In Memories

In Memories
part 113



"Maaf Tuan untuk perkiraan itu saya tidak bisa memprediksi, itu semua tergantung kemauan dari pasien sendiri jika memang ada semangat untuk sembuh pasti bisa." Ucap dokter Fiko.


"Bisa sedikit lama dari perkiraan, aku tau walaupun bukan dokter." jawab Aditya dengan nada yang dingin.


"Ditya ayolah jangan seperti ini, kau harus berjuang untuk sembuh ingat ada Ziana yang menunggumu. Apa kau tak mau berjuang hidup untuknya?" Bara mencoba memprovikasi Aditya agar ia tak patah semangat untuk pengobatan lebih lanjut.


Bara sangat tau watak dari Aditya jika ia sudah punya keyakinan maka akan sulit bagi siapa pun untuk merubahnya dan hanya Ziana yang mampu mematahkan keyakinannya itu. Terlihat Aditya diam dengan wajah yang sendu, mengingat kembali tangisan Ziana saat kemarin hidungnya mengeluarkan darah betapa paniknya istrinya itu. Bagaimana jika istrinya tau penyakit yang saat ini di deritanya, sudah pasti akan menjadi pukulan berat baginya.


"Jangan pernah ada yang tau soal penyakitku, apalagi istri ku." ucap Aditya lagi dengan mendudukan badannya.


"Baiklah, tapi kau harus tetap kuat untuk melawan penyakit mu. Aku akan berusaha mencarikan pengobatan terbaik untuk mu." Ucap Bara dengan tatapan yang menyiratkan rasa simpati terhadap sahabatnya.


"Aku mau pulang, berikan saja obatnya dan jangan menahanku lebih lama di sini." Aditya menatap dokter Fiko yang masih berdiri di hadapannya. Dokter Fiko menatap ke arah Bara seolah meminta persetujuan dan Bara pun mengangguk agar ia menyetujuinya. Ia yakin saat ini adalah bagian terberat dalam hidup Aditya, maka dari itu ia hanya ingin bertemu dengan istrinya agar menjadi mood booster bagi dirinya.


"Baik Tuan setelah cairan infus habis anda bisa pulang dan nanti saya akan resepkan obat yang harus anda konsumsi. Dan saya harap jika ada keluhan lebih lanjut anda harus segera memeriksakan diri agar bisa di tangani dengan cepat." Tidak ada jawaban dari Aditya ia hanya diam membisu, pandangan matanya kosong.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Fiko dan perawat itu pun melangkah keluar dari ruangan.


"Ditya kau pasti sembuh ada banyak metode pengobatan yang bagus saat ini bahkan jika kau tak percaya dengan pengobatan di sini, aku akan mencari rumah sakit di luar negri agar kau bisa mendapatkan pengobatan yang lebih bagus." Bara yang tetap memberi semangat padaya, ia tak pernah melihat Aditya seperti ini. Aditya yang selalu bertindak dengan tegas dan selalu memandang semua masalahnya dengan mudah dan percaya diri.


"Sudahlah aku tak mau memikirkannya, saat ini aku hanya ingin pulang."


"Baiklah untuk saat ini aku akan membiarkan mu dengan keputusan mu, tapi jangan harap jika aku akan menyerah untuk mengobati mu. Jangan terlalu banyak berpikir itu akan membuat trauma mu kambuh, kau harus menjaga emosi mu."


"Angga jaga Tuan mu, aku harus pergi dulu." Bara tau jika saat ini Aditya pasti ingin menyendiri untuk menenangkan pikirannya.


"Baik dokter." Angga pun mengangguk dengan membungkukan badanya saat Bara meninggalkan ruangan Aditya.


"Kau pergilah aku ingin sendiri." ucap Aditya pada Angga.


"Tapi Tuan.." Belum selesai Angga bicara, Aditya langsung memotongnya.


"Nanti antar aku pulang."


" Baiklah Tuan aku akan menunggu di luar." Angga pun mengangguk dan segera melangkah keluar memberikan ruang untuk Tuan Aditya.


Setelah itu Aditya meraih ponselnya dari atas nakas, ia tau pasti istrinya khawatir karena sampai saat ini ia belum pulang dan tak memberi kabar. Benar saja saat ia membuka ponselnya ada banyak panggilan tak terjawab dan juga pesan yang masuk dari istrinya.


Dalam kesedihannya Aditya tersenyum betapa ia begitu di cintai oleh istrinya, melihat betapa khawatir Ziana pada dirinya. Aditya pun mendial nama perempuan yang begitu ia cintai itu.


"Hallo sweety, maaf baru memberi mu kabar." ucap Aditya begitu panggilan darinya di angkat oleh Ziana.


"Kau kemana saja suami ku? aku sangat mengkhawatirkan mu." terdengar isak tangis Ziana dari sebrang sana.


"Maafkan aku sweety, jangan menangis aku tidak apa - apa tadi ada rapat mendadak karena ada masalah yang mendesak dan aku lupa memberi kabar pada mu. Sebentar lagi aku pulang, maafkan aku ya." Aditya berusaha menutupi nada bicaranya agar terdengar seperti semuanya baik - baik saja. Padahal jauh di lubuk hatinya ia merasa hancur dengan kehidupannya kini, apalagi mendengar tangisan istri yang dulu ia janjikan hanya kebahagiaan yang akan melingkupinya jika hidup bersamanya.


"Baiklah aku akan menunggu mu, hati - hati di jalan jangan membuatku cemas lagi."


"Tunggu aku." Panggilan pun berakhir dengan bergetar di pandanginya foto mereka yang tengah tersenyum bahagia menjadi wallpaper di ponselnya.


"Bagaimana aku menghadapi mu nanti sweety? apa aku bisa memenuhi janjiku padamu." gumam Aditya kemudian ia mendekap ponsel di dadanya matanya menerawang jauh memikirkan kehidupannya ke depan nanti.


***


Ziana yang kini tengah menangis tersedu, ia tengah bingung karena dari tadi sore ponsel suaminya begitu sulit di hubungi. Ketika gelas pecah dan perasaan nya yang gelisah ia terus mencoba menghubungi Aditya, namun tetap saja tak ada jawaban.


Ia takut terjadi sesuatu pada suaminya, dan di tambah lagi dengan ponselnya yang juga sulit di hubungi membuat perasaannya semakin tak menentu. Saat tengah putus asa Ziana berpikir akan menyusul suaminya ke perusahaan tetapi kemudian ia urungkan karena percuma semua karyawan pasti sudah pulang karena waktu telah menunjukan jam pulang kantor. Dan ia juga tak tau nomor ponsel sekertaris Angga, ia tak tau siapa lagi yang harus ia hubungi untuk mencari tau keberadaan suaminya.


Karena terlalu lelah menangis ia pun tertidur, dan ketika bangun ada panggilan telpon dari suaminya. Betapa bahagianya Ziana seperti tengah memenangkan undian hatinya sangat lega mendengar jika suaminya baik - baik saja.


Setelah panggilan di tutup dengan segera ia pergi membersihkan diri, untuk menyambut kedatangan suaminya. Ziana tak mau terlihat berantakan saat Aditya datang nanti.


Tak berapa lama pintu appartemen pun di buka seseorang dari luar dan ia yakin itu adalah suaminya, dengan setengah berlari Ziana keluar kamar dan langsung tersenyum bahagia melihat Aditya berdiri di hadapannya. Ziana memeluk erat lelaki tampan yang tadi ia rindukan, entah kenapa ada perasaan yang sedikit mengganjal di hatinya.


Ya Tuhan ijinkan kami bersama lebih lama lagi, aku tak ingin berpisah dengannya, jangan biarkan senyum di bibirnya menjadi tangis kesedihan. Aku ingin selalu membuatnya tersenyum bahagia.


"Aku sangat merindukan mu, suami ku."


"Aku juga sangat merindukan mu, maafkan aku." Aditya mengelus lembut puncak kepala Ziana dan ia mengecupnya dengan perasan yang tak menentu mengingat ucapan dokter akan sakit yang ia alami.