In Memories

In Memories
part 129



Setelah berbincang lama, Mom Irene dan juga Dad Gamma pun pamit pulang. Sebenarnya mereka ingin agar Aditya juga Ziana ikut ke mansion bersama tetapi Aditya menolaknya dengan beralasan jika nanti sesekali ia akan menginap di mansion tapi tidak untuk tinggal menetap di mansion, ia masih ingin tinggal berdua dengan istrinya tanpa ada orang lain di sekitarnya. Dan alasan terbesarnya tentu saja ia takut jika sewaktu - waktu sakitnya kambuh dan itu pasti akan membuat kedua orang tuanya panik, hal itu sangat Aditya hindari maka lebih baik ia tinggal di aparteman bersama Ziana.


"Ini minumlah obatnya suamiku, setelah itu beristirahatlah." Ziana memberikan semua obat yang telah di bukanya untuk di minum oleh Aditya.


"Terima kasih sweety." Aditya pun meminum obatnya setelah itu ia pun berdiri untuk pergi ke dalam kamarnya, di ikuti oleh Ziana yang berjalan di sampingnya.


"Kemarilah." Aditya menepuk dadanya agar Ziana mendekat padanya, dengan cepat Ziana pun berbaring di samping suaminya dengan posisi kepala berada di dada Aditya.


"Kenapa, hmm?" tanya Ziana.


"Malam ini aku hanya ingin tidur memeluk mu."


"Baiklah." Ziana tersenyum mendengar permintaan manja dari suaminya itu.


Setelah mengobrol beberapa saat kemudian mereka pun terlelap dalam tidurnya, untuk menggapai mimpi indah mereka.


Saat tengah malam Aditya mulai gelisah, bibirnya mulai meracau dan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ziana yang merasa ada gerakan tak biasa juga suara Aditya yang terus meracau membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Suamiku kau kenapa?" Ziana mencoba menyadarkan Aditya dengan menepuk pipi suaminya.


"Tidak!! jangan !! Aku mohon jangan!!" Aditya terus saja meracau tak jelas.


"Jangannn!!" dan ia pun membuka matanya, tetapi tatapannya kosong, tangan langsung menutup kuping dan kakinya ia tangkupkan sampai ke dada. Nafasnya naik turun, bahkan ia pun makin berteriak dengan ucapan yang sama.


"Aku mohon jangan seperti ini sayang, ada aku di sini kau tak sendirian. Tenanglah sayangku." Ziana yang baru tau dengan kambuhnya trauma Aditya merasa kaget tapi ia berusaha tenang, ia sudah di beri tau oleh Angga mau pun Bara akan apa yang harus di lakukannya jika trauma Aditya kambuh lagi.


Melihat Aditya seperti anak kecil yang tengah ketakutan membuat Ziana tak kuat menahan air matanya. Istri mana yang akan kuat melihat suami yang sangat di cintai nya harus menghadapi takdir hidup yang begitu berat. Meskipun secara medis kondisi Aditya sudah ada kemajuan tapi secara psikis kadang dirinya berada di titik lemah, memikirkan hal yang belum tentu terjadi itu manusiawi dengan keadaan sakit yang kini ia derita.


"Sayangku tolong dengarkan aku, jangan pergi terlalu jauh ke duniamu. Lihat ada aku di sini, dengarkan suaraku dan rasakan keberadaanku di sini. Kau tidak sendirian, aku di sini suamiku." Ziana terus mendekap tubuh suaminya, ia membelai lembut pipi Aditya berusaha menyadarkannya tanpa memberi obat yang biasa di minumnya jika traumanya sedang kambuh. Ziana ingin agar suaminya sembuh dan tak bergantung pada obat lagi.


Belum ada respon positif dari Aditya, ia masih dengan posisi yang sama bahkan kini tubuhnya gemetar, melihat hal itu Ziana mencoba untuk terus memberikan sentuhan tangannya dan tak berhenti memanggilnya dengan isak tangisnya Ziana memeluk hangat tubuh Aditya. Perlahan tubuhnya mulai lemas, tangan yang berada di kuping dan kakinya yang di dekap di depan dada mulai di turunkan. Aditya mulai mengenali suara wanita yang sangat ia cintai memanggilnya dengan isak tangis yang tak henti. Ia mulai keluar dari dunia di alam bawah sadarnya dan kembali mengenali sekelilingnya, netranya bertemu dengan Ziana yang kini juga sedang menatapnya. Aditya mencoba menggapai pipi Ziana yang telah basah oleh aliran bening yang tak henti mengalir di kedua pipinya.


"Sayang kau sudah sadar?" Ziana tersenyum dengan membingkai wajah suaminya.


"Maafkan aku." Dengan sekali tarikan tubuh Ziana kini berada di pelukannya. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi.


"Tidak jangan seperti ini suamiku, aku takut sesuatu terjadi padamu. Aku sangat takut." Kini tangisnya pecah di pelukan hangat suaminya.


"Maaf."


Sesuatu yang sangat ia takutkan akhirnya terjadi juga, memperlihatkan sisi lemahnya untuk yang kedua kalinya setelah sakitnya itu adalah sesuatu yang sangat ia hindari. Tapi semua di luar kendalinya, ia tak bisa apa - apa.


Ia menghela nafasnya mencoba mengatur nafasnya yang naik turun karena emosinya belum stabil.


"Ini minumlah." Ziana memberikan Aditya air minum yang berada di nakas samping tempat tidur, dan Aditya pun menerimanya lalu ia meminumnya hingga tandas.


"Ini kali pertama traumaku kambuh di depanmu, merepotkan ya?"


"Tidak ada yang merepotkan darimu, aku hanya takut terjadi sesuatu denganmu." Ziana menumpukkan bantal lebih tinggi agar suaminya bisa menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.


"Bagaimana jika ini hanya awal dari semua hal yang membuatmu takut?"


"Jangan berbicara seperti itu, lihatlah kau bisa sadar tanpa harus minum obat suamiku. Itu artinya sudah ada kemajuan, jika memang semuanya di niatkan dari dalam dirimu aku yakin kau pasti sembuh." Ziana menggengam tangan suaminya memberi kekuatan padanya agar yakin dengan apa yang ia ucapkan.


"Terima kasih tanpamu aku tak tau akan seperti apa hidupku." Aditya tersenyum dan mengecup tangan Ziana lembut.


Keesokan harinya Ziana terbangun lebih awal ia ingin menyiapkan segala hal untuk suaminya, karena semalam ia tetap mengatakan jika akan pergi bekerja. Tapi sebelum beranjak dari tidurnya ia ingin melihat wajah tampan suaminya yang seperti damai tertidur dengan lelapnya.


Tuhan sangat baik padamu sayang, kau di anugrahi paras yang begitu rupawan. Mungkin karena Tuhan terlalu sayang padamu hingga kau di berikan ujian seperti ini, aku tak akan pernah melepaskan tanganku untukmu. Mari melangkah bersama untuk menggapai kembali mimpi kita ke depannya. Aku mencintaimu suamiku.


Matanya tak sengaja melihat beberapa helai rambut suaminya di bantal, dengan cepat ia pun mengambil helaian rambut Aditya sebelum ia terbangun dan melihatnya.


Setelah itu Ziana pergi ke dalam kamar mandi dengan membawa helaian rambut suaminya. Saat menutup pintu kamar mandi, tubuhnya merosot ke lantai ia menangis tertahan. Tangannya bergetar saat di lihatnya kembali helaian rambut suaminya yang rontok akibat dari kemoterapi yang sudah mulai terlihat.


"Aku yakin ini hanya permulaan untuk kesembuhanmu sayang, kau pasti bisa." Kemudian ia pun bergegas membersihkan dirinya agar tak terlihat mata sembab yang sedikit bengkak akibat tangisan semalam dan yang baru saja ia tangisi.


Setelah selesai ia pun keluar dari walk in closet, ia melihat suaminya tengah bersandar pada headboard tempat tidur dan tersenyum manis padanya.


"Kemarilah sweety, kau cantik sekali dan aku menginginkanmu pagi ini." Aditya mengerlingkan matanya. Entah kenapa melihatnya bersemangat pagi ini membuat hati Ziana menghangat, ia pun seperti terhipnotis dengan ajakan suaminya untuk memulai pagi dengan sarapan panasnya.