
Tengah malam waktu yang sangat nyaman untuk bermimpi di bawah hangatnya selimut tebal, mengistirahatkan hati, pikiran dan jiwa yang telah lelah dengan aktifitas seharian yang menguras energi bagi sebagian besar orang pasti akan memilih hal yang sama. Tetapi tidak dengan Aditya ia kini tengah berada di dalam jet pribadinya bersiap terbang pulang ke tanah air, setelah Angga menyelesaikan semua permasalahan yang membuatnya harus terbang ke swiss.
"Apa semuanya sudah beres?" tanya Aditya yang kini tengah duduk dengan membuat gesture tangan di dagu nya.
"Sudah Tuan tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan, permasalahan semua nya sudah beres mereka yang terlibat telah di pecat dan sesuai dengan aturan biasa Tuan mereka akan menerima kehancuran mereka bersama dengan keluarganya." Ucap Angga.
"Bagus, siapapun yang berani mengusik ku akan hancur." Aditya mengepalkan tangannya dengan tatapannya yang tajam, ia teringat kembali dengan foto majalah Ziana bersama Evan.
"Apa yang ku tugaskan pada mu sudah ada laporannya?"
"Sudah, Ini Tuan." Angga menyerahkan tab nya yang berisi foto - foto Ziana selama beraktifitas kemarin. Setelah kejadian yang membuat traumanya kambuh, Aditya menyuruh anak buahnya untuk mengikuti kemana pun Ziana pergi dan melaporkan kepadanya.
"Good job." Aditya tampak tersenyum tipis melihat foto Ziana, ia memang sangat marah padanya tapi jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan kekasihnya itu.
"Maaf Tuan saat di Aura Kosmetik kita tidak bisa masuk sampai studio tapi Tuan tenang saja Nona hanya pemotretan sendiri tanpa adanya partner."
"Hmm.." Aditya mengangguk.
"Terus ikuti kemana pun dia pergi jangan sampai lengah, aku tidak mau kecolongan lagi."
"Baik Tuan."
Hampir 14 jam di dalam pesawat selama perjalanan berlangsung Aditya hanya tidur sebentar pikirannya selalu tertuju pada Ziana dadanya selalau bergemuruh menahan rasa marah dan kecewa akan sikap Ziana yang tak terbuka pada nya.
Setelah sampai di tanah air, Aditya langsung menuju kampus tempat Ziana berada tanpa ia menelpon Ziana terlebuh dahulu, karena anak buahnya yang selalu melaporkan dengan rinci setiap aktifitas Ziana. Dari kemarin Ziana selalu menelpon dan memberikannya pesan tapi tak satupun di balas Aditya.
Sesampainya di depan kampus Ziana tak ada seorang pun yang tak meliriknya, semua mata tertuju padanya. Aditya yang saat itu memakai kemeja dan juga outer cardigan berwarna navy di luarnya, celana chino juga sepatu sneakers putih dan tak lupa kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung.
"Wow siapa tuh ganteng banget ya ampun."
"Ya Tuhan mimpi apa gue semalam liat malaikat turun ke bumi di siang hari."
"Mau gue jadi selingkuhannya juga, nggak nahan gue." Begitu lah bunyi - bunyi dari suara barisan para jomblowati melihat pangeran dari titisan dewa yunani melewati mereka yang kini tengah menatap takjub seorang Aditya.
Aditya terus berjalan menuju kelas Ziana yang baru saja selesai. Tanpa canggung ia masuk ke dalam kelas yang sebagian dari mahasiswanya masih ada di dalam.
"Ikut aku." Ziana yang kaget dengan kedatangan Aditya pun hanya bisa menatapnya tanpa berkata apa pun, tangannya kini di tarik Aditya menuju keluar keluar kelas dan di sepanjang Aditya berjalan mereka terus menjadi sorotan para mahasiswa.
"Kak lepas dulu, malu banyak yang lihatin kita." Ziana berusaha melepaskan tangan Aditya dari tangannya namun Aditya malah makin mengeratkan tangannya dan ia terus berjalan tanpa mempedulikan tatapan mata yang tertuju pada nya.
Sesampainya di parkiran mereka pun masuk ke dalam mobil, Aditya tetap diam tak bersuara ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Ziana menutup matanya dan tangan nya memegang seat belt yang ia pakai.
"Kak Ditya turunkan kecepatannya, aku takut." Ziana menoleh ke arah Aditya, tapi yang di ajaknya bicara diam tak bereaksi apa pun. Ia terus menyetir mobil dan tatapan matanya hanya tertuju ke arah depan.
"Kak kenapa sih?" Ziana menggoyangkan tangan Aditya, ia mulai merasa ada sesuatu yang aneh dan baru menyadari jika tangan Aditya terluka di balut perban.
Aditya tetap diam tak beraksi apa pun hingga sampai lah mereka di danau yang biasa mereka singgahi. Aditya keluar dengan membanting pintu mobilnya, Ziana yang kaget dengan segera ikut turun menyusul Aditya.
"Kakak kenapa? apa aku punya salah padamu?" ucap Ziana.
"Menurutmu?" Aditya balik bertanya dan mengahadap Ziana tatapannya tajam dengan alis yang terangkat sebelah dan dagu yang di angkat juga tangan yang bersidekap di depan dada.
Degggg
Kenapa ini tak biasanya Kak Ditya bersikap seperti ini pada ku, apa dia tau soal foto majalah itu? ah bodohnya aku ini pasti ada kaitannya dengan hal itu.
"Aku.." Ziana belum sempat melanjutkan ucapan nya dan kemudian di potong oleh Aditya.
"Jangan menguji batas kesabaran ku." suara berat Aditya dengan menekankan kata - katanya.
"Maaf." Ziana pun membuka suaranya dengan kepala yang tertunduk.
"Jadi jika aku tak tau kau akan terus membohongi ku hah?" gejolak amarah yang terpendam kemarin kini mulai ia rasakan lagi setelah bertemu dengan Ziana.
"Aku tak bermaksud membohongi mu Kak, aku akan memberitahu Kak Ditya setelah pulang dari swiss nanti."
"Memberitahu ku, cihh..kenapa setelah sekian lama baru kau berpikir seperti itu?" Aditya menatap tajam gadis nya yang terlihat menahan tangis karena bentakan darinya.
"Aku takut Kak Ditya marah, karena aku tak bisa menolak akan berpasangan dengan siapa saat pemotretan itu terjadi Kak." Ziana meremas baju nya.
"Dan sekarang aku marah sangat marah karena aku tau bukan dari mulut mu sendiri." Aditya mengusap kasar rambutnya.
"Maaf Kak." Ziana mencoba menatap mata Aditya yang terlihat memerah menahan amarahnya.
"Aku tak suka jika apa yang menjadi milik ku di sentuh orang lain, sepertinya aku sudah terlalu lembut pada mu. Kau ingin tau seperti apa jika aku marah?"
"Tidak aku suka Kak Ditya yang lembut, maaf kan aku Kak itu di luar kuasa ku. Aku tak bisa menolaknya."
Aditya mengusap wajah Ziana perlahan dengan lembut ia terus mengusap pipinya semakin lama berubah cepat, bayangan kekasihnya saat melihat beberapa pose mesra nya dengan Evan. Membuat amarahnya yang tadi sempat surut menatap Ziana kini kembali membara.
"Dimana lagi dia menyentuh mu akan ku hapuskan semua jejak nya di tubuh mu." Aditya mencium semua bagian wajah Ziana hingga tangan Ziana.
"Kak apa yang kau lakukan."
"Aku tak akan membiarkan jejak pria mana pun ada di tubuh mu."
"Dan ini jangan sekalipun kau memberikan nya pada orang lain, kau akan tau akibatnya." Aditya menunjuk bibir Ziana kemudian ia mencium bibirnya yang sudah menjadi candu baginya, ia terus ********** dengan rasa yang tak menentu karena rasa marah dan rindu yang menyatu.