
Pagi harinya ruangan Ziana sudah di penuhi oleh keluarga nya yang datang pagi sekali, karena tadi malam saat Bu Rina akan menjenguknya Aditya melarang bukan saja sudah terlalu malam tapi saat itu juga Ziana tengah beristirahat. Maka pagi ini semua anggota keluarga nya ikut ke rumah sakit tak terkecuali Zian, karena ini merupakan waktu libur.
"Anak Ibu tersayang kenapa bisa sampai seperti ini?" Ibu langsung berhambur memeluk Ziana begitu pintu kamar terbuka, meskipun mereka lebih sering berdebat di banding akur dan berpelukan seperti sekarang tapi nyatanya itu hanya candaan sayang antara Ibu dan Anak. Tetap saja yang sebenarnya itu mereka saling menyayangi satu sama lainnya.
"Nggak apa - apa kok Bu, namanya musibah kita nggak ada yang tau." ucap Ziana dengan senyum di bibirnya.
"Tapi benar tidak ada luka serius kan nak?" tanya Pak Risman yang juga sama khawatirnya melihat Ziana.
"Tidak ada kok Pak, maafkan saya lalai menjaga istri saya." ucap Aditya yang tengah berada di samping Ziana.
"Ini bukan salah suami ku kok, aku sendiri yang pergi tanpa memberitahunya untuk pergi ke perusahaan tapi ternyata." lirih Ziana ia masih selalu terbayang tabrakan yang menimpa dirinya itu.
"Sudah tidak apa - apa namanya juga musibah, yang penting kamu selamat dan tidak ada luka serius." ucap Pak Risman menengahi.
"Makanya kalau mau pergi kemana pun izin suami dulu." sahut Bu Rina.
"Bikin surprise ceritanya malah semua orang di bikin kaget beneran ini." Zian ikut menimpali.
"Nak Aditya jika besok akan bekerja nggak apa - apa biar Ibu yang jaga Zi di sini."
"Tidak apa - apa Bu, saya tidak akan masuk kerja selama istri saya belum pulih masalah kerjaan bisa saya handle langsung dari sini." ucap Aditya memberi penjelaan kepada kedua mertua nya.
"Ya ampun Ibu jadi terharu melihat cara mu memperlakukan putri Ibu, Zi dengarkan selalu ucapan suami mu jangan membantahnya itu dosa."
"Iya Bu." Ucap Ziana patuh.
Setelah hari menjelang siang Bapak, Ibu dan juga Zian pun pamit untuk pulang karena Aditya bersikeras akan menjaga Ziana dan tak akan meninggalkan ruang rawatnya, padahal Ibu menyarankan agar dirinya pulang untuk istirahat dulu di appartemen agar Aditya tak terlalu cape tetapi Aditya menolaknya.
Hati orang tua mana yang tak bahagia melihat anak yang dulu mereka jaga dan rawat dengan sepenuh hati kini mendapatkan pendamping hidup yang juga sangat menyayangi putrinya.
Setelah membulatkan tekadnya dan memantapkan hatinya akhirnya Ziana memberanikan diri ia ingin melihat keadaan Evan, laki - laki yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya. Ziana ingin melihat seberapa serius luka yang ada pada tubuh Evan dan juga ia ingin berterimakasih kepadanya.
"Suami ku aku ingin meminta satu permintaan, tapi kau jangan marah, ok?"
"Baiklah apa yang kau minta, hmm?"
Ziana menatap lekat manik mata Aditya yang kini tengah saling berhadapan dengan dirinya, dengan memasang wajah puppy eyes Ziana pun memberanikan dirinya.
"Apa boleh aku melihat keadaan Evan? aku hanya ingin menyampaikan rasa terimakasihku padanya." Ziana terus saja memperlihatkan wajah mengiba nya agar apa yang di minta nya kali ini bisa langsung di turuti oleh suaminya.
"Baiklah aku antar." ucap Aditya dengan berat hati ia pun mengizinkan Ziana menengok Evan meski pun di dalam hatinya sungguh demi apapun ia tak rela tapi ia tak bisa berbuat apa - apa.
"Ah terimakasih suami ku sayang."
Kemudian tanpa ia sadari Ziana mendaratkan ciumannya di pipi Aditya membuatnya seketika mengerjap.
"Apa begitu bahagia akan bertemu dengannya hingga kau mencium ku, hmm? Aditya berdiri dan mencubit pelan dagu Ziana yang tengah berbinar karena permintaannya ia turuti.
"Apa aku tak boleh mencium suamiku sendiri? baiklah lain kali aku tak akan melakukannya lagi jika kau curiga seperti itu." Kini Ziana pun mengerucutkan bibirnya, ia merajuk pada Aditya.
"Jangan seperti itu, maafkan aku. Aku akan menciummu seratus kali tiap hari jika kau tak pernah menciumku lagi."
"Aku pasti akan selalu mencium mu." Ziana pun tersenyum menatap wajah suaminya, ia bersyukur di cintai dengan begitu besarnya oleh pria yang juga sangat ia cintai.
"Ayo aku antar, tapi jangan lama ya. Kau harus banyak istrihat."
Aku tak ingin dia menatap mu dan mengaggumi mu, semakin lama dia melihat mu aku takut kau pun juga akan jatuh cinta padanya untuk yang ke dua kali nya.
Sebenarnya tanpa Ziana memberi tau, dirinya pun sudah tau jika dulu Ziana pernah begitu menyukai Evan. Aditya tau jika Evan adalah cinta pertama Ziana maka dari semua laki - laki yang menyukai Ziana dulu hanya Evan lah rival terbesarnya karena ia pernah menempati ruang hati Ziana.
"Pakai kursi roda ya?"
Ziana pun hanya mengangguk dan dengan segera Aditya pun menggendong Ziana dan mendudukkan nya di kursi roda. Setelah itu ia mendorong kursi roda ke luar ruangan untuk menuju ke kamar dimana Evan berada.
Kamar Evan hanya berjarak beberapa kamar dari ruangan Ziana, dan masih di lantai yang sama. Setelah sampai di depan ruang rawat Evan, dengan menekan handle pintu Aditya pun mendorong nya agar pintu terbuka.
Tampak Evan tengah bersandar di ranjang rumah sakit dan ia tengah menonton tv. Ia terkejut melihat kedatangan Aditya juga Ziana maka dengan cepat ia pun duduk menegakkan badannya.
"Hay gimana keadaan lo sekarang?" ucap Ziana saat Aditya mendorong kursi rodanya masuk ke dalam ruangan.
"Sudah jauh lebih baik, lo sendiri gimana apa ada luka serius?" tanya Evan dengan senyumnya yang mengembang, dan jangan lupakan ekspresi wajah Aditya saat ini ia terlihat seperti manekin hidup datar dan dingin.
"Ah syukurlah gue juga nggak apa - apa kok, nggak ada luka serius."
"Syukurlah, kenapa harus ke sini? lo belum sembuh banget kan." Evan berusaha tersenyum pada Aditya tapi ia tetap dengan ekapresi yang sama.
"Gue pengen ngucapin makasih banget udah nolongin gue, kalau nggak ada lo entah lah jadi gimana bentukan gue." Ziana pun tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
"Nggak perlu sampai gitu, kebetulan aja gue ada di sana jadi bisa nolong lo." Evan berusaha untuk tak terlihat seperti ia seorang pahlawan karena ada sosok laki - laki di samping Ziana yang akan merasa bersalah jika ia melakukannya.
"Terimakasih sudah menolong istri ku, benar jika tidak ada kau yang menolongnya entah bagaimana jadinya." Akhirnya Aditya pun membuka percakapannya setelah dari tadi ia hanya menyimak obrolan di antara keduanya.
"Iya sama - sama kita memang wajib menolong jika itu terlihat jelas di depan mata." ucap Evan.
Sesaat suasana hening mereka bertiga tenggelam dengan pemikiran masing - masing, tatapan Evan yang masih memperlihatkan cinta tulusnya pada Ziana dan itu tak luput dari penglihatan Aditya sedangkan Ziana menatap ke arah luar jendela.