
Aditya saat ini masih dalam penanganan tim medis, sudah hampir lima belas menit berlalu namun bagi Angga yang tengah menunggu dengan perasaan cemas dan juga khawatir, waktu berjalan dengan sangat terasa lambat. Ia terus melihat jam di pergelangan tangannya hingga beberapa kali, saat rasa cemasnya akan keadaan Tuannya yang kian memuncak, terdengar suara handle pintu di buka dari dalam ruangan. Dan keluar lah dokter yang tadi menangani Aditya.
"Dokter bagaimana keadaan Tuan Aditya?" tanya Angga yang sudah sangat tidak sabar dengan hasil dari pemeriksaan dokter.
"Untuk saat ini keadaannya sudah lebih baik karena sudah kami tangani, tetapi Tuan Aditya masih belum sadarkan diri."
"Sebenarnya Tuan Aditya sakit apa dok?"
"Kami sudah mengambil sample darahnya untuk di bawa ke lab, semoga semua nya baik - baik saja. Dan untuk hasilnya nanti malam baru bisa kita ketahui." jelas dokter dengan name tag Fiko itu.
"Baik lah dok, terima kasih."
"Sama - sama kalau begitu saya permisi." doker Fiko pun pamit dengan melangkah pergi dari hadapan Angga.
Aditya langsung di bawa ke ruang VIP tempat yang biasa keluarganya pakai jika ada yang sakit. Ruangan khusus bagi keluarga Erlangga yang merupakan pemegang terbesar saham di rumah sakit ini.
"Apa yang harus aku lakukan." gumam Angga dengan mengacak rambutnya frustasi.
Saat pikirannya tengah kalut, dari arah berlawanan datang lah Bara yang berlari dengan nafas yang terengah begitu sampai di hadapan Angga.
"Bagaimana bisa seperti ini?" Bara bertanya langsung pada Angga dengan mencoba mengatur nafasnya yang masih naik turun tak beraturan, ia tadi di beri tau langsung oleh dokter Fiko jika Aditya masuk rumah sakit dan menceritakan keadaanya.
Bara yang kebetulan belum pulang karena baru selesai jam prakteknya, mendengar kabar tentang Aditya langsung berlari dengan masih lengkap menggunakan jubah kebesarannya itu.
"Saya juga tak tau pasti dokter tapi yang saya tau memang akhir - akhir ini kondisi Tuan Aditya seperti kurang fit bahkan Tuan Aditya sering mimisan."
"Semoga dugaan ku salah." ucap Bara setelah mendengar apa yang sering di alami oleh Aditya belakangan ini, karena sebenarnya kecurigaan tentang sakit Aditya ia ketahui hanya saja ia masih tak ingin menyimpulkannya dan berharap semoga ia salah mendiagnosis.
"Saya bingung dok, tentang Nona Ziana tadi sebelum tak sadarkan diri Tuan Aditya menyuruh saya untuk tak memberitaunya."
"Maka jalankan titahnya." Ucap Bara dengan masih terlihat seperti orang bingung karena kini pikirannya tak menentu.
"Tapi jika Tuan Aditya harus di rawat di sini hingga beberapa hari apa yang harus saya katakan pada Nona Ziana, dok?"
"Katakan saja ada perjalanan bisnis yang mendadak."
"Betul juga ya, kenapa pikiran ku tak sampai ke situ tadi." gumam Angga.
"Ah sudah lah ayo kita pergi menaninya, aku yakin saat ini dia sudah sampai di rungannya."
Dan Angga hanya mengangguk sebagai jawaban kemudian mereka pun berjalan beriringan untuk menuju ke ruangan VIP tempat dimana Aditya kini tengah beristirahat.
Setelah pintu ruangan di buka maka dengan cepat Bara juga Angga masuk ke dalam, ia melihat Aditya tengah terbaring dengan jarum infus yang menempel di tangannya. Ia seperti tengah tertidur dengan lelapnya.
"Ditya sudah ku bilang kau harus menjaga kesehatan mu, kenapa kau tak pernah mendengarkan ku." Bara berbicara seolah Aditya telah sadar dan menanggapi ucapannya.
"Angga jaga dia selalu dan ingatkan untuk selalu menjaga kesehatannya." Kini Bara berbicara pada Angga.
"Baik Tuan."
Karena rasa lelah yang tak terhingga, kedua nya pun tertidur di sofa setelah dari tadi berusaha menahan kantuk dengan berbicara kesana - kemari agar bisa tetap terjaga saat Aditya siuman nanti. Tapi rasa kantuk yang menyerang semakin tak tertahankan dengan cepat keduanya pun terlelap di sofa.
Setelah beberapa jam berlalu Aditya pun mengerjap mencoba membuka matanya yang terasa berat. Setelah membuka ke dua matanya, ia melihat sekeliling ruangan nya dan baru menyadarinya jika saat ini dirinya beradab di rumah sakit. Dan ia melihat dua orang yang paling dekat dengannya tengah terlelap tidur di sofa.
Saat dirinya mencoba bangun, kepalanya masih terasa berat hingga membuatnya meringis dan itu membuat Bara juga Angga yang tengah tertidur lelap langsung terjaga seketika. Bahkan dengan segera keduanya menghampiri Aditya.
"Apa yang kau butuhkan? apa kepalamu masih sakit?" tanya Bara.
"Aku haus." Angga langsung membawa air minum yang berada di nakas samping dan memberikannya pada Aditya.
Setelah merasa tenggorokannya sudah tak kering lagi karena minuman yang di berikan Angga, ia pun meminta Angga untuk mengatur bed nya agar ia bisa bersandar dengan nyaman.
"Apa istriku tau?"
"Tidak Tuan seperti yang tadi anda perintahkan."
"Bagus, aku juga akan segera pulang." ucapnya lagi dengan sesekali masih menutup matanya merasakan sakit di kepalanya.
"Kau tidak boleh dulu keluar dari sini, jika memang sandiwara mu tak ingin terbongkar di hadapan istri mu. Lihatlah kau masih kesakitan Ditya." ucap Bara yang merasa geram mendengar keputusan Aditya.
"Tinggal minta obatnya, semuanya selesai."
"Kau ini dengarkan aku ini tak semudah yang kau pikirkan." Bara semakin kesal terhadap sahabatnya itu, Aditya terlalu menyepelekan kesehatannya.
"Memangnya kenapa?"
"Kau.." ia tak bisa meneruskan ucapannya lagi karena diagnosisnya belum tentu benar. Saat semuanya diam terdengar pintu di ketuk dari luar.
Tok.. Tok..Tok.
"Maaf mengganggu, saya ke sini hanya ingin menyampaikan hasil lab dan hasil pemeriksaan Tuan Aditya." Ucap dokter Fiko.
"Aku sakit apa?" tanya Aditya dengan menatap dingin dokter dan juga perawat yang saat ini berhadapan dengannya. Dokter Fiko mencoba menelan salivanya yang terasa menyakitkan di tenggorokannya, keringat dingin mulai keluar dari tangannya. Bahkan perawat yang berada di belakangnya terus menunduk.
Baru kali ini aku gugup menghadapi pasien ku sendiri, biasanya sebaliknya pasien lah yang akan gugup untuk menerima kabar tentang penyakitnya.
Semoga kabar yang aku bawa tak akan membuatku di cekik olehnya.
"Berdasarkan hasil lab dan hasil pemeriksaan keseluruhan Tuan Aditya menderita leukimia kronis dan harus segera mendapatkan penanganan yang lebih intensif agar sel kanker tidak cepat menyerang organ lainnya."
Mendengar ucapan dokter Fiko yang merupakan dokter hematologi onkologi atau dokter spesialis darah dan kanker. Aditya dan juga Bara secara bersamaan memejamkan matanya, sedangkan Angga diam membisu dengan mata yang membulat sempurna karena rasa kaget akan diganosis dokter .
"Pengobatan hanya akan memperlambat bukan? bukan untuk menyembuhkan kanker yang ada." ucap Aditya dengan tanpa ekspresi.
"Tidak Tuan banyak metode yang bisa di lakukan untuk penyembuhan dari kanker ini, sudah ada beberapa pasien yang sembuh jika mau terus berusaha dan mengikuti anjuran yang seharusnya."
"Berapa lama sisa hidupku?" Tanya Aditya dengan yang menatap tajam pada dokter Fiko seolah ia tengah menguliti dokter yang ada di hadapannya.