In Memories

In Memories
part 106



Tok..Tok..Tok


Pintu appartemen di ketuk seseorang dari luar dengan langkah pelan Ziana pun melangkah keluar dari kamar nya untuk membukakan pintu.


"Kenapa muka lo? kusut amat masih pagi kali." ucap Ziana setelah mengetahui siapa tamu yang datang.


"Kesel banget gue pagi - pagi tuh orang udah bikin mood gue ancur aja." Lena pun masuk dan menghempaskan tubuhnya di kursi tamu sedangkan Ziana mengekor dari belakang.


"Dokter Bara?" tanya Ziana, ia sudah bisa menebaknya karena kedua pasangan yang selalu tak pernah akur itu selalu membuat ia dan suaminya pusing. Jika Lena akan membicarakan kekesalan nya pada Ziana, begitupun dengan Bara yang akan membicarakannya dengan Aditya.


"Siapa lagi orang yang selalu bikin gue darah tinggi dan uring - uringan terus kalau bukan dia." Lena menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan bibirnya yang mengerucut ke depan.


"Kalian itu sebenarnya udah saling memikirkan lho, cuma nggak ada yang nyadar aja." ucap Ziana dengan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Maksudmya gimana? orang kita tuh kalau ketemu ribut terus saling mikirinnya dimana coba?" Lena menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Heh Odah ngerasa nggak kalau saking keselnya lo sama Bara itu otomatis bikin lo secara nggak sadar mikirin dia, hampir tiap waktu yang ada di kepala lo itu ya tunangan lo itu." jelas Ziana panjang lebar.


"Emang iya gitu?"


"Gue juga pernah ngerasain kali, bentar lagi gue jamin pasti salah satu di antara kalian bakal bucin akut."


"Ih serem omongan lo tapi gue pastiin kalau pun tebakan lo bener itu pasti dia duluan yang bakal bucin sama gue, secara Lena gitu lo gadis cantik imut tiada tara."


"Ngelunjak lo." Ziana menoyor kepala Lena yang tengah tersenyum.


"Eh gimana udah ketemu Evan belum?"


"Udah kok, sebelum gue pulang dari rumah sakit kita ketemu." jawab Ziana dengan mulai melahap kue kering dalam toples.


"Reaksi laki lo gimana? emang dia nggak apa - apa gitu lo ketemu dia?" Lena bertanya dengan sangat antusias karena ia tau jika Aditya adalah seorang yang posesif apalagi terhadap Evan.


"Iya laki gue juga kok yang nganterin gue malah ikutan ngobrol bareng."


"Udah gue duga bakal gitu sih, nggak mungkin juga lo di biarin sendirian ketemu si Evan. Laki lo kan cemburuan banget." cibir Lena.


"Iya juga sih mukanya pas ketemu Evan juga sama pas waktu pertama kita ketemu dulu, datar dan dingin."


"Nah itu khas banget laki lo." Lena pun mengambil hp yang ada di tas nya kemudian ia pun mulai berselancar di dunia maya.


"Ahhhh nggak mungkin!!" teriak Lena saat melihat sosmed miliknya.


"Apaan sih lo bikin gue kaget aja?" Ziana yang tengah makan kue pun hampir tersedak mendengar teriakan dari Lena.


Di sana Evan memposting dirinya yang tengah berada di bandara dengan tongkat dan juga tas juga koper di sebelahnya dengan caption selamat tinggal cintaku bahagialah dengannya, dengan melihatmu tersenyum bahagia itu lebih dari cukup untuk ku pergi.


"Nah kan lo diem, pasti ini status buat lo deh. Dia pergi kemana ya? penasaran deh gue." Ucap Lena dan ia pun terus menscroll tiap komentar dalam foto itu untuk mencari info kemana Evan akan pergi.


Ziana hanya diam membisu setelah melihat postingan Evan, ia merasa sebagian hatinya merasakan sedikit terluka perih yang tergores. Meskipun kini cinta sepenuhnya hanya pada Aditya tapi Evan mempunyai ruang tersendiri di hatinya yang masih tersimpan rapi hingga saat ini.


Benar kata orang jika cinta pertama itu sulit untuk di lupakan, terlepas dari cinta itu berbalas atau tidaknya pasti akan masih ada yang tersisa di hati meski hanya sebagian kecil.


"Ya ampun Zi, ternyata Evan pergi ke Swiss dan katanya dia akan menetap di sana." tambah Lena yang belum melihat ke arah lawan bicaranya.


"Zi lo nggak apa - apa kan?" karena tak kunjung ada jawaban dari Ziana, Lena pun mengangkat kepalanya yang tengah tertunduk pada layar ponselnya untuk melihat Ziana.


"Jangan goyah lo."


"Semoga di sana dia menemukan kebahagiaan nya." ucap Ziana lirih, entah mengapa dadanya terasa sesak dan dengan tanpa permisi memori tentangnya bersama Evan berputar dengan jelas di ingatannya, semua kenangan yang ia ingin kubur karena kini hidupnya hanya untuk masa depan yang sudah ada di depan matanya, Aditya.


***


"Kenapa lo sedih banget kayaknya Fri? tanya Evi yang kini duduk di samping Frida.


"Hari ini Kakak sepupu gue berangkat ke Swiss dan akan menetap di sana, makanya gue sedih banget." Ucap Frida yang tengah duduk di kantin sekolah nya, karena mood nya yang tidak baik untuk hari ini ia tak mengejar Zian seperti biasanya.


"Lo deket banget ya ma Kakak sepupu tampan lo, jadi pasti lo ngerasa kehilangan banget."


"Lo tau nggak sih kecelakaan beberapa hari lalu yang gue ceritain? ternyata Kak Evan juga yang nolongin Kak Ziana dia bahkan rela berkorban nyawa hanya untuk Kak Ziana selamat, gadis yang sangat di cintai Kak Evan." ucap nya panjang lebar menjelaskan semua yang terjadi sesuai dengan apa yang ia dengar langsung dari mulut Evan setelah dirinya memaksa dengan segala cara agar Evan menceritakan padanya untuk tempatnya berbagi.


"Iya yang kata lo cinta bertepuk sebelah tangan itu kan? yang ceweknya ke buru nikah sama orang lain sebelum di gebet sama Kak Evan." ucap Evi dengan melahap bakso yang ada di hadapannya.


"Cinta memang selalu bikin kepala gue puyeng Vi, nasib gue nggak beda jauh sama Kak Evan. Mana orang yang kita suka masih saudaraan lagi." lirih Frida dengan tatapan matanya yang sendu.


"Kak Evan hebat juga ya cintanya nggak luntur meskipun cewek yang dia sayang udah jadi milik orang lain tapi dia rela berkorban nyawa demi pujaan hatinya. Ah sweet banget sih sisain dong cowok kayak gitu satu aja lagi." seru Evi memegang pipinya sendiri dengan gemas.


"Yee emang cuma lo doang, gue juga mau kali."


"Kan hati lo udah di gembok buat si Zian yang lo kejar tapi orangnya gitu deh."


"Kata orang cinta gue ke Zian itu adalah obsesi, karena gue belum dapetin dia tapi asal lo tau cinta gue kaya cintanya Kak Evan, liat dia bahagia itu udah lebih dari cukup buat gue. Gue sayang dia tulus Vi."


Tanpa mereka sadari orang yang sedari tadi mereka bicarakan ada di belakang mereka dengan menggunakan hoodie sehingga mereka tidak melihatnya. Zian mendengarkan semua percakapan mereka sedari awal sampai akhir, dia hanya bisa terdiam tanpa bicara sepatah kata pun.