In Memories

In Memories
part 9



Hari ini adalah weekend itu artinya hari bebas untuk melakukan sejumlah aktifitas untuk memanjakan diri. Saat ini Ziana tengah bersiap- siap untuk pergi ke gr*med*a, dan ke cafe tempat biasanya ia menghabiskan waktu. Jika biasanya ia akan pergi bersama sahabatnya Lena kali ini ia pergi sendiri.


"Bu aku pergi dulu ya" Ziana pamit setelah membantu ibunya dari pagi sekali, karena memang hari ini ia akan membeli buku.


Sementara Zian dari pagi hari sudah ikut berkeliling dengan Pak Risman untuk berjualan sayuran.


"Ya sudah hati - hati di jalan jangan pulang malam, dan ingat pulangnya beli martabak." ucap Bu Rinaa sambil terus berbenah membereskan laudryan.


"Oke siap, Zi pamit dulu ya Bu." Ziana mencium punggung tangan ibu nya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


***


Mall xxx


Ziana telah sampai di sebuat mall lalu ia pergi berjalan ke lantai 3 dimana di sana adalah pusatnya semua buku yang di jual dengan lengkap. Ziana pun berkeliling mencari buku incarannya.


Setelah mendapatkan buku incaran nya, Ziana pergi ke lantai atas. Ada sebuah cafe yang sangat nyaman untuk sekedar menikmati hari bebasnya kali ini.


Ziana mengedarkan pandangan nya mencari tempat duduk yang kosong dan pilihannya jatuh pada tempat duduk di sudut cafe. Dan tidak lama kemudian pelayan cafe pun datang menghampirinya


"Siang Mba mau pesan apa?


"Milk shake vanila sama spaghetti aja Mba." Ziana memilih pesanannya.


"Oke mba di tunggu sebentar." pelayan itu pun segera mencatat pesanan nya dan kemudian berlalu pergi.


***


Aditya baru memasuki mall xxx tempat ia di haruskan menemui kenalan yang di rekomendasikan Mommy nya. Ia melangkah menuju gedung paling atas, tempat cafe x berada.


Saat memasuki pintu cafe matanya berkeliling mencari wanita pilihan Mommy nya. Wanita berbaju merah menyala melambaikan tangannya menyadari kedatangan pria yang sangat ia tunggu.


Saat bersamaan Aditya melihat Ziana gadis berisik yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Tempat duduknya berjajaran dengan tempat duduk berbaju merah tersebut.


Dengan langkah pasti Aditya berjalan tapi bukan ke arah wanita berbaju merah tersebut, melainkan ke arah Ziana yang tengah asik membaca novel.


"Hay ketemu lagi." ucap Aditya dengan duduk di samping Ziana.


Ziana yang kaget dan tak menyangka akan bertemu pria dingin yang menurutnya patung es itu, ia mendongak dan hendak berbicara tapi Aditya malah berbisik di sebelah telinga Ziana.


"Ikuti permainan ku buat wanita itu pergi, jika tidak mau bayar baju yang sudah kamu tumpahkan dessert, dan itu seharga 30 juta. Harus di bayar hari ini juga."


Ini patung jarang ngomong sekalinya buka mulut isinya ancaman semua. Gila aja 30 juta uang dari mana gue? nyanyi pake goyang ngebor ampe pinggang gue patah juga nggak bakal bisa ke kumpul 30 juta sehari!!


"O..okee," jawab Ziana menyetujui


"Good girl." Aditya tersenyum mengangguk dan mengacak rambut Ziana.


"Ikut aku."


Mereka berdiri menghampiri wanita itu, ia sangat bingung melihat Aditya yang bukan menghampirinya malah menghampiri wanita lain.


"Hallo Nona seperti yang anda lihat saya ke sini untuk berkencan dengan kekasih saya, so terserah mau mengikuti kami berkencan atau pulang?" ucap Aditya dengan menggengam tangan Ziana erat.


"Hmmm.." Aditya mengangguk.


"Itu tidak mungkin." wanita itu menggeleng tidak percaya.


"Terserah." ucap Aditya berlalu pergi dari hadapannya dengan menggenggam erat tangan Ziana.


Dan wanita itu hanya diam membisu merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Laki- laki yang sangat ia kagumi dan dengan harapan yang besar ia merasa yakin kalau sebentar lagi aditya akan jatuh ke dalam pelukannya. Ia yakin dengan dukungan orang tuanya yang sudah menyetujui akan membuatnya dengan mudah menggengam seorang Aditya Erlangga yang sangat sulit untuk di raih.


Dari tadi Ziana bagai kerbau di cocok hidungnya menurut apapun yang di lakukan aditya. Membantah dia harus bayar, jadi ya mending cari aman saja pikirnya.


Setelah jauh dari cafe x, langkah mereka terhenti, Ziana menatap Aditya.


"Kak Ditya kita udah jauh ini, udahan sandiwaranya kan?" tanya Ziana


Aditya spontan melepaskan tangan Ziana. Ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ia berjalan dengan tangan yang terus menggenggam si gadis berisik yang menurutnya aneh.


"Aku nggak harus bayar kan Kak? besok kalau udah bersih pasti aku anterin baju Kak Ditya, ya?"Ziana berbicara meyakinkan.


"Terserah." Aditya hanya mengucapkan itu dan berlalu pergi dari hadapan Ziana.


Ih dasar manusia sombong, angkuh banget sih. Mana tiap ngomong nya irit banget lagi pengen banget gue bejek - bejek mukanya. Truk aja gandengan masa gue di lepas gitu aja. Sumpah ya kasian banget yang jadi istrinya ntar semoga nggak cepet mati muda karena kesal.


Setelah puas mengumpat, Ziana membalikkan badannya dan ia melihat seseorang melambaikan tangan dan tersenyum padanya.


"Zi lagi ngapain lo?" ternyata Dion laki- laki yang selalu menggoda Ziana dengan rayuan mautnya yang tak ada habisnya. Tetapi aneh ia seperti itu hanya pada Ziana seorang. Entah ia benar menyukainya atau tidak karena selama ini ia tak pernah mengatakan nya secara serius. Ia merupakan teman kampus Ziana, yang selalu bertengkar dengan Lena karena selalu mengganggu Ziana di dalam maupun di luar kampus. Tapi itu tak membuatnya mundur untuk terus menggoda Ziana.


"Gue abis beli buku." Ziana mengacungkan bukunya.


"Sendiri lo?" tanya Dion.


"Iya lah emang lo liat siapa lagi di sini ya cuma sama bayangan gue "sahut Ziana asal.


"Duh kasian my queen jalan sendirian, kenapa nggak ngajak gue? pasti gue selalu siap antar jaga kemana pun lo mau, meski ke bulan sekalipun." lanjut Dion dengan menaik turunkan alisnya.


"Lo kira suami siaga layanan masyarakat, siap antar jaga." Ziana mencibir.


"Udah ah gue mau pulang."


"Masa udah pulang aja sih baru juga ketemu, kencan dulu kita makan atau nonton dulu gitu." rayu Dion tak pantang menyerah.


"Ogah ah gue mau pulang udah dari tadi gue di sini."


"Ya udah kalau gitu gue anterin ya..ya.." pinta dion


"Ehm oke deh." Ziana menggangguk setuju.


Mereka pun berjalan menuju parkiran, dengan gombalan receh Dion yang tak ada habisnya membuat Zian yang sempat kesal menjadi sedikit terhibur. Dion selalu mampu menghibur hatinya, membuat Ziana tak pernah marah walaupun Dion selalu merecokinya. Ia selalu bisa mencairkan suasana itu adalah nilai plus bagi Dion untuknya.


"Benar mau langsung pulang?" tanya Dion


"Mmmm eh iya antar beli martabak dulu ya." Ziana mengingat pesan ibunya. Jika tidak di beli Zian malas mendengar ceramah ibunya yang panjang itu.


"Oke beres Tuan putri." jawab Dion.


Ziana pulang di antar dengan Dion menggunakan motornya. Mereka terus tertawa tanpa di sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan sorot mata yang tak terbaca.