
Setelah pergulatan panas di pagi hari ini, mereka pun bergegas untuk segera membersihkan diri sebelum memulai aktifitas mereka. Ziana dan Aditya membersihkan diri di tempat berbeda karena Ziana takut jika mereka ada di satu ruangan yang sama maka dapat di pastikan kegiatan panas itu akan kembali terulang dan tak akan ada habisnya.
Setelah keduanya siap untuk pergi beraktifitas, mereka pun melangkah pergi meninggalkan apartemennya saling berpegangan tangan dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibir mereka.
"Terima kasih pagi ini sweety kau sangat hot." Tangan Aditya mencubit manja dagu Ziana yang tengah tersipu malu karena mengingat tadi dirinya yang mengendalikan permainan dari awal sampai akhir. Ziana tak mau suaminya terlalu kelelahan.
"Sudah jangan di bahas aku malu."
"Tak perlu malu, aku menyukainya." Aditya pun mengedipkan matanya.
Ziana langsung melajukan mobilnya agar percakapan yang membuat dirinya tersipu malu kali ini segera berakhir, karena kini mereka sedang berada di dalam mobil. Sampai hari ini Aditya harus selalu mengalah karena ia masih di larang membawa mobil sendiri jika tak mau istrinya mengomel sepanjang hari.
"Jangan lupa nanti makan setelah sampai di kantor ya, tadi aku sudah menelpon Ob agar menyediakan menu sehat seperti biasanya untukmu." Ziana sesekali menengok ke arah Aditya yang tengah duduk di sampingnya.
"Baik tuan putri." Jawab Aditya dengan senyuman yang selalu membuat hati Ziana berbunga jika melihatnya.
Setelah beberapa saat berkendara mereka pun sampai di depan lobby perusahaan, sebelum Aditya turun untuk masuk ke dalam perusahaan ia pun mencium kening Ziana lembut.
"Jangan nakal di kampus nanti dan jika jam kuliahmu selesai segera temui aku."
"Siapp." Ziana membentuk gerakan seolah tengah hormat seperti tengah upacara bendera.
"Kau menggemaskan sweety." Aditya pun mengacak rambut Ziana pelan kemudian ia pun turun dari mobilnya untuk masuk ke dalam perusahaan Erlangga Corp.
Sementara itu Ziana pun melajukan mobilnya untuk menuju kampus tempatnya menimba ilmu saat ini.
***
Di saat bersamaan Lena yang juga sedang dalam perjalanan menuju kampusnya, ia yang sedang mengemudikan mobilnya dengan memutar lagu cinta yang tengah menggema di dalam mobil. Hatinya yang kini seperti di penuhi ribuan kupu - kupu membuatnya selalu tersenyum meski di depannya terjadi kemacetan yang lumayan panjang. Jika biasanya ia akan mengumpat dengan kata - kata kasar tetapi kali ini otaknya sedikit bergeser beberapa derajat, ia hanya tersenyum dan ikut mendendangkan lagu cinta yang di putarnya.
Drrrttt..Drttttt
ponselnya berbunyi dan ia pun dengan segera mengangkat panggilan yang ternyata dari orang yang telah memenuhi rongga hati dan pikirannya.
"Hallo, kenapa?" Lena berusaha bersikap biasa saja agar tak terkesan terlalu bahagia mendapat telpon dari Bara.
"Kau sedang apa?"
"Menyetir." Nada yang ia ucapkan terkesan biasa saja tapi di balik telpon ia tengah kegirangan gestur tubuh dan wajahnya yang seolah mendapatkan kupon undian berhadiah tak dapat ia sembunyikan.
"Apa kau tak senang aku menelponmu?"
"Biasa saja."
"Tapi kenapa ucapanmu berbanding terbalik dengan ekspresi wajahmu?" tanya Bara di sebrang sana.
"Apa maksudmu? kau dimana?" Lena tampak berusaha mencari Bara yang sepertinya tau akan keberadaan dirinya.
"Kau.." Lena tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Nanti ku hubungi lagi ya, aku ingin sambutan hangat dari kekasihku." Panggilan pun di akhiri sebelah pihak oleh Bara, kemacetan pun mulai terurai dan laju kendaraan pun mulai kondusif seperti biasanya.
"Oh Tuhan kenapa gue selalu kena malu jika berhubungan dengannya, astaga kemana akal sehat gue. Jatuh sudah harga diri gue, arggghhhhh." Lena memukul stir mobilnya berteriak kesal bercampur malu akan kelakuannya tadi.
Ia pun melajukan kembali mobilnya agar segera sampai kampus, Lena tak peduli dengan mobil Bara yang sesekali membunyikan klakson padanya. Ia terlalu malu jika harus bertatapan langsung dengan Bara, saat ini sepertinya ia ingin pergi ke kutub utara menghilang seketika dari hadapan kekasih rasa tunangan yang baru saja mereka resmikan.
Sedangkan Bara hanya tersenyum melihat kelakuan Lena, sekarang membuat Lena kesal dan salah tingkah di depannya merupakan kesenangan tersendiri baginya. Bara melihat sisi manis yang membuatnya semakin tak bisa melupakan gadis aneh yang dulu sangat ia hindari.
"Ternyata kau begitu cantik apalagi jika melihatmu salah tingkah seperti ini, menggemaskan." gumam Bara yang kini sedang mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat ia bekerja.
Selang beberapa menit kemudian Lena sampai di parkiran kampusnya bertepatan dengan mobil Ziana yang juga baru sampai.
"Kenapa muka lo?" tanya Ziana yang masih melihat rona merah di wajah sahabatnya.
"Salah skincare kayanya." Wajahnya yang memerah terlalu lama karena rasa malu yang selalu ia bayangkan dan kemudian ia sesali dan begitu seterusnya hingga sampai di kampus.
"Nggak percaya gue, paling juga karena lo lagi kasmaran jadi di otak lo itu hanya ada babang Bara terus. Awas lo jangan omes dosa tau belum halal." ucap Ziana dengan menggamit tangan Lena agar melangkah bersama sampai ke dalam kampus.
"Lo yang udah mesum noh, malah gue yang di tuduh." Lena menunjuk bekas kepemilikan di leher Ziana yang belum tertutup sepenuhnya oleh foundation.
"Emang masih keliatan ya?" Ziana yang panik dengan segera mengambil kaca di tas dan ia pun mengarahkan ke lehernya.
Lena pun tertawa terbahak - bahak padahal ia hanya asal bicara tapi ternyata tebakannya benar adanya. Sedangkan Ziana yang merasa di jebak oleh ucapannya memukul lengan Lena dan mengumpatnya.
"Aduh sakit monyong, lagian lo laki lagi sakit tetep aja lo garap. Kasian tau, lo jadi bini nggak sabaran amat sih." Lena mengusap tangannya yang terkena pukulan Ziana
"Mulut lo minta di lakban kali ya, laki gue yang minta masa gue tolak, dosa hukumnya."
"Halah lo nya juga menikmati kan Mun?"
"Ya gimana enak sih." Ziana menutup mulutnya yang berbicara tanpa filter itu.
"Ciee yang udah mesum, ketagihan nih ya."
"Diem lo!! Awas ya malam pertama lo ntar gue ganggu lo sampai nggak bisa unboxing." Ziana seolah mengancam sahabatnya yang sedari tadi terus meledeknya karena kegiatan ra*jangnya.
"Jangan dong ngeri amat ancaman lo, gue juga pengen ngerasain gimana rasanya di unboxing dia."
"Udah ah kenapa jadi ngomongin adegan plus - plus sih, kedengeran orang ntar." Ziana menarik paksa Lena agar berjalan mengikutinya.
Terkadang dalam benaknya Ziana tak tau apakah masih bisa ia melanjutkan cita - citanya untuk nanti ke depannya, karena kini prioritasnya hanya satu menyembuhkan Aditya dan hidup bersama dengannya dan anak - anak mereka kelak. Fokus hidupnya sudah berganti tidak untuk dirinya sendiri melainkan keluarga kecilnya.