In Memories

In Memories
part 115



"Lo kenapa Mun? badan lo nggak anget kok." tanya Lena yang melihat sahabatnya itu baru saja datang dan ia langsung memegang kening Ziana dengan punggung tangannya karena melihat Ziana yang tak henti tersenyum.


"Issh apaan sih lo, gue kan lagi happy jangan di ganggu Odah." ucap Ziana dengan memainkn bibirmya seolah mengejek sahabatnya itu.


"Iya tau deh yang lagi di baperin terus sama lakinya, lo doang gitu Mun yang bahagia." ucap Lena yang tak habis pikir dengan kelakuan Ziana sudah hampir setengah taun lebih menikah masih saja terlihat seperti pengantin baru.


Kadang ada sedikit rasa khawatir di hatinya mengingat hubungannya dengan dokter Bara apakah nanti jika ia menikah akan seperti Ziana, yang selalu terihat berseri setiap waktu karena perlakuan manis sang suami terhadapnya. Atau kah akan sebaliknya, padahal pernikahan adalah menyatukan ke dua insan yang berbeda kepala untuk bisa bersatu dalam satu pikiran, hati dan juga jiwanya serta raga pun akan selalu bersama baik suka maupun duka dan pasangan hidup kita lah yang akan menemani sampai tua nanti.


"Lo beruntung banget Mun di perlakukan bak seoorang putri setiap harinya, nah gue masih meraba akan hari esok. Nggak tau gimana ke depannya nasib gue." Lena menghela nafasnya panjang jika mengingat hubungannya dengan dokter Bara yang tak pernah ada perubahan bahkan setiap pertemuan pun selalu ada perdebatan di antara mereka.


"Makanya cepat buka hati lo, jangan ngegas terus kalau ketemu. Kalian itu aneh ya setiap ketemu debat terus, giliran nggak ada gini saling memikirkan." ucap Ziana dengan menatap reaksi Lena.


"Apaan saling memikirkan, ngaco lo." Lena menepuk kecil tangan Ziana.


"Itu yang lo tadi tiba - tiba omongin apaan Odah? bukannya secara nggak langsung lo itu lagi mikirin dokter Bara. Heran gue gengsi di gedein giliran di sosor soang betina, gue yakin lo nangis kejer pasti." Omel Ziana yang begitu ingin menyadarkan Lena akan sikapnya saat ini.


"Udah ah kalau gitu kita bahas topik lain aja nggak usah tuh orang juga, jadi rusak mood gue." Lena mengalihkan pembicaraan agar pembahasan nya tidak semakin mengerucut pada dokter yang selalu membuat mood nya naik turun.


"Yakin lo mau ganti topik? nggak mau denger gosip terbaru soal dia apaan?" Ziana mulai memancing Lena, ia yakin jika sahabatnya itu sedikit banyak sudah mulai tertarik pada tunangannya, hanya saja rasa ego di antara kedua nya menjadi penghalang untuk mereka bersatu.


"Nggak penting asli Mun."


"Kata suami gue semalam dia lagi telponan mesra banget bahkan laki gue aja sampai di anggurin."


"Masa sih, kurang asem emang tuh orang. Nggak inget status apa?" Ucap Lena dengan nada yang menggebu.


Melihat reaksi dari Lena membuat Ziana tertawa, dengan mengerutkan keningnya tak mengerti Lena menatap tajam pada Ziana. Kini ia mengerti jika ini hanya jebakan dari sahabatnya.


"Lo ngerjain gue ya, monyong lo ah."


"Iya sorry abis lo tuh susah banget sih ngaku nya."


"Udah ah males gue." Lena berpura - pura seolah ia kesal dengan Ziana. Tak lama getar ponsel dari tas Ziana bergetar dengan segera ia pun mengangkat panggilan dari suaminya.


"Hallo kau sudah sampai?" tanya Aditya dari seberang sana.


"Sudah, ini aku lagi ngobrol sama Lena, ada apa suami ku?"


"Tidak ada hanya memastikan jika kau telah sampai kelas dengan selamat, nanti jika sudah beres kabari. Aku akan menjemput mu."


"Baiklah, nanti aku kabari. Selamat bekerja suamiku sampai ketemu nanti." Dan panggilan pun berakhir.


Ziana hanya mengerutkan keningnya tak mengerti sejak pulang kemarin ia merasakan ada sikap yang tak biasa dari suaminya itu. Ia lebih manis dan semakin posesif terhadapnya, Ziana tak merasabterkekang dengan itu semua bahkan ia merasa bahagia dengan perlakuan suaminya.


***


Aditya baru sampai di gedung perusahaan tempatnya mencetak pundi rupiah bahkan kesejahteraan orang banyak berada di pundaknya. Maka ia harus tetap berdiri demi menyelamatkan ribuan karyawannya, itulah alasan lainnya selain Ziana dan orang tuanya untuk tetap bertahan dan melawan penyakitnya.


Ia terus berjalan dan menaiki lift khusus petinggi perusahaan, tatapannya kosong tak seperti biasanya. Begitu banyak beban pikirannya membuat ia tak konsen. Begitu sampai di lantai dimana ruangannya berada ia pun berjalan menuju ruang kerjanya.


Tiba - tiba wajah istri cantiknya tengah tersenyum melintas di pikirannya mungkin karena di alam bawah sadarnya selalu Ziana yang ia khawatirkan hingga secara tak langsung memori nya selalu memutar semua hal yang berkaitan dengan istrinya itu.


Maka dengan segera ia pun merogoh saku celananya dan menelpon istrinya untuk sekedar mendengar suaranya saja itu sudah cukup baginya. Setelah obrolannya di telpon berakhir, ia pun tersenyum seolah anak remaja yang baru mengenal cinta begitulah yang ia rasakan kini.


Saat matanya tengah menerawang jauh, pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang dan tanpa menunggu perintah Aditya, pintu pun di buka dan terlihat laki - laki tampan tengah berdiri kemudian melangkah menghampiri Aditya yang kini duduk di kursi kebesarannya.


"Kau apa tidak ada kerjaan menemuiku di jam kerja?"


tanya Aditya menatap lawan bicaranya yang baru saja mendudukan dirinya di sofa.


"Bahkan jika ada perang sekalipun aku pastikan akan lebih dulu menemui mu, karena ini menyangkut nyawa sahabatku."


"Apa penyakitku sudah begitu parah? hingga membuatmu sampai kemari?" Aditya bangun dari duduknya ia kemudian berdiri menghadap jendela kaca yang begitu besar yang ada di ruangannya. Jendela yang bisa membuatnya menatap sekeliling kota dari atas gedung tempat ia berdiri kini.


"Bukan aku hanya ingin memberikan beberapa rekomendasi rumah sakit terbaik yang ada di luar negri untuk kau pilh sebagai tempat pengobatan untukmu." Bara menyimpan map besar yang dari tadi ia bawa untuk Aditya, isinya hanya beberapa keunggulan rumah sakit berbeda di luar negri. Karena ia tau Aditya adalah orang yang sangat detail, mungkin karena jiwa bisanisnya yang mengharuskan ia untuk selalu tetap teliti pada setiap berkas yang ia tanda tangani untuk di setujui.


"Apa kau yakin aku pasti sembuh, hmm? pengobatan dimana pun hanya bisa memperlambat, hanya keajaiban Tuhan yang mampu menyembuhkan ku."


"Ayolah Ditya jangan seperti itu ingatlah jika kau putus asa akan penyakitmu, maka kau pasti akan menyesal melihat istri mu di halalkan lelaki lain, apa kau siap akan hal itu?" Bara kembali mencoba memprovokasi Aditya agar mau berubah dan mendengarkan ucapannya.


"Minta di hajar kau." ucap Aditya menanggapi ocehan Bara.


"Aku hanya menyampaikan riset di lapangan ya seperti itu adanya."


"Cih, dokter kurang kejaan."


Bara menghampiri Aditya yang masih setia berdiri memandangi susasana kota dari tempat mereka berdiri.


"Kau sudah memberi tau istrimu?"


"Tidak aku tak ingin dia tau."


"Kau.."