In Memories

In Memories
part 55



Mendengar perkataan Lena dengan spontan Bara yang tadinya kesal pun tertawa keras dan menggelengkan kepalanya. Sementara orang yang menjadi objek bahan tertawaan hanya diam dengan mengerutkan keningnya bingung.


"Apa ada yang lucu?" Lena menyilangkan kedua tangannya dan memajukan dagunya menghadap Bara.


"Ah sudah lah, sebaiknya aku pergi dari sini terus di sini bersama mu membuat ku pusing." Bara pun melangkahkan kakinya meninggalkan Lena yang masih diam mematung dengan rasa penasaran dengan apa yang di pikirkan dokter labil itu padanya.


"Dasar sinting." ia mencebikkan bibirnya mengejek Bara. Tangan nya mulai menyentuh lehernya merasakan bulu kuduk nya meremang dengan cepat ia pun berlari meninggalkan tempat itu.


"Ya Tuhan baru saja aku mengumpatnya kenapa dia muncul begitu saja di hadapan ku." Lena terus melangkahkan kakinya untuk bisa segera sampai di ruang perawatan Oma Rita.


"Heh Lele kenapa kau selalu lama jika menemui Oma di sini?" Oma yang sedang menonton tv langsung memberondong pertanyaan yang sama setiap kali Lena datang.


"Iya maaf Oma tadi ada kejadian darurat jadi aku memutar jalan." Jawab Lena dengan menghempaskan dirinya di kursi.


"Ada kejadian apa memangnya?"


"Tadi ada orang utan nyasar Oma." Ia terkikik geli membayangkan jika Bara lah orang utan tersebut.


"Jangan asal kamu Lele memangnya Oma ini pikun tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak dari cerita mu." sungut Oma Rita.


"Yaelah emang udah pikun juga." gumam Lena pelan.


"Tapi emang benar kok Oma itu orang utan lepas dari kandangnya jadi berkeliaran gitu tapi sekarang sih udah masuk kandang lagi dia." sekali lagi Lena tertawa kecil mengingat wajah Bara.


"Oh syukur kalau gitu biar nggak gigit orang."


"Oma ngantuk dari tadi capek abis perawatan sama teman Oma."


"Kumat lagi pikun nya." gumam Lena.


"Baik Oma tidur yang nyenyak ya, bangun nanti oma pasti makin cantik." Lena menyelimuti Oma nya yang sudah bersiap untuk tidur.


"Itu pasti kan Oma masih muda." tambah Oma Rita sebelum ia tertidur.


"Pastinya Oma." Lena berusaha tersenyum mendengar perkataan Omanya.


Ya ampun ini Oma gue kok ajaib banget ya, ah yang penting Oma sehat dan panjang umur biarpun nyebelinnya banyak tapi gue sayang sama oma.


Ia pun merebahkan dirinya di sofa untuk ikut terlelap tidur karena rasa kantuknya yang tak bisa lagi ia tahan.


***


Ziana yang baru saja pulang di antar oleh Aditya menatap heran melihat wajah Ibu nya yang sedang terlihat bingung melihat 4 orang yang tengah hilir mudik di toko kecilnya itu.


"Ada apa Bu? siapa mereka kok mengerjakan laundry Ibu apa mereka karyawan baru?" Ziana yang memberondong Ibunya dengan pertanyaan.


"Ah ini biang kerok nya, heh apa yang kau bilang pada pacarmu yang kaya itu?" Bu Rina berkacak pinggang melihat Ziana yang baru datang di hadapannya.


"Memang apa yang Kak Ditya lakukan Bu?" Ziana menautkan kedua alisnya tak mengerti dengan pertanyaan sang Ibu.


"Lihat apa yang dia lakukan pada toko Ibu? semua stok detergen, pewangi, plastik dan lihat di dus yang belum Ibu buka entah apa lagi yang dia kirim, bahkan para pegawai itu di kirim oleh pacarmu, oh iya lihat di ujung sana dia juga memberikan mesin cuci baru yang mahal." Ibu menepuk keningnya yang terasa pusing.


"Apa?" Ziana pun sama kagetnya dengan Bu Rina.


"Jangan bilang kalau kau tak tau dengan ulah pacar mu itu."


"Memang aku baru tau sekarang Bu." jawab Ziana.


"Kenapa Ibu tak menyuruh langsung mereka untuk pulang saja." Ziana nampak bingung dengan sikap Ibunya.


"Apa kamu pikir Ibu tak menyuruh mereka pulang? Ibu sudah menyuruh mereka pulang dari tadi tapi tak ada yang mau mendengarkannya, katanya mereka akan pulang jika yang menyuruh mereka adalah bos mereka pacarmu sendiri."


"Baiklah memang seharusnya aku yang menelponnya terlebih dulu."


Ziana merogoh saku celana nya untuk membawa ponselnya dan setelah itu ia mulai mendial nama kekasihnya.


Tuuut...Tuuuut


"Halllo Kak Ditya sudah sampai?" tanya Ziana


"Belum, ada apa?" ucap Aditya di sebrang sana.


"Ini apa tidak salah dengan apa yang Kakak berikan pada Ibu? ini terlalu berlebihan Kak."


"Kenapa? itu belum seberapa tadinya aku akan memberikan mesin cuci lebih banyak tapi aku rasa tidak akan muat jadi sepertinya tempatnya lebih dulu yang harus di ganti, bagaimana?"


"Tidak usah Kak, ini sudah lebih dari cukup. Kak biarkan mereka pulang ya Kak, Ibu masih bisa mengerjakannya sendiri." seru Ziana.


"Tidak biarkan mereka di sana membantu Ibu mu, jadi beliau tak akan terlalu capek dan kau juga tak akan capek lagi dan jangan khawatirkan gajinya, aku yang bayar."


"Dari mana Kak Ditya tau kalau aku suka membantu Ibu?"


"Itu tak penting."


"Aku mohon Kak ya, toko ini sempit jika di tambah mereka akan bertambah sempit."


"Baiklah tapi tinggalkan satu orang untuk membantu di sana, aku tak mau kau terlalu capek."


"Ok baiklah, ya sudah hati - hati di jalan ya Kak." panggilan pun terputus setelah terjadi kesepakatan di antara mereka.


"Sudah bisa mereka pulang tapi tetap harus tinggal satu orang di sini untuk membantu." ucap ziana menatap Bu Rina yang tengah pusing akibat ulah calon menantunya itu.


"Ah sudah itu lebih baik, sekalinya kamu dapat pacar yang kaya tetap saja bikin Ibu pusing Zi." Bu Rina pun berlalu menuju ke dalam rumah nya.


Setelah itu Ziana memberikan pengarahan kepada 4 orang yang kini tengah berdiri berjejer menghadap ke arahnya dengan tatapan bingung, ketiganya di pulangkan dan hanya tersisa satu orang yang akan membantu Ibu nya di toko laudry.


***


Zian yang baru saja turun dari panggung bersama teman - temannya, dan langsung di kerubungi oleh para gadis abg yang membuat mereka pusing menghadapi mereka.


Bak artis papan atas mereka melenggang berjalan menuju backstage dengan teriakan histeris para gadis. Wajah yang tampan dan penampilan yang menunjang membuat mereka cepat di kenal.


"Gila berasa jadi artis gue." ucap Luki dengan tersenyum jumawa setelah mereka sampai di backstage.


"Apaan pusing gue, nih liat tangan gue sama pipi gue abis di cubitin."ucap Zian dengan menunjukan pipi dan tangannya yang memerah karena di antara mereka memang Zian lah yang paling tampan dan dingin. Mungkin itu yang menyebabkan mereka gemas pada Zian.


"Ternyata jadi ganteng itu menyiksa, gue malah kena jambak ini." Dimas meringis memegang rambutnya.


"Gue malah kena tampol." sahut Darma


"Tapi di antara semua kesakitan kita, noh lihat hadiah yang mereka kirim." Luki menunujuk ke arah satu dus besar hadiah dari para penggemar untuk mereka.