In Memories

In Memories
part 58



Saat Angga akan masuk untuk melaporkan hasil rapat tadi, ia mendengar suara keributan dari dalam kamar atasannya. Dengan cepat ia menghubungi bagian resepsionis untuk segera memberikan kartu cadangan agar bisa membuka pintu kamar Aditya.


Setelah pintu kamar di buka dengan kartu cadangan dari resepsionis hotel. Ia melihat kamar Aditya sudah tak berbentuk lagi, hamparan pecahan kaca ada dimana - mana dan semua barang yang ada di sana hancur tak ada satupun yang utuh. Dengan cepat ia mencari Aditya yang ternyata tengah berada di posisi yang masih sama dengan kaki yang terlioat di depab dada dan tangan yang menutup ke dua telinganya juga wajanya yang menatap kosong dan tertunduk ketakutan, Angga dengan cepat membantu Tuannya itu.


"Tuan apa anda tidak apa - apa?" Angga membantu Aditya berdiri dengan sigap ia mencari kotak P3K untuk segera mengobati luka di tangan Aditya agar tak terlalu banyak darah yang keluar.


"Tuan apa anda bisa mendengar saya?" Angga terus mengajaknya berbicara tapi Aditya hanya diam dengan pandangan kosong dan tak bereaksi apa pun.


Setelah membalut luka Aditya yang kini terlihat sangat berantakan, Angga dengan cepat mencari obat yang biasa Aditya konsumsi jika trauma nya kambuh.


Aditya pengalami post traumatic stress disorder ( PTSD ) yang akan kambuh sewaktu - waktu jika ia berada pada situasi yang membuatnya down atau pada saat kondisi dimana ia merasa terancam. Gangguan stress pasca trauma yang di alaminya dapat membuatnya depresi, dengan emosi yang meledak - ledak ia kadang tak bisa mengontrol apa yang terjadi dalam dirinya.


Gangguan stress pasca trauma Aditya terjadi ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.


Flasback on


Saat itu ia yang tengah bermain bersama teman nya di taman komplek perumahan, mereka bermain bola dengan riangnya tanpa pengawasan dari orang tua. Ketika hari menjelang sore ada sebuah mobil berhenti tepat di taman komplek tempat mereka bermain dan keluarlah dua orang pria dengan berjalan lurus ke arah mereka.


Aditya kecil tak menyadari bahwa dirinya tengah dalam bahaya ia terus bermain bola dan seketika tubuhnya langsung di gendong oleh pria tersebut kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Saat itu ia sudah berusaha untuk berteriak dan meronta tetapi mulutnya di bekap.


Teman Aditya tak tinggal diam ia berusaha memukul dua pria tersebut dan mencoba berteriak tetapi terlambat ia pun kemudian di bekap dan di bawa bersama Aditya. Ke dua anak kecil itu di bawa ke sebuah tempat seperti sebuah gudang yang sudah tak terpakai.


Mereka di sekap dengan tangan dan kaki yang di ikat dan mulut yang di lakban. Mereka di sekap di sebuah ruangan yang sedikit pencahayaannya dan juga pengap, hanya tangisan yang bisa mereka keluarkan karena untuk berbicara pun sangat sulit.


"Kenapa kau bawa anak yang ini? kita kan hanya butuh dia." tunjuk pria yang baru saja datang dengan menunjuk Aditya.


"Tadi temannya akan menghalanginya dan ia akan berteriak dari pada semua rencana kita kacau lebih baik aku bawa dia juga." jawab pria yang satu nya lagi.


"Tapi kita tak butuh dia, lebih baik kau pulangkan saja dia."


"Jangan dulu sampai urusan kita dengan orang tua anak itu selesai."


"Baiklah kau urus saja dia."


Aditya kecil yang terbiasa hidup mewah dan nyaman dengan keadaannya saat ini membuat ia merasakan ketakutan yang luar biasa, ia terus saja menangis. Mulut mereka tak lagi di lakban dan tangan mereka tak lagi di ikat karena si penculik menyuruh mereka untuk makan dan minum.


"Aku takut Leon, apa kita bisa cepat pulang?" Aditya mulai berhenti menangis ia terus menatap wajah Leon.


"Pasti aku yakin itu." Leon tersenyum menatap Aditya.


"Jangan harap kalian bisa kabur dari tempat ini dasar anak kecil, mimpi saja sana." ke dua pria yang tadi menculik mereka tertawa dengan kerasnya.


Saat mereka lengah karena tertawa Leon memberikan kode kepada Aditya ia melihat ada balok kayu di samping ke dua nya untuk memukul dua pria tersebut.


Leon langsung berdiri memukulkannya pada satu pria yang berdiri tak jauh darinya, sedangkan Aditya yang saat mengayunkan balok untuk memukulkannya, pria itu berbalik dan mengambil balok kayu itu pada Aditya tetapi Leon dengan sigap melindungi tubuh Aditya ia terkena pukulan balok yang cukup keras mengenai kepalanya.


"Leon!!" teriak Aditya yang kemudian memangku tubuh Leon yang limbung terkena pukulan balok kayu tersebut.


"Jangan menangis Aditya, kelak kau pasti bisa keluar dari sini, maaf aku tak bisa menemani mu." Leon pun menutup matanya di pangkuan Aditya.


"Leon bangun, aku mohon bangun Leon." Aditya terus mengguncangkan tubuh Leon. Aditya kecil terus menagis menatap Leon yang telah tebujur kaku tak bernyawa di pangkuannya.


Setelah itu polisi mengepung tempat kejadian sesaat setelah Leon menghembuskan nafas terakhirnya, Aditya dapat di selamatkan karena polisi bergerak cepat setelah orang tua Aditya melapor mendapatkan ancaman mengenai putranya.


Dan setelah kejadian itu Aditya terkena gangguan stres pasca trauma yang di alaminya membuat dirinya terus mengurung diri dalam kamar ia terus merasa bersalah dengan kematian Leon. Dirinya saat itu seperti mayat hidup tak ada respon apapun darinya hanya diam dan tatapan nya kosong, ia pun tak bisa tidur dengan nyenyak selalu berteriak setiap malam di dalam tidurnya. Karena memimpikan kejadian yang sama yang terus berulang.


Kejadian yang sulit di terima oleh dirinya membuat keadaannya semakin memburuk sehingga membuat Mommy Irene dan Daddy Gamma memutuskan untuk membawanya keluar negeri untuk berobat sekaligus pindah sementara waktu demi pengobatan yang di laluinya agar bisa sembuh seperti sedia kala.


Flashback off


"Tuan sebaiknya anda pindah ke kamar saya di sini tidak baik untuk anda, ruangannya sudah tak dapat untuk di tempati dan saya akan menjaga anda." ucap Angga.


Tak ada reaksi apapun dari Aditya, tatapannya kosong dan tubuhnya seperti lemas tak berdaya. Dengan sigap Angga memapah tubuh Aditya untuk pindah ke kamarnya. Sesampainya di kamar Angga membaringkan Aditya setelah sebelumnya ia di berikan obat yang biasa Aditya konsumsi jika traumanya sedang kambuh.


"Tidurlah Tuan saya akan menjaga anda di sini." Angga pun menyelimuti Aditya yang tampak tak berdaya itu. Beberapa saat kemudian Aditya tertidur dan membuat kelegaan di hati Angga.


"Ah syukurlah." Angga menarik nafasnya pelan kemudian ia berlalu untuk menelpon resepsionis hotel dan meminta untuk membersihkan ruangan Aditya agar bersih dan rapih seperti sedia kala melalui Ob tentunya.


"Aku harus menelpon Nyonya besar dan memberitahukan semua kejadian ini, tapi Tuan Aditya pernah bilang padaku jika suatu saat traumanya kambuh tak boleh seorang pun ada yang tau, dan sekarang apa langkah yang harus aku ambil?" Angga terus bermonolog sendiri.