
"Aku mohon sadarlah Zi." isak tangis memilukan sesaat sebelum bantuan datang, dan juga sebelum pandangannya menjadi buram kemudian ia pun jatuh tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah.
Sementara itu Aditya yang tengah berbincang dengan kliennya saat menerima kabar bahwa istrinya menjadi korban tabrak lari di depan perusahaannya sendiri, berlari seperti orang kesetanan ia menabrak semua orang yang berpapasan dengannya. Dengan perasaan yang tak menentu dan semua pikiran buruknya, ia terus berlari dengan berteriak memanggil istrinya.
Saat sampai di depan kerumunan orang yang akan mengevakuasi istrinya, dengan langkah pasti dan setengah berteriak Aditya menghampiri Ziana yang tak sadarkan diri bersama Evan di sampingnya. Ya pria yang dengan berani mempertaruhkan nyawanya menolong wanita yang ia cintai dalam diam itu adalah Evan.
"Minggir." Aditya bersimpuh di depan tubuh Ziana dengan air mata yang tak bisa lagi ia tahan melihat istrinya yang paling berharga diam tak berdaya dengan banyaknya darah yang keluar kemudian ia pun dengan sigap menggendong Ziana ke dalam mobil ambulance yang sudah ada.
"Bertahan lah sayangku, jangan pernah tinggalkan aku." ia terus menggenggam tangan istrinya yang kini tengah dalam tindakan darurat di dalam mobil ambulance oleh perawat. Sementara Evan di bawa menggunakan mobil ambulance yang berbeda.
"Dokter cepat selamatkan istri ku, apapun yang terjadi buat dia hidup. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tak di inginkan dengan istriku, kau akan tau akibatnya!" ucap Aditya dengan mengguncangkan tubuh dokter yang berlari begitu mendapat laporan jika pewaris grup Erlangga yang mempunyai setengah saham dari rumah sakit ini akan segera tiba dengan istrinya sebagai korban tabrak lari.
"Baik Tuan, anda tunggu saja kami akan segera melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan istri anda."
Saat Aditya akan ikut masuk ia tak di perbolehkan masuk karena akan mengganggu tindakan para medis, Aditya menunggu di luar bersama Angga yang tadi mengikuti Tuannya sampai ke rumah sakit.
"Anda harus tenang Tuan, jika anda terus panik seperti ini saya khawatir trauma anda akan kambuh dan jika itu terjadi anda tak bisa merawat Nona nantinya." Angga berusaha untuk membuat Aditya tenang.
"Baiklah." Aditya mencoba mengatur nafasnya dengan keringat dingin yang kini membanjiri keningnya ia tengah berusaha untuk membuat dirinya nyaman, ia tak ingin traumanya kambuh di saat genting seperti ini.
"Minumlah Tuan ini susu coklat hangat Nona bilang anda menyukainya, dan juga semoga anda tetap rileks Tuan."
Suamiku ayo di minum dulu biar tubuhmu rileks ini enak aku menyukainya, jika aku sedang banyak pikiran maka aku bisa menghabiskan beberapa cangkir coklat panas karena ini sangat menenangkan bagiku.
Sekilas ingatannya terlintas saat Ziana memberikan coklat panas pada dirinya untuk pertama kali dan ia pun menyukainya bahkan setiap hari sebelum tidur mereka berdua selalu minum coklat panas.
Aditya tersenyum mengingat wajah cantik istrinya yang tersenyum bahagia saat memberikan coklat panas padanya, tetapi sesaat kemudian setelah ia meminumnya wajahnya kembali sendu mengingat jantung hatinya kini tengah terbaring lemah tak berdaya.
Selang lima belas menit dokter pun keluar dan Aditya langsung menghampirinya.
"Bagaimana dengan istriku dok?"
"Lukanya sudah kami jahit, benturan di kepalanya sepertinya tidak terlalu keras jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan. Tapi kita tetap harus mengobservasi nya dalam beberapa hari ini untuk mengetahui apakah ada efek setelah benturan itu terjadi atau tidak. Jika ada maka harus di periksa lebih lanjut lagi." ucap dokter yang saat ini tengah menjelaskan dengan rinci kondisi kesehatan Ziana.
"Ah syukurlah."
"Anda bisa melihatnya nanti setelah di ruang perawatan Tuan, sekarang istri anda sedang di bersihkan terlebih dahulu."
"Siapa yang membersihkannya apa dia perempuan?"
Dasar bucin akut saat genting seperti ini masih saja menanyakan hal tak perting seperti itu.
Angga hanya menggelengkan kepalanya merasa heran dengan tingkah atasannya itu. Sementara itu Angga bergegas untuk menanyakan pada dokter lain yang menangani Evan.
"Pasien tidak mengalami patah tulang semuanya baik, hanya saja ada luka robek yang harus di jahit dan itu cukup dalam." ucap dokter tersebut.
"Terimakasih dokter dan tolong pindahkan dia ke ruangan VIP dengan segera."
"Baiklah kalau begitu saya permisi."
Setelah Ziana dan juga Evan di pindahkan ke ruang perawatan, Aditya bisa sedikit bernafas lega karena mendengar penjelasan dokter tentang kondisi istrinya. Hanya saja untuk saat ini Ziana masih belum sadar, hatinya berdenyut nyeri melihat istri yang sangat ia jaga dan cintai terbaring lemah dengan selang yang menempel di tangannya.
Kini Aditya tengah duduk di samping ranjang Ziana, ia terus mencium tangan istrinya bagaimana pun rasa takut kehilangan itu masih ada begitu besar di dalam hatinya.
Drrt...drrttt
Ponsel di saku celana nya bergetar tanda ada notif masuk dengan segera ia membuka laporan yang di kirim team Eagle. Sebuah rekaman cctv detik - detik kejadian sebelum tertabraknya Ziana yang di selamatkan oleh Evan. Kejadiannya begitu cepat karena sebelum pengawal bayangan yang menyelamatkan Ziana, posisi yang lebih dekat saat itu memanglah Evan sehingga saat kejadian itu terjadi Evan lah yang menyelamatkan Ziana.
"S*hitt!! aku yakin ini pasti ada kaitannya dengan teror itu." Aditya pun segera menelpon Bram yang merupakan ketua team Eagle.
"Seret pelakunya malam ini juga ke hadapan ku, aku tak mau tau!" seru Aditya begitu panggilannya tersambung.
"Baik Tuan."
tok..tok...tok
"Masuk." ucap Aditya saat pintu ruang rawat di ketuk oleh seseorang dari luar.
"Maaf mengganggu Tuan, tadi saya sudah bicara dengan dokter yang menangani Tuan Evan, beliau tidak mengalami luka serius hanya saja dua luka robek di tangan dan kakinya yang harus mendapatkan jahitan." ucap Angga panjang lebar menjelaskan tentang kondisi Evan saat ini.
"Hmm baiklah berikan perawatan terbaik untuknya, dia sudah menyelamatkan nyawa istri ku."
"Baik, apa ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"
"Uruslah perusahaan, mungkin untuk beberapa hari ke depan aku tak akan masuk dulu." Aditya terus saja menatap lekat Ziana dengan tangannya yang terus menggenggam erat tangan Ziana bahkan ia tak merasa canggung untuk memperlihatkan kepada orang lain betapa ia menyayangi istrinya.
Anda sudah jauh banyak berubah Tuan lebih terlihat seperti orang normal yang punya hati, dulu untuk melihat anda tersenyum saja itu hal yang mustahil.
"Baik Tuan kalau begitu saya permisi untuk kembali ke perusahaan." Ucap Angga dengan membungkukkn badannya kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan, Aditya hanya mengangguk sebagai jawaban.