In Memories

In Memories
part 24



"Eh katanya Mom nanyain aku?" Ziana bertanya dengan menatap wajah Mom Irene.


Mom iren yang mulai mengerti tingkah putranya yang seolah salah tingkah menyadari jika itu adalah ulah putranya, mulai tersenyum menatap Ziana.


"Iya Mom kangen kamu, tadinya Mom pengen ngajak kamu nobar tapi mending kita masak aja yuk sebentar lagi waktunya makan siang."


"Baiklah Mom tapi aku hanya membantu ya Mom, soalnya aku nggak terlalu pandai memasak." Ziana tersenyum canggung dengan menyelipkan rambutnya.


"Beress." ucap Mom Irene.


Mereka pun berjalan ke dalam rumah, Aditya langsung pergi ke lantai atas untuk ke kamar nya sedangkan Ziana mengikuti Mom Irene ke dapur untuk mulai memasak.


Di rumah gue cuma bisa masak telor dan mie instan, pernah sekali bikin capcay bentukan nya udah kayak sampah berenang!!nkalau pun bantu ibu paling cuci sayur doang. Nah kan sekarang gue kayak anak ayam yang di tinggal induknya bingung nggak ngerti apa-apa??


"Sayang kenapa kok melamun?" Mom Irene menyentuh bahu Ziana dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.


"Nggak Mom aku cuma bingung mulai dari mana dulu bantuinnya."


"Ah semua udah di siapin sama pelayan kok kita cuma tinggal liatin aja, Mom juga nggak bisa masak dan ternyata kita sama." Mom Irene tertawa tanpa beban.


"Eh gitu ya Mim." Ziana yang kaget mendengar ucapan dari Mom Irene merasa sangat beruntung setidaknya tak hanya dirinya yang tidak bisa masak, padahal kalau di rumah ibunya akan terus mengomel sepanjang hari karena punya anak gadis yang tak pernah mau untuk belajar memasak.


"Mom cuma ngajak kamu ke sini untuk bertanya beberapa hal pada mu sayang."


"Apa ya Mom?


"Sini duduk dulu di sini biar enak ngobrolnya." Mom Irene melangkah menuju tempat duduk di dekat dapur, Ziana pun ikut mengikutinya.


"Jawab dengan jujur apa kamu benar menyukai Ditmtya? karena Mom tau yang sebenarnya sayang."


"Maaf Mom aku nggak maksud untuk membohongi Nom." ucap Ziana dengan kepala yang menunduk dan merem*s ujung gaun nya.


"Tidak sayang Mom mengerti hanya satu pertanyaan Mom apa kamu menyukai Ditya?" Mom Irene menyakan hal yang sama untuk ke dua kalinya dan berharap jawaban nya sesuai dengan harapan nya.


"Sebenarnya aku....aku sangat menyukai Kak Ditya Mom hanya saja sepertinya cinta ku bertepuk sebelah tangan." lirih Ziana


Anak itu memang benar-benar, sudah jelas sekali terlihat jika dia juga punya perasaan yang sama, ia terlalu menjunjung tinggi harga dirinya bahkan untuk mengakui perasaan nya sendiri.


Lihat saja nanti.


"Tenang saja sayang Mom pasti akan membantu mu, yang terpenting sekarang kamu harus terus berjuang jangan menyerah, Mim yakin nanti ada saatnya ia yang akan balik mengejar mu. Percaya pada mlMom." Mom Irene memberikan semangat dengan menggenggam kedua tangan Ziana.


"Benarkah Mom?tapi..." Ziana yang tadinya berbinar mendengar apa yang Mom Irene katakan padanya, menjadi lemas seperti tak punya tenaga. Ia cukup tau diri siapa dirinya dan berasal dari keluarga mana tak sebanding dengan keluara Erlangga sangat jauh.


"Tidak Mom sepertinya aku memang harus mundur." Ziana menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk.


"Kenapa sayang?" Mom Irene mengerutkan keningnya.


"Aku cukup tau diri Mom, tidak sepantasnya aku mempunyai mimpi yang begitu tinggi. Aku memang tak menyerah Mom tapi aku cukup tau diri siapa aku dan keluarga ku."bucap Ziana lirih.


"Ya ampun Mom pikir soal apa,, hey liat Mom sayang apa Mom seperti itu, kamu pikir Mom tidak tau siapa kamu??" Mom Irene mengakatkan dagu Ziana untuk dapat bersitatap dengannya.


"Maksud mmNom?" kini giliran Ziana yang mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Sebelum kamu ke mansion, Mom sudah tau semua tentang kamu,semuanya. Dan kamu tau sayang Mom sangat menyukai mu, ingat jangan pernah berkecil hati keluarga kita tak pernah membedakan status sosial."


"Apa itu artinya aku masih boleh berharap Mom?" tanya Ziana.


"Baik mom." Ziana tersenyum mengangguk.


Tak berselang lama semua makan sudah siap dan tersaji di meja makan, pelayan pun sudah memanggil Aditya untuk turun dan makan siang bersama sedangkan Dad Gamma memang sedang tidak ada di rumah.


"Makan yang banyak sayang, besok kan masih hari libur apa besok kamu ada waktu?" Mom Irene bertanya pada Ziana di sela makan siangnya.


"Sebenarnya besok aku ada reuni sekolah Mom, ada apa ya Mom?"


"Ah tidak kalau begitu lain waktu saja."


"Ditya kenapa kamu?" tanya Mom Irene melihat perubahan di raut wajah putranya.


"Tidak Mom." Ditya hanya menjawab singkat dan melanjutkan makan siangnya.


Setelah makan dan berbincang Ziana dan Ditya pamit untuk pulang.


Di dalam mobil yang selalu hening setiap dalam perjalanan hingga membuat suasana menjadi canggung.


"Ehm Kak Ditya tipe cewek seperti apa yang Kakak suka?" Ziana memberanikan diri bertanya.


"Tidak ada kriteria."bjawab Aditya dengan tetap fokus mengemudi.


"Apa kalau tipe seperti ku bisa di perhitungkan untuk jadi kandidat?" Ziana mencoba tersenyum walau sebenarnya hati nya merasa tak karuan.


"Menurutmu?" Aditya balik bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Mana aku tau tapi kalau pun aku kurang cocok pasti aku akan berusaha untuk bisa menjadi kandidat utama."


"Apa kau sedang mengungkapkan perasaan mu?"


"Iya." Ziana mengangguk dan tersenyum simpul.


"Apa Kak Ditya akan mempertimbangkannya?"


Cih ternyata kau sama saja seperti wanita lainnya, berani mengungkapkan perasaan dengan mudahnya dan bisa ku pastikan kelakuan mu tak jauh berbeda dengan mereka.


"Lihat nanti." jawabnya pendek.


Ziana yang mendengar jawaban dari Aditya hanya mengangguk- anggukan kepalanya. Selang berapa menit setelah percakapan tersebut, sampailah mereka di depan rumah Ziana.


"Aku turun dulu ya Kak terima kasih pertimbangan nya, hati - hati di jalan." ucap Ziana berpamitan dan kemudian turun dari mobil.


Aditya hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya kembali.


"Aduhh Zian dimana urat malu mu itu? ah sudahlah yang peting ganjalan di hati ku sudah tidak ada, kecewa atau tidak itu urusan belakangan." Ziana pun melangkah menuju ke dalam rumah.


"Heh anak nakal dari mana kamu pulang pergi pakai baju yang berbeda, terus tadi ada yang nganterin motor juga. Kalau mau ada acara pulang dulu ke rumah jadi Ibu nggak khawatir." Bu Rina menjewer kuping Ziana gemas.


"Iya Bu maaf, tadi buru-buru lagian tadi itu nggak di rencanain ko." Ziana menjawab dengan memegang kupingnya yang panas setelah di jewer Ibunya.


"Ah sudah lah untung tadi yang datang ke sini menjelaskan dengan baik dan masuk akal jadi Ibu tak perlu merasa was-was lagi."


"Ya sudah Ziana ke kamar dulu Bu." Ia pun berjalan menuju kamarnya dan merebahkan diri di atas temat tidurnya.