In Memories

In Memories
part 142



Dua hari telah berlalu dan ini adalah hari yang menentukan bagi Aditya untuk menunggu hasil dari tes transplatasi sumsung tulang belakang yang akan di donorkan oleh salah satu dari orang tuanya. Menurut hasil dari pemeriksaan tes HLA ( Human Leukocyte Antigen) yang di paparkan oleh dokter ternyata Dad Gamma yang paling cocok untuk dapat menjadi pendonor bagi Aditya.


Tingkat kesembuhannya sebenarnya tidak terlalu tinggi karena hasil dari transplatasi bisa cocok atau tidaknya di dalam tubuh pasien. Bila tubuhnya mengalami penolakan maka tidak ada jalan lain lagi, hanya bisa pasrah menunggu waktu. Meskipun operasi berhasil itu pun hanya akan bertahan waktu untuk beberapa tahun saja, selebihnya pasti akan kambuh lagi. Apalagi dengan tingkat sakit Aditya yang sudah di tahap stadium lanjut.


Aditya sudah tau hasil akhir dari pengobatan yang di jalaninya, hanya saja ia ingin membuat semua keluarganya bahagia dengan mengikuti semua keinginan Mom dan Dadnya. Ia tidak ingin mengecewakan mereka, setidaknya membuat mereka bahagia di sisa hidupnya yang sedikit ini akan membuatnya pergi dengan tenang.


"Hari ini kau akan langsung melakukan tranplantasi, kau harus semangat ya." ucap Bara memberi support untuk sahabatnya.


"Ya tentu." jawab Aditya tersenyum tipis.


"Suamiku, berjuanglah di sini aku selalu menunggumu."


"Tentu aku pasti berjuang untukmu." Aditya menggenggam tangan Ziana.


Pada tahap transplantasi ini di lakukan yaitu dengan memasukakn sel induk darah dari pendonor ke dalam aliran darah Aditya yang kemudian sel induk ini akan mengalirkan sampai ke sumsum tulang belakang.


Prosedur transplantasi ini sebenarnya mirip dengan transfusi darah dan prosedur ini bisa memakan waktu lebih 1 - 5 jam.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya selesai juga prosedur transplantasi sumsung tulang belakang Aditya, tinggal menunggu pemulihannya saja. Ia harus di rawat selama beberapa minggu karena dokter akan masih terus memantau perkembangan kesehatannnya.


Aditya keluar dari ruangan dengan mata yang sayu, dan dengan cepat ia pun terlelap tidur.


"Terima kasih sudah berjuang sayang." Ziana mengucapkannya sebelum Aditya tertidur dan Aditya meresponnya dengan senyuman.


Kini ia pun kembali di masukan ke dalam ruang rawatnya, kondisinya harus tetap di bawah pantauan dokter. Karena bisa saja ad infeksi yang terjadi setelah ini, maka ia harus tetap berada di rumah sakit.


Semua orang yang tengah menunggunya tersenyum bahagia karena dokter telah mengatakan jika transplantasinya berhasil, tetapi masih tetap harus melihat kondisi Aditya lebih lanjut ke depannya.


Seminggu kemudian Aditya yang harus selalu berada di rumah sakit merasa kebebasannya terkurung, ia yang sudah biasa dengan hidup bebas merasa jenuh berada terus menerus di rumah sakit. Meskipun ia selalu di jenguk setiap hari oleh Mom dan Dad juga Bara dan Lena, bahkan setiap hari mereka bergantian menjaganya dan memberikan kesempatan untuk Ziana beristirahat karena ia bisa saja sakit jika terus merawat Aditya.


"Aku bosan sweety, sebaiknya aku berobat jalan saja. Dokter juga pasti mengizinkanku selama ini aku telah menunjukan reaksi yang cukup baik tak perlu ada yang di khawatirkan."


"Kau ini, aku tak bisa memutuskannya. Jika dokter mengizinkannya maka aku juga akan mengizinkannya." ucap Ziana yang sudah angkat tangan, pasrah karena Aditya merengek minta keluar dari rumah sakit hampir setiap hari.


"Baiklah nanti biar Mom yang menemui dokter." ucap Aditya yang kini berbinar bahagia karena ia sudah yakin pasti akan di izinkan untuk pulang.


Akhirnya semua sesuai dengan harapan Aditya, ia di perbolehkan pulang dengan catatan harus tetap kontrol rutin. Dan hal sekecil apapun yang ia rasakan nanti harus segera datang ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut.


Merasa senang keinginannya terkabul, Aditya terus saja tersenyum. Wajah tampannya yang dulu begitu sempurna kini semakin tirus karena nafsu makannya yang berkurang, bobot tubuhnya semakin menurun tapi itu tak lantas membuatnya Ziana berpaling.


"Aku sekarang sungguh berbeda kan sweety, tak seperti dulu lagi." ucap Aditya begitu sampai di kamar hotel dan membersihkan tubuhnya, ia melihat pantulan dirinya pada cermin. Ia tampak sedih melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Tubuh dan wajah yang sangat ia banggakan kini sudah berubah.


"Kau tetap suamiku yang tampan, dan aku adalah istrimu yang selalu mencintaimu selamanya." Ziana mencium pipi kanan Aditya dengan sedikit berjinjit karena tingginya yang hanya sebahu suaminya.


"Terima kasih selalu ada bersama denganku."


"Tentu." Dan keduanya pun bergegas turun untuk makan malam bersama dengan yang lainnya, Ziana memilihkan baju hangat tebal meski hanya makan resto hotel. Karena kini suaminya tak tahan dingin, ia akan sangat menggigil jika keadaan tubuhnya tak hangat.Maka dari itu Ziana harus ekstra dalam menjaga suaminya agar tetap stabil.


Ziana menggunakan dress motif polkadot selutut yang membuatnya tampil menggemaskan ia bahkan tak terlihat seperti seorang istri, seperti gadis cantik yang bahkan siapa saja akan begitu tertarik melihat kecantikannya. Rambutnya hanya ia gerai begitu saja tapi membuatnya tampak anggun dengan make up natural yang biasa ia aplikasikan di wajahnya.


Setelah di rasa cukup Aditya juga Ziana pun turun ke bawah untuk segera bergabung dengan yang lainnya.


"Kau merasa lebih baik, sayang?" tanya Mom Irene begitu mereka tiba.


"Iya Mom, jauh lebih baik lagi." Mereka semua tengah berkumpul bersama untuk makan malam, obrolan ringan yang hangat menjadi pengantar mereka di malam yang begitu indah.


Berkumpul seperti ini adalah hal yang paling aku impikan tertawa bersama dengan semua orang yang aku sayangi, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan kepada kalian semua.


Langit malam ini pun menampakan kerlip bintang yang bertaburan di atas sana, seolah ikut merasakan kebahagiaan dari satu keluarga yang tengah melepas beban kesedihan selama beberapa bulan terakhir, semoga saja ini bukanlah kebahagiaan semu yang mereka rasakan sesaat.


***


Di sebuah cafetaria yang dekat dengan hotel Aditya, terlihat begitu ramai namun karena tempatnya yang sangat cozy dan sangat pas untuk setiap orang dalam melepas penat.


Cafe yang menyuguhkan pemandangan indah karena bisa langsung melihat sungai jernih yang membuat mata tak bosan untuk melihatnya. Kini Bara tengah duduk menikmati udara jernih yang tidak ia dapat di ibukota, berdua menikmati minuman dingin yang menyegarkan tenggorokannya.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya seseorang yang kini duduk di hadapannya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Semua orang di meja lain terlihat rileks bahkan ada yang bercanda tawa, hanya di mejanya saja yang terlihat seperti tengah di adakan pertarungan sengit antara keduanya. Mereka saling menatap tanpa ada satupun yang membuka suara untuk menjawab pertanyaan yang baru saja terucap.