In Memories

In Memories
part 25



Suasana alam yang begitu damai dan alami menjadikan udara terasa sejuk bahkan dingin sampai menusuk kulit. Cuaca seperti ini tidak bisa di dapat di kota besar yang sudah banyak polusi nya.


Rombongan sekolah SMA merdeka baru saja tiba setelah menempuh perjalan yang memakan waktu. Bus yang terparkir rapih berjejer sedangkan para siswa menurunkan barang bawaan nya masing - masing.


"Akhirnya kita sampai juga." ucap Luki yang baru turun dari dalam bus.


"Iya akhirnya refreshing juga ini otak." sahut Dimas.


"Udaranya sejuk ya jauh banget sama udara di kota." Darma ikut menimpali.


"Tapi lebih enak tidur di rumah." Zian yang tak terlalu bersemangat dengan acara camping berlalu meninggalkan teman-temannya dengan berjalan mengikuti rombongan yang lain untuk segera mendirikan tenda agar ia bisa beristirahat lagi.


"Si Ziqn hoby banget tidur tuh anak." Dimas menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Gue juga heran dia hoby nya tidur tapi tiap pelajaran dia bisa kuasai, nah kita yang mati-matian belajar tetep aja bego." ujar Luki dengan ikut berjalan mengikuti Zian dari belakang.


Mereka satu kelas dan satu regu, sehingga mereka bisa satu tenda. Tenda yang akan di pasang mulai di gelar di bawah tanah dan satu persatu tiang penyangga juga tali mulai di tarik agar tenda cepat berdiri.


Menjelang sore semua tenda sudah terpasang, dan siswa bisa untuk beristirahat sampai nanti jam 8 malam akan ada kegiatan yang mewajibkan mereka untuk mengikutinya.


"Zian mana?" tanya Frida yang datang menghampiri tenda Zian.


"Tidur dia tuh." Luki menjawab dengan menunjuk menggunakan dagu nya.


"Oh ya udah biarin aja mungkin dia capek ntar gue balik lagi aja." Frida pun berlalu pergi meninggalkan tenda Zian.


Tadinya ia sudah hampir menyerah untuk mengejar cinta nya tapi ia yakin suatu saat Zian pasti luluh pada nya. Setidaknya ia akan berhenti jika hatinya sudah lelah dan mencapai titik jenuhnya menghadapi Zian.


"Kasian ya tuh cewek, si Zian tega banget nggak kasian apa anak orang di siksa terus hati nya." ucap Dimas dengan terus menatap kepergian Frida.


"Ah namanya soal perasaan emang susah bro apalagi harus di paksakan, nggak akan bisa." sahut Darma.


"Eh yang lagi di omongin malah anteng mimpi dia." ujar Luki.


Mereka bertiga sontak menengok ke arah Zian yang sedang tertidur lelap. Membuat mereka serempak ikut masuk ke dalam tenda untuk ikut tidur bersama karena lelah seharian dalam perjalanan juga setelah mendirikan tenda.


***


Di dalam kamar Ziana menarik nafas panjang mengingat akan ungkapan hati nya pada Aditya, ini baru pertama kali baginya tapi entah kenapa ada dorongan yang tak biasa dalam hati nya untuk harus mengatakan secepatnya tentang perasaannya. Entah mengapa ia merasa sangat takut kehilangan seorang Aditya padahal dulu terhadap cinta pertama nya saja ia menyerah.


"Aku harap kamu bisa mempertimbangkan dengan baik hati ku Ditya, aku ingin selalu ada di samping mu. Entah mengapa hati ini tak bisa untuk diam menunggu mu, tapi aku ingin untuk menggapai tangan mu dan melangkah bersama mu."gumam Ziana


Ia melihat foto Aditya di galeri hp nya, foto yang ia dapat dengan berbagai foto candid karena orang yang menjadi objek foto tak mengetahui jika ia di foto olehnya. Tak lama kemudian ia pun terlelap dalam tidur nya.


Di dalam mobil Aditya tak berhenti mengingat ucapan Ziana tentang ungkapan perasaannya, ia terus menggelengkan kepala nya agar tak selalu mengingat hal yang tak harus ia ingat.


"Aku pikir kau berbeda tapi ternyata sama saja." guman Aditya.


Mobil Aditya telah terpakir manis di sebuah mansion keluarga Abraham. Sebuah mansion besar yang hanya di tinggali oleh Bara dan para pelayan, karena orang tua nya tinggal di kota yang berbeda.ia lalu turun dengan pakaian casualnya yang membuat tubuhnya yang tinggi bak model menjadikan nya semakin sempurna.


"Hallo bro, apa kabar?" Bara Abraham pun menyapanya dari dalam mansion.


"Baik." jawab nya.


Mereka pun berjalan ke dalam mansion. Bara Abraham adalah anak seorang pengusaha sukses rekan bisnis Daddy Gamma, mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sehingga tak pernah ada rahasia apapun yang di sembunyikan antara mereka berdua.


Bara adalah seorang dokter ahli bedah, ia tidak meneruskan bisnis orang tuanya. Karena memang dari dulu impian nya menjadi seorang dokter. Padahal orang tua nya sangat berharap ia bisa meneruskan bisnis mereka.


"Lama tak bertemu ya, ada angin apa yang membawa seorang pebisnis sukses yang sibuk ini hingga datang ke mansion ku?" ucap Bara yang duduk di sofa dengan menyilangkan kaki nya.


"Aku hanya sedang bosan." ucap nya yang duduk berhadapan dengan Bara.


"Ayolah Ditya, aku tau kenal kau bukan hanya sebentar. Kali ini apa masalah mu? apa Mommy?"


"Hmmm aku sudah pusing mengikuti semua mau nya Mom."


"Apa tentang pernikahan lagi pasti ada yang lain, biasanya kau tak pernah sefrustasi ini?" Bara menatap lekat wajah Aditya yang terlihat kusut.


"Tidak ada, hanya itu." Aditya tak mengatakan yang sebenarnya, ia belum siap untuk itu.


"Baik lah kalau kau belum mau bercerita, jika hanya tentang Mom Irene abaikan saja seperti biasa."


"Aku pun pusing terus saja di tanya soal pernikahan, makanya aku tak pernah menemui mereka." Bara yang mengalami hal yang sama dengan Aditya mengingat kembali apa yang selalu di bicarakan orang tuanya jika mereka bertemu.


"Sudah lah lebih baik kita ke lantai atas nge gym dari pusing memikirkannya." Bara pun berdiri untuk ke lantai atas tempat gym pribadi miliknya dengan di ikuti oleh Aditya.


"Apa kau tau kenapa wanita bisa secepatnya mengungkapkan perasaan pada pria dengan tak tau malu?" tanya Aditya.


"Ada tiga kemungkinan menurutku dia benar mencintai pria itu, atau dia hanya ingin mengetahui apa pesonanya akan bisa menaklukan pria itu, atau bisa juga ada maksud terselubung misal karena kekayaan." ucap Bara dengan mengedikkan bahu nya.


"Hmm aku pun berpikiran yang sama." Aditya mengangguk menyetujui.


"Gadis mana?" tanya Bara dengan menatap lekat ekspresi wajah aditya.


"Tidak ada, aku hanya bertanya." Aditya membuang muka dengan kembali mengangkat beban untuk membentuk ototnya.


"Baiklah kalau belum mau terus terang, semoga gadis ini bisa menaklukan hati mu." Bara tersenyum menggelengkan kepalanya.


Gadis mana yang bisa menaklukan manusia es seperti dia, sungguh wanita yang tangguh bisa tahan dengan sifatnya yang dingin. Hebatnya dia bisa membuatnya sefrustasi ini.


Bara yang hangat dan peka sangat tau apa yang sedang di alami sahabatnya itu, akan tetapi dia tak pernah mau untuk memaksa Aditya jika dia sendiri belum mau berterus terang.