In Memories

In Memories
part 31



Ziana yang merasa sangat kacau hatinya tak pernah merasakan sesakit ini, sekalipun dulu ia menyukai Evan tapi tak pernah ia merasakan dadanya yang begitu sesak dan merasa sulit bernafas karena rasa sakitnya. Air matanya tak pernah berhenti terus menetes di sepanjang jalan menuju ke rumahnya, ia memutuskan pulang karena suasana hatinya yang tidak baik-baik saja.


Untung nya Ibu dan Bapak sedang ada di dapur saat Ziana pulang jadi ia tak terlalu khawatir soal pertanyaan karena matanya yang bengkak dan sembab. Ziana langsung masuk ke dalam kamarnya, ia langsung merebahkan dirinya dan menutup wajahnya dengan bantal agar suara tangisnya tak terdengar.


"Apa harus berakhir seperti ini, kenapa nasib cintaku selalu tragis." Ziana kembali menangis.


"Tapi entah kenapa aku tak pernah bisa membencinya, rasanya aku tak akan pernah sanggup untuk melupakannya." gumamnya lirih.


Ziana terus menangis mengingat pertemuan nya tadi dengan aditya. Itu adalah hal paling menyakitkan dalam hidupnya, karena terlalu banyak menangis ia pun kelelahan dan mulai terlelap tidur.


Sementara Aditya yang sudah di bawa pulang oleh Bara tidur terlelap di atas kasur big size nya.


"Ah sudah tengah malam, tidur di sini saja besok pagi aku pulang. Dan lagi kalau di tinggal aku takut dia akan loncat dari jendela appartement." Bara tertawa mengingat pikirannya yang tak masuk akal.


***


"Akhirnya hari ini kita pulang juga, kangen masakan rumah kangen kasur gue." Ucap Zian yang memang dari awal datang tak terlalu bersemangat.


"Heh yang lo pikirin kasur terus, lo tuh dimana-mana juga tidur Zian." Sahut Luki yang sedang membereskan barangnya.


"Bodo ah, ini beresin sekalian sekarang apa ntar siang?" Zian bertanya tentang tenda yang akan di bongkar.


"Ntar aja kali Zian semangat amat lo." Darma ikut berkomentar.


"Eh lo pada ingat nggak kejadian tadi malam yang pas si Zian nyanyi tuh." ucap Dimas.


"Emang apaan? jawab Zian yang memang tak mengerti.


"Si Frida nangis cuy, terharu kali denger lo nyanyi." lanjutnya.


"Ia dia videoin lo juga, dan pas lagi keadaan hening lo nyanyi kentut lo bunyi paling keras. Merusak suasana banget lo!" ucap Dimas pada Luki.


"Asli gue nggak sengaja tiba-tiba aja tuh kentut keluar tanpa permisi, emang nggak ada akhlak ya tuh pantat." Ucap Luki.


"Hooh gara - gara lo tuh semua pada nutup hidung berjamaah, susana romantis berubah jadi hambar sehambar kentut lo." Ucap Dimas.


"Apaan hambar bau telor busuk gitu apalagi gue duduknya samping tersangkanya." Darma menyela ucapan Dimas dengan mengedikkan bahunya


"Bussyett kentut doank omongannya panjang bener, nggak ada habisnya ini." Ujar Luki.


"Yuk ah kita udah di panggil tuh buat kumpul sebelum pulang." Ucap Zian.


Mereka pun bergegas pergi dari tenda untuk kumpul bersama dengan yang lain nya.


"Sekarang kita sudah sampai di penghujung acara setelah serangkaian kegiatan yang kita lalui di sini, kami selaku panitia acara memohon maaf kepada semuanya jika ada salah kata atau perbuatan yang di sengaja ataupun tak di sengaja menyakiti hati. Kami mohon maaf yang sebesar-besar nya. Akhir kata kita ucapkan hamdallah acara telah berlangsung dengan aman dan lancar." ucap panitia acara yang sedang berdiri dengan menggunakan toa mengahap kepada seluruh peserta camping kali ini.


"Dan sekarang mulai bongkar tenda masing-masing ya jam satu nanti kita mulai berangkat untuk pulang."


Setelah itu sorak sorai semua murid terdengar gembira karena mereka akan pulang ke rumah masing- masing. Dan kumpulan siswa pun bubar untuk membongkar tenda nya sebelum pulang.


Saat tengah berjalan menuju tenda Zian di panggil oleh perempuan yang tak pernah putus asa mendapatkan cintanya.


"Zian!!" teriak Frida dan ia pun mendekat pada Zian.


"Hmm ada apa?"


"Ini buat lo. "ucap Frida dengan memberikan tisu basah untuk Zian.


"Buat apa?" Zian mengernyit tak mengerti.


"Buat ngelap cinta gue biar luntur ke lo, biar gue lupain lo dan bisa move on dari lo." setelah itu ia pergi dari hadapan Zian.


Setelah waktu menunjukan pukul satu siang dan tenda sudah di bongkar, semua siswa satu persatu menaiki bus masing-masing sesuai dengan kelasnya.


Dan bus pun beranjak pergi meninggalkan tempat camping yang penuh dengan suka duka mereka selama kegiatan berlangsung.


***


"Isssh kepala ku." Aditya yang baru terbangun dari tidurnya merasakan pusing sisa mabuk tadi malam.


"Kau sudah bangun?" ini minum lah air jahe bagus untuk meringan kan pengar di kepalamu." Bara memberikan nya lalu ia duduk di samping Aditya.


"Aku sarankan kau tanyakan lansung padanya jangan hanya menduga-duga bisa saja ini hanya kesalah pahaman." Ujarnya dengan menepuk bahu Aditya.


"Apa maksudmu?" tanya Aditya dengan keningnya yang berkerut tak mengerti.


"Aku sudah tau semuanya tadi malam, jangan menjadi egois jika tak ingin menyesal di kemudian hari." Lanjutnya.


"Cihh." Aditya hanya mendecih setelah itu meminum air jahe nya.


"Terserahlah yang penting aku sudah mengingatkan mu, selebihnya terserah padamu. Aku pulang sekarang, hari ini aku ada jadwal praktek." Ucapnya dengan berlalu pergi.


Setelah Bara pulang ia mulai mencerna kalimat dari sahabatnya itu tapi kemudian ia menggeleng tak mungkin ia menjilat ludahnya sendiri. Ego nya terlalu besar jika ia harus melakukan itu.


"Ah sudah lah wanita bukan hanya dia pasti dengan cepat aku bisa melupakannya." gumam Aditya.


Dan ia pun berdiri untuk melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke perusahaan.


Setelah sampai di ruangan nya ia duduk di meja kerjanya, tak berapa lama pintu nya di ketuk.


Tok..Tok..Tok


"Iya." ucapnya dengan mata yang masih tertuju pada laptopnya.


"Tuan hari ini ada undangan dari Tuan Dirga untuk menghadiri pembukaan galeri." Ucap Sekertasris Angga.


"Jam berapa?"


"Sesudah makan siang Tuan." lanjut nya.


"Hmmm.." Aditya hanya mengangguk menyetujui.


"Baiklah Tuan saya permisi." Angga lalu pergi meninggalkan ruangan Aditya.


Setelah jam makan siang Aditya dan Sekertaris Angga menuju ke tempat pembukaan galeri lukisan milik istri dari seorang pengusaha sukses Dirga Abimana, ia merupakan rekan bisnisnya.


Walau hati Aditya sedang kalut tapi ia harus tetap menghadirinya.


"Hai Tuan Aditya terimakasih atas waktunya untuk dapat hadir di peresmian galeri istri saya." Ucap Dirga menjabat tangan Aditya.


"Sama-sama Tuan Dirga." Aditya hanya tersenyum tipis membalas sapaan dari rekan bisnisnya itu.


Mereka pun berbincang santai dengan sesekali membahas perkembangan bisnis yang sedang berlangsung antara dua perusahaan itu.


"Saya akan berkeliling sebentar." ulUcapnya pamit undur diri.


"Ah silahkan semoga anda menikmatinya." jawab Dirga.


"Hei Aditya kan?" seru seorang wanita cantik yang memakai terusan berwarna hitam yang kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih.


"Hmmm." Aditya menautkan alisnya mencoba mengingat siapa wanita di hadapannya itu.