
Siang ini cuaca begitu terik tapi terkadang saat panas yang begitu menyengat tubuh, cuaca berubah mendung dan turunlah hujan yang begitu deras, cuaca yang sulit untuk di tebak membuat sebagian orang harus bersiap untuk sedia payung sebelum hujan.
Ziana yang siang ini mempunyai janji dengan calon suaminya, Aditya untuk fitting baju pengantin yang hanya tinggal menghitung minggu untuk melangsungkan acara sakral bagi keduanya untuk bisa bersama dalam menjalani pernikahan yang mereka impikan.
Aditya baru saja sampai di depan gedung kampus Ziana, dan dengan mengeluarkan benda pipih di dalam saku celananya, ia pun menghubungi Ziana.
Tutt..Tuuttt
"Hallo, udah selesai?"
"Udah, ini aku mau jalan ke depan. Kak Ditya udah sampai?" tanya Ziana
"Udah, aku tunggu di depan." ia pun memutus panggilannya dan menunggu Ziana yang tengah berjalan untuk menghampirinya.
Ceklek..
Ziana pun masuk lalu ia duduk di kursi penumpang dan dengan senyum dari bibir Ziana melihat penampilan Aditya yang selalu terlihat memukau baginya jika ia tengah memakai pakaian kerjanya.
"Gimana udah siap?" tanya Aditya dengan tangan yang masih tetap berada pada pada stir mobilnya.
Ziana hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban darinya. Dengan segera mobil pun melaju meninggalkan kampus Ziana menuju boutieq langganan Mommynya itu.
"Tadi malam Mommy telpon, katanya semuanya udah di urus kita hanya tinggal melihat setuju atau tidak dan kalau ada yang kurang biar Mom yang urus." ucap Aditya di tengah perjalanannya menuju butik.
"Ya ampun Mommy sebaik itu sama kita, aku jadi nggak enak ngerepotin Mommy." ucap Ziana lirih.
"Mommy nggak ngerasa di repotin malah ia paling antusias mendengar kita akan segera menikah, Mommy siang malam selalu menelpon ku menanyakan apa saja yang kurang." Aditya tersenyum tipis mengingat kelakuan Mommy Irene setelah tau Aditya akan menikah.
"Iya aku pun kadang selalu di telpon oleh Mommy untuk menanyakan apa yang ku mau saat hari pernikahan kita nanti." Tak terasa sudut mata Ziana berair.
"Hey kau kenapa, hmm? apa perkataan ku ada yang salah?" tanya Aditya dengan menggenggam sebelah tangan Ziana.
"Aku hanya terharu ternyata calon mertua ku baik sekali, Mommy sangat perhatian pada ku."
"Oh aku pikir apa, itulah Mom dan Dad ku, yang nantinya akan menjadi orang tua mu juga jadi tak usah sungkan, santai saja." Aditya pun mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di butik yang mereka tuju.
Begitu sampai di depan parkiran butik mereka pun segera turun untuk memasuki butik yang telah di rekomendasikan oleh Mommy Irene, dan segera di sambut oleh pramuniga.
"Selamat siang Tuan Aditya dan Nona Ziana, mari silahkan kami tunjukkan koleksi terbaru kami." ucapnya dengan membukukkan badannya memberi penghormatan kepada tamu special mereka.
"Terima kasih." jawab Ziana dengan tersenyum.
"Hallo Tuan Aditya dan Nona Ziana, senang bertemu dengan kalian, saya Grace pemilik butik sekaligus teman Mommynya Aditya." sapa nya dengan mengulurkan tangannya menyalami Aditya juga Ziana.
"Hallo Tante apa kabar?" sapa Aditya dengan senyum tipis dari bibirnya.
"Ah baik, ayo sebelah sini tante perlihatkan koleksi baju pengantin terbaru musim ini, semoga suka." Tante pun memperlihatkan gaun pengantin yang berada tepat di bawah lampu sorot.
Gaun indah yang menjuntai dengan sangat cantiknya, meskipun Ziana tak mengerti dengan jenis kain tetapi ia bisa merasakan bahannya yang lembut dari serat kain yang ia rasakan saat tangannya menyentuh baju pengantin tersebut.
"Bagaimana?apakah anda menyukainya Nona?" tanya Tante Grace yang melihat Ziana tengah menyentuh gaun itu dengan senyum yang terukir dari bibir nya.
"Ah aku sangat menyukainya Tante, ini sangat indah." jawabnya.
"Mau di coba sekarang?"
"Tentu."
Lalu dengan segera tirai penutup pun di buka, tampak Ziana yang tengah berdiri dengan sangat cantik meski tanpa riasan tebal. Aditya yang tengah berdiri dengan menggunakan tuxedo untuk pernikahannya nanti, dengan segera mendongakkan kepalanya untuk melihat calon istrinya itu menggunakan baju pengantin.
"Kau sangat cantik, aku sangat menyukainya." dengan mata yang tak berkedip sedikitpun ia terus melihat Ziana.
"Kau juga sangat tampan." Ziana yang sama terpukau nya melihat penampilan calon suaminya yang begitu tampan menggunakan tuxedo.
"Kalian ini pasangan yang begitu serasi, Tuhan begitu bermurah hati pada kalian memberikan rupa yang begitu menawan hati, yang satu cantik dan yang satunya tampan." puji Tante Grace yang begitu menyukai kedua klien nya itu.
"Ah Tante bisa saja, terimakasih atas pujiannya." Ziana tersenyum menanggapi ucapannya.
"Baiklah kita ambil yang ini."Ucap Aditya.
Setelah sekalian melihat gaun kebaya untuk acara akad nya, mereka pun berpamitan untuk pergi.
"Kita kemana lagi Kak?" tanya Ziana saat mereka tengah berada di dalam mobil.
"Ke toko perhiasan." Aditya pun melajukan mobilnya agar segera sampai di toko perhiasan yang merupakan miliknya.
Sesampainya di toko perhiasan yang masih merupakan milik dari Erlangga Corp, mereka melangkah memasuki toko tersebut.
"Selamat siang Tuan Aditya." Para pramuniaga yang tengah berbaris untuk menyambut kedatangan dari sang pemilik kerajaan bisnis Erlangga Corp.
"Hmm, keluarkan desain terbaru dan paling exlusive sekarang." Aditya duduk di ruangan khusus di toko itu, biasanya Mommy Irene yang sering datang untuk memeriksa semua desain perhiasan secara berkala.
"Kau pasti bingung kan? ini merupakan salah satu toko milik Eralngga Corp jadi sudah pasti mereka mengenal ku." ucap Aditya yang mengerti dengan apa yang di pikirkan Ziana.
"Oh begitu." ucap Ziana menganggukkan kepalanya.
Kini mereka tengah duduk berdampingan untuk melihat semua koleksi terbaru yang di bawa oleh para pramuniaga.
"Pilihlah semua yang kau suka."
Ziana tampak bingung melihat koleksi berlian yang sangat indah tertata rapi di depan nya, perhiasan yang sangat berkilau cantik nampak begitu menggoda setiap pasang mata yang melihatnya.
Apalagi ini adalah kali pertama Ziana memilih berlian, ia tak begitu mengerti yang ia tau hanyalah ia menyukai bentuk nya saja maka itu lah yang ia pilih.
"Mana yang kau suka?" tanya Aditya melihat Ziana yang nampak kebingungan untuk menentukan pilihannya.
"Aku bingung." Ziana tersenyum canggung melihat Aditya.
"Tinggal pilih saja berapa pun yang kau suka, nanti biar pegawai ku yang mengurusnya."
"Jangan terlalu banyak." ucap Ziana.
"Aku pilih yang ini saja."
"Baik Nona." ucap pramuniga bername tage Vena.
"Aku pilih yang ini, ini dan ini." Aditya dengan telunjuknya memilihkan beberapa perhiasan untuk ia bawa.
"Kak Ditya mau jualan nanti di pesta pernikahan kita?" ucap Ziana yang terkejut dengan pilihan Aditya.
"