In Memories

In Memories
part 127



Seluruh anggota keluarga Ziana juga mertuanya telah di beri tau tentang keadaan Aditya. Mom Irene dan juga Dad Gamma bahkan memutuskan untuk segera pulang ke tanah air untuk melihat secara langsung kondisi putra kesayangan mereka. Tetapi dengan syarat mereka semua harus berpura - pura jika semuanya baik - baik saja, karena Aditya tetap bersikeras untuk merahasiakan semuanya dari siapa pun termasuk orang tuanya sendiri.


Awalnya Ziana berusaha untuk tetap pada kesepakatan awal dengan Aditya akan tetap merahasiakan kondisi kesehatannya tetapi Ziana tak sanggup jika harus terus sendirian mengahadapinya meskipun ada Bara, Lena dan juga Angga tapi tetap saja dukungan keluarga lebih membuatnya kuat.


Ziana tak mau jika ia tetap mengikuti kemauan Aditya, ia tak mau salah langkah dalam mengambil keputusan nantinya. Mom Irene adalah orang yang paling terluka mendengar putra nya dalam kondisi sekarang. Sejak Ziana memberi tau kabar yang sangat mengejutkan itu, Mom Irene terus menangis merutuki dirinya sendiri, ia merasa gagal menjadi seorang Ibu yang tak mengurus Aditya dengan baik.


"Sudah Mom jangan seperti ini, dari dulu kita selalu memberikan Ditya yang terbaik. Bahkan kita tak pernah lepas mengawasinya meski dari jauh sekalipun hanya setelah menikah kita melepaskannya." Ucap Dad Gamma menenangkan Mom Iren yang tak henti menangis mengingat Aditya, putra mereka satu - satunya.


"Tapi tetap saja Dad, anak kita sekarang sedang sakit parah dan kita baru tau Mom kira setelah lepas dari pengawasan kita itu akan lebih baik tapi kenyataannya berita buruk yang kita terima." Isak tangis Mom Irene yang belum juga berhenti meski kini berada di pelukan Daddy Gamma.


"Mom harus kuat seperti menantu kita, dia benar - benar wanita hebat yang merawat anak kita setelah diri mu."


"Tapi Mom takut tak bisa menahan tangis saat nanti berhadapan dengannya Dad."


"Jangan terus mengingat sakitnya jika nanti kita bertemu Ditya, kita harus tetap terlihat bahagia jika tak ingin membebani pikirannya."


"Ya Tuhan kenapa Kau berikan cobaan yang begitu berat untuk putraku, Ditya anak yang baik bahkan dia tak pernah melawan pada kami." Bukannya mereda tangis Mom Irene semakin pecah setelah mengucapkannya. Dad Gamma hanya membiarkan Mom Iren mengeluarkan semua isi hatinya agar perasaannya lega, ia hanya bisa menenangkannya dengan mengusap lembut punggung istrinya.


Dad Gamma sendiri sangat terpukul dengan kenyataan yang ada tapi ia harus kuat demi istri, anak dan juga menantunya. Ia harus bersikap tenang agar semua kondisi tetap baik - baik saja.


"Lebih baik kita di mansion saja hari ini Mom, jangan langsung menemui Ditya."


"Kenapa Dad?"


"Lihat dari kemarin sampai hari ini Mom tak berhenti menangis, mata mu begitu bengkak. Pasti anakmu curiga."


"Bagaimana jika besok mata Mom masih seperti ini?"


"Berhenti lah menangis, sekarang istirahatlah. Mom belum tidur dengan baik setelah menantu kita memberi kabar tentang Ditya."


"Mom tak yakin bisa tidur Dad." Bulir bening kembali mengalir membasahi pipi mulus wanita cantik yang sudah tak muda lagi, tetapi kecantikannya masih jelas terlihat.


"Tidurlah dan berhenti menangis jika ingin segera bertemu dengan Ditya." Di raihnya tubuh istrinya yang telah menemaninya selama tiga puluh tahun pernikahan mereka, Dad Gamma membaringkan Mom Irene dan mengusap lembut puncak kepala istrinya, ia tau hati istrinya kini tengah rapuh karena anak yang ia sayangi sedang dalam keadaan tidak baik - baik saja.


Mungkin karena hati dan tubuhnya yang sangat lelah dengan cepat kedua mata Mom Irene pun terpejam lalu dengkuran halus pun mulai terdengar.


"Tidurlah Mom jangan menyiksa diri seperti ini, Dad akan berusaha untuk menyembuhkan anak kita, mencari pengobatan paling baik bahkan ke ujung dunia sekalipun. Kalian adalah harta berharga untuk Dad." Setelah itu Dad Gamma pun mencium kening istrinya yang baru saja bisa mengistirahatkan tubuhnya.


***


"Ya Tuhan menantu ku yang baik, kenapa harus mengalami ujian seperti ini." ucap Bu Rina setelah panggilannya berakhir dengan Ziana. Ya Ziana bisa menelpon dengan leluasa saat Aditya pergi bekerja.


"Kenapa bu?" tanya Pak Risman yang saat itu tak berjualan karena merasa tak enak badan.


"Menantu kita Pak, di vonis leukimia dan sekarang sudah tahap kemoterapi."


"Ziana anak ku, bagaimana hatinya sekarang Pak? anak itu selalu bisa menutupi kesedihannya di depan suaminya sekalipun. Semoga menantu kita cepat sembuh ya Pak."


"Ya Bu, kita doakan terus agar menantu kita lekas sembuh." ucap Pak Risman.


"Siapa yang sakit Pak?" tanya Zian yang baru pulang sekolah dan mendengar percakapan kedua orang tuanya itu.


"Kakak ipar mu, sakit leukimia." jawab Bu rina lirih.


"Ibu nggak bercanda kan? Masa sih Kakak Ipar sakit leukimia?" Zian yang tengah minum sampai tersedak mendengar jawaban dari Bu Rina. Ia langsung duduk menghampiri ke dua orang tuanya yang tampak serius.


"Apa muka Ibu terlihat seperti biasa?"


"Tidak." Zian yang baru mencerna semua keadaan yang sedang terjadi di dalam keluarganya itu pun ikut terdiam. Ia mencoba mengingat pertemuan nya yang tak di sengaja dengn Ziana yang tampak terburu - buru, wajahnya saat itu memang terlihat sembab. Bahkan saat itu Zian berpikir buruk tentang Kakak iparnya yang pasti telah melukai hati Ziana. Tapi ternyata ini lah jawaban dari semua dugaannya.


"Kakak Ipar orang yang baik, aku yakin dia pasti akan sembuh."gumamnya lirih.


***


Dan di sebuah cafe yang tengah menjadi tempat kencan sepasang tunangan yang belum sah menjadi sepasang kekasih, Bara dan juga Lena sedang duduk bersama dengan menunggu pesanan mereka datang.


"Orang tua Ditya sudah datang dan kemungkinan mereka besok akan datang menemuinya." ucap Bara membuka percakapan.


"Ya semoga semuanya bisa menahan diri untuk tetap seperti tak terjadi apa - apa. Bagaimana perkiraan dokter Fiko?"


"Semuanya lancar, tim dokter optimis akan kemajuan Ditya saat ini."


"Syukurlah."


"Dan untuk kemajuan kita sendiri bagaimana?" tanya Bara menatap Lena dengan intens.


"Apa sih." Lena menjadi salah tingkah ia terus memutar sedotan yang ada di minumannya.


"Ayolah apa aku harus menjelaskan secara detail, hmm?"


"Apa harus seperti ini?


"Memang harus seperti apa lagi? kau dan aku sudah bertunangan dan sebentar lagi juga kita menikah. Hubungan kita sudah jauh di atas semua pasangan yang selalu mengumbar cinta."


"Kau ini berbicara soal hubungan kita tapi seolah mengajak ku berdebat."


Dasar pria yang tak peka, menyatakan perasaan saja seperti mengajak ku ribut.


"Maaf aku bukan pria romantis, tapi jika aku sudah menjatuhkan pilihan ku maka akan ku jaga sampai kapan pun, dan tak akan ku lepaskan. Mau kah kau menerima ku?" tangan Bara kini menggenggam tangan Lena yang berubah dingin karena gugup.