
"Jika di lihat dari hasilnya memang kurang baik Tuan, mungkin karena efek dari obat yang selalu anda konsumsi itu bisa sangat berpengaruh terhadap kesuburan. Tetapi anda tak perlu khawatir Tuan, saya akan resepkan obat agar kesuburan anda normal kembali."ucap dokter Tami memberi penjelasan secara rinci.
"Apa itu artinya saya masih bisa mempunyai keturunan?" tanya Aditya yang dari tadi terlihat sangat tegang mendengar penjelasan dokter Tami.
"Tentu Tuan, dengan rutin meminum obat nanti kesuburan anda bisa kembali normal dan itu berarti anda masih sangat berpeluang besar untuk mempunyai keturunan."
"Tapi apa obatnya akan berpengaruh pada pengobatan suami saya dok?"tanya Ziana.
"Tidak jika hanya untuk kesuburan saja, ini tidak terlalu berat kok. Tapi saran saya jika memang ingin program nantinya, kesehatan Tuan Aditya harus benar - benar pada saat fit ya karena itu akan sangat berpengaruh." ucap dokter Tami.
"Baik dokter saya mengerti." senyum Ziana mengembang dengan sangat merekah mengingat hasil yang baik dari dokter.
"Oh iya Nona mulai sekarang Tuan dan juga Nona harus mulai menerapkan gaya hidup sehat dan juga harus mengkonsumsi makanan yang banyak meningkatkan kesuburan ya."
"Tentu, terima kasih ya dok." Ziana dan juga Aditya pamit untuk pulang. Mereka berdua keluar dari ruangan dengan senyum mengembang dari keduanya.
Setelah itu Ziana dan juga Aditya berjalan ke arah parkiran, saat ini yang ada di pikiran mereka adalah pulang ke rumah dan beristirahat.
Di dalam perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan hanya seputar obrolan ringan tanpa menyangkutkan pemeriksaan tadi. Tak berapa lama mobil mereka sampai di apartemen, keduanya pun melangkah bersama untuk menuju unit apartemen mereka.
"Jangan terlalu banyak berpikir suamiku." Ziana menyadari ada sedikit yang berbeda dari raut wajah suaminya.
"Tidak sweety aku hanya lelah."
"Baiklah sebentar aku siapkan air hangatnya ya, kau bisa berendam agar tubuhmu rileks." Saat Ziana akan melangkah, tangannya di tarik oleh Aditya sehingga kini mereka saling berpelukan.
"Terima kasih sudah menjadi pelangi dalam hidupku yang gelap, terima kasih telah membuatku berdiri sampai saat ini istriku." Aditya berbicara dengan tak melepaskan pelukannya.
"Dan juga aku berterima kasih padamu suamiku, kau telah menjadikan aku ratu di hatimu, dan kau memperlakukanku seperti putri sesuai janjimu dulu, Aku sangat bahagia menjadi istrimu." Ziana mengeratkan pelukannya tak bisa di pungkiri jika rasa takut itu selalu muncul begitu saja.
Setelah mengucapkan hal itu, mereka pun mengurai pelukannya dan Ziana segera pergi ke dalam bathroom untuk menyiapkan air hangat.
Setelah itu Ziana menyuruh Aditya untuk segera membersihkan tubuhnya, sedangkan ia akan mandi di bathroom luar kamarnya. Selesai membersihkan badan keduanya pun duduk di tempat tidur.
"Suamiku, ini minumlah obatnya. Setelah itu beristirahat, ingatlah kau harus selalu dalam keadaan fit jika ingin secepatnya membuatku hamil." Ziana mengerlingkan matanya untuk mencairkan suasana agar mood suaminya kembali naik setelah tadi mendengar pernyataan dari dokter.
"Baiklah aku pastikan akan membuatmu mengandung keturunanku." Aditya mengambil obatnya dan mulai meminumnya.
Setelah itu mereka pun membaringkan tubuhnya yang telah lelah seharian beraktifitas, untuk memulihkan kembali tenaga yang telah terkuras seharian ini.
Pagi sekali Aditya telah bangun, ia merasa kepalanya pusing. Aditya duduk dengan bersandar pada headboard tempat tidurnya dan memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit yang menyerangnya. Karena tak ingin mengganggu tidur istrinya, ia pun beranjak pergi menuju ruang kerjanya dengan berjalan sempoyongan.
Tangannya terus memegang kepalanya, dan tak terasa hidungnya kembali mengeluarkan darah segar. Merasa ada yang mengalir keluar dari hidungnya, ia pun menyentuhnya dan melihat jemari tangannya yang terdapat darah segar.
"Seperti ini lagi." Aditya tersenyum miring, ia merasa kepalanya makin terasa sakit hingga ia menekan kuat kepalanya dan meringis tertahan agar Ziana tak mengetahui jika kini penyakitnya tengah kambuh bahkan lebih parah dari biasanya.
"Ah sakit sekali, ingin sekali aku memecahkan kepalaku." gumam Aditya terus mengerang kesakitan dengan suara bergetar.
Dengan sempoyongan ia mencari obatnya, dan setelah ia menemukannya dengan tangan bergetar ia pun meminumnya. Rasa sakit yang tak kunjung mereda membuatnya jatuh dan berguling di lantai dengan tangan yang terus memegang kepalanya.
Ziana terbangun mendengar suara benda jatuh yang merupakan Aditya. Ia melihat di sampingnya sudah tak ada Aditya, dengan berlari Ziana mencari arah suara itu, Ziana mendengar suara ringisan tertahan suaminya dari arah ruang kerja. Ia berlari menuju ke dalam ruang kerja dan betapa terkejutnya Ziana melihat suaminya tengah berguling di lantai kesakitan.
"Suamiku, apa yang terjadi? apa yang sakit sayang?"Ziana berteriak dan ia pun langsung mengangkat kepala Aditya di pangkuannya.
"Jangan menangis, aku tidak apa - apa." Aditya berusaha tersenyum agar Ziana tak merasa panik dan khawatir. Tapi nyatanya semua di luar kendali, dirinya tak kuat lagi untuk bertahan dan ia pun tak sadarkan diri.
"Sayang bangun, aku mohon jangan membuatku takut." Ziana pun menepuk pipi Aditya berkali - kali tapi tetap tak ada respon dari suaminya.
Dengan berlari ke arah kamar, Ziana mencari ponselnya untuk meminta bantuan. Ia langsung menghubungi Bara untuk meminta bantuan padanya.
Tak berapa lama Bara datang dengan ambulance karena di perjalanan ia langsung menelpon untuk mengirim ambulance ke apartemen Aditya. Dan dengan cepat Aditya bisa langsung di evakuasi ke dalam mobil ambulance.
Ziana yang menolak untuk naik mobil Bara, ia ingin selalu bersama dengan suaminya di dalam mobil ambulance. Ziana tak berhenti menangis dan menggenggam erat tangan Aditya.
"Aku mohon jangan seperti ini sayang, kau harus kuat. Kau janji padaku jika kau tak akan membuatku takut lagi, bangunlah sayang aku mohon." tangisnya pecah melihat wajah pucat suaminya yang kini terbaring tak berdaya dengan beberapa alat bantu, sebagai pertolongan pertama dalam ambulance.
Setelah beberapa menit perjalanan tibalah mereka di rumah sakit, brangkar Aditya di keluarkan dari mobil ambulance dan di dorong menuju ruang IGD. Ziana yang tak bisa ikut masuk hanya bisa menunggu di luar.
"Tenanglah Zi, kau jangan panik semua pasti baik - baik saja." Bara mencoba menenangkan Ziana yang kini terus menangis.
"Aku tidak bisa bersikap seolah semuanya baik - baik saja, aku sangat takut." Tangisnya semakin pecah mengingat kondisi suaminya sebelum tak sadarkan diri. Bayangan Aditya yang kesakitan dengan darah yang mengalir dari hidungnya seolah terus berputar di dalam kepalanya.
Ziana terus menggelengkan kepalanya, mengingat hal itu selalu membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Kenapa ini bisa terjadi padanya? bukankah kondisi kesehatannya sudah semakin membaik, tapi kenapa ini bisa terjadi?" tanya Ziana.
"Kondisi seseorang yang terkena kanker akan selalu naik turun sebelum di nyatakan sembuh, dan terbebas dari sel kanker. Dan ini juga yang kini di alami oleh Ditya, kita tidak pernah tau reaksi tubuhnya terhadap kanker itu sendiri." Jawab Bara yang sama terpukulnya melihat kondisi Aditya.