In Memories

In Memories
part 91



"Enconnn." teriak Bu Rina yang kini tengah memanggil nama pegawainya yang bernama Conita, dengan tergopoh - gopoh Conita menghampiri majikannya.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Conita.


"Tadi ada komplain dari pelanggan katanya baju dalamnya sobek, apa benar itu kerjaan kamu?"


"Yang mana ya Bu?" seingat saya hanya ada satu sih celana sobek punya pelanggan yang orangnya selalu menor itu kan Bu?"


"Iya dia komplain seperti itu, berarti benar kamu yang salah gitu ko kamu bilang gitu tadi?"


"Bukan saya ko Bu, orang dari pertama ada juga itu ****** ***** udah sobek, nah aku langsung masukin mesin cuci aja sekalian, eh malah makin mengkhawtirkan." Ucap Conita dengan menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Yang benar kamu?"


"Suer Bu, saya malah punya kok bukti foto nya sebelum di masukan ke mesin cuci." Conita mengangkat tangannya dengan membentuk huruf V.


"Bagus, kurang asem dia minta ganti rugi, berarti emang udah ada niat tuh orang pengen di beliin CD baru, lihat saja nanti pembalasan ku."


Tak berapa lama sang pelanggan datang untuk menagih CD baru miliknya sebagai ganti rugi kelalaian pihak laundry.


"Bagaimana Bu? apa sudah bisa saya ambil?" tanya si pemilik CD dengan wajah tanpa dosanya.


"Sebelum nya maaf saya tidak akan memberikan ganti rugi apa pun, karena pegawai saya tidak melakukan kesalahan apa pun."


"Nggak bisa gitu dong Bu, udah salah lepas tanggung jawab lagi." ucapnya dengan sewot.


"Pegawai saya punya bukti foto CD punya Mba memang sudah dalam keadaan sobek ketika mba memberikannya kepada kami." Bu rina tersenyum dengan terpaksa meladeni pelanggannya.


"Jadi Ibu mengira saya tak mampu beli CD dan membuat alasan yang mengada - ada, apa anda tak tau harga CD yang saya punya itu mahal dan merk terkenal." ucap sang pelanggan dengan menggebu.


"Oh pantas saja sudah robek pun Mbak masih memakainya mungkin karena merk yang terkenal, mba tetap nyaman memakainya meski terasa banyak angin yang masuk ke dalam. Dan jika mba tidak percaya saya juga masih punya rekaman cctv saat baju kami terima dari Mbak nya, bagaimana apa Mbak mau lihat?"


Rasakan pembalasan ku enak saja, kau yang salah aku yang harus ganti rugi, bukan untung malah rugi bandar. Oh tak semudah itu rosalinda tidak pernah ada dalam kamus berbisnis untuk rugi bagi ku.


Bu Rina terus memperhatikan perubahan ekspresi pelanggannya setelah perkataan yang ia ucapkan padanya.


"Sudahlah." ia menelan salivanya dengan susah payah karena menahan rasa malu, kemudian berlalu pergi keluar melenggang meninggalkan toko Laundry milik Bu Rina.


"Sampai jumpa ya Mbak semoga anda segera membeli CD baru biar tak masuk angin." teriak Bu Rina dari dalam toko, setelah itu ia pun tertawa mengingat wajah masam pelanggan nya yang ingin menipu dirinya.


***


Ziana dan Aditya yang telah selesai berbelanja setelah memasukan semua belanjaan ke dalam mobil, mereka pun kini mencari tempat makan untuk mengisi perut mereka yang tengah meminta jatah.


"Kita makan di cafe di ujung jalan saja ya?" ucap Aditya yang tengah menyetir mobil dengan menoleh sekilas pada Ziana.


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di cafe, Aditya turun dari mobil dengan menggenggam tangan Ziana sembari memasuki cafe. Mereka duduk di samping cafe dengan pemandangan langsung menghadap ke jalanan.


"Maaf ya suamiku, aku belum bisa menjadi istri yang baik. Setiap kita makan selalu di luar, aku belum bisa memasak untukmu." ucap Ziana.


"Aku menikahimu untuk menjadi teman hidupku, bukan untuk jadi koki masak, jangan mempersulit hal yang mudah sweety." Aditya mengusap pipi istrinya yang tengah menunduk.


"Sekalipun aku tak bisa memasak untukmu sampai tua nanti?"


"No problem, uangku masih banyak jlka hanya untuk sekedar makan di luar, tak akan sampai membuat ku bangkrut." Aditya tersenyum jumawa.


Memang uang bukanlah segalanya tapi tanpa uang juga seakan mau mati, dan kini saatnya kekuatan uang ia gunakan.


"Ah terimakasih suamiku." Ziana tersenyum dengan mata berbinar.


Begitulah rasanya hidup jika menemukan pria yang tepat maka kau akan menjadi ratu tapi jika salah menemukan pasangan hidup maka bersiaplah dengan gelapnya pernikahan yang di jalani bahkan untuk berjalan pun harus meraba agar tak mengenai duri yang kapan saja akan membuatmu terluka dan hancur.


"Tentunya itu tak gratis sweety." Aditya tersenyum smirk, menggoda istrinya merupakan hal yang sangat ia sukai.


Ziana yang sudah hapal dengan ekspresi wajah suaminya, jika seperti itu maka tujuan nya adalah adegan ranjang. Ziana menelan saliva nya ia sesaat membayangkan sekelebat kegiatan panas yang biasa ia mainkan bersama suaminya, membayangkan hal itu membuat pipinya menghangat karena malu, ia pun mengulas senyum di bibirnya.


Untungnya seketika itu pelayan datang membawakan pesanan mereka, karena tadi mereka telah memesannya begitu memasuki cafe.


Sudah ku duga dia pasti meminta imbalan yang setimpal untuk semuanya tapi tak apalah kan aku juga menikmatinya, eh...


"Di makan dulu sweety jangan kau melamunkan hal seperti itu di sini, habiskan semua nya karena apa yang kau lamunkan akan kita praktekan setelah ini." Aditya mengedipkan matanya menggoda.


"Apaan sih aku tak memikirkanya ya." Ziana pun dengan cepat langsung memasukan makanan ke dalam mulutnya, ia heran dengan suaminya apakah Aditya seorang cenayang kenapa ia selalu mengetahui apa saja yang tengah di pikirkannya, apa mungkin karena otaknya yang cetek sehingga begitu mudah untuk di tebak.


Setelah selesai makan mereka pun pergi meninggalkan cafe untuk segera pulang ke appartemen, tapi dalam perjalanan Aditya melihat ada mobil yang terus mengikuti mereka.


Ia tau dengan jelas itu bukan pengawal bayangannya, dan ia pun mendapat pesan dari anak buahnya saat ini mereka tengah di ikuti. Dengan kecepatan penuh Aditya terus melajukan mobilnya, ia terus menyalip kendaraan yang ada di depannya hingga Ziana menjerit dan menutup matanya.


Mobil yang mengikutinya kehilangan jejak mereka karena beberapa mobil anak buah Aditya menghalangi jalan nya, hingga Aditya bisa sampai dengan selamat sampai di appartemennya.


"Apa ada yang mengikuti kita suamiku?" ucap Ziana yang kini tengah bernapas lega karena aksi kejar - kejaran itu telah berakhir.


"Sepertinya hanya orang iseng yang ingin mengetahui seperti apa kehebatan mobil ku, tapi lihat kan dia kalah melawan mobil ku." Aditya tak memberikan jawaban dengan jujur, ia tak ingin Ziana hidup dalam ketakutan.


"Kau ini, jangan seperti itu lagi aku sungguh takut." Ziana pun memukul pelan tangan suaminya.


"Ok baiklah, ayo kita naik ini sudah begitu malam." Mereka pun masuk ke lobby hotel kemudian menaiki lift hingga sampai di lantai teratas tempat dimana unit appartemennya berada.


Shitt ini benar - benar sudah tidak bisa di biarkan, aku harus bergerak cepat sebelum terjadi sesuatu dengan istri ku.