In Memories

In Memories
part 6



Mobil dengan kecepatan tinggi itu menyusuri jalan yang tampak sedikit lengang membuatnya dengan mudah untuk bisa sampai di perusahaan nya. Mobil berhenti tepat di depan lobby perusahaan.


Aditya turun dengan tegap dengan wajah yang sedikit ia naikkan ke atas seolah menantang siapa saja yang berani melawannya dengan tanpa ekspresi. Ziana yang turun dari mobil setengah berlari menuju pria yang telah memaksanya untuk terus mengikutinya.


Begitu memasuki lobby para karyawan menyapa aditya.


"Selamat pagi Tuan.."


"Hmmm .." ia membalas dengan gumaman.


Bener - bener si irit ... irit waktu irit ngomong hihh jangan- jangan dia juga irit duit alias pelitt..issh mengerikan nggak sesuai penampilan.batin ziana


Ziana yang segera tersadar dari lamunannya terus mengikuti langkah kaki aditya yang sempat berhenti menunggu lift.


Aditya Erlangga adalah seorang CEO muda di perusahaan Erlangga Corp. Ia merupakan putra tunggal keluarga Gamma Erlangga dan merupakan pewaris dari kerajaan bisnis keluarga Erlangga. Tidak ada yang bisa menolak pesona pria tampan dan mapan seorang Aditya Erlangga. Jangan harap untuk mencoba merayunya apalagi dengan cara licik. Ia akan membalas beberapa kali lipat, selain angkuh dan sombong ucapannya juga sangat pedas untuk ukuran seorang laki- laki.


"Kak ditya tunggu." teriak Ziana dengan berlari ke arahnya. Orang yang di panggil hanya melirik dan mulai menekan pintu lift.


"Huft capek banget gue."


"Kak gimana ini kelanjutannya biar cepat beres, gue mau pulang ini." lanjut Ziana.


"Pakai bahasa yang sopan." ucap Aditya tanpa melihat ke arah Ziana.


"Eh ya maaf Kak, jadi gimana ini aku mau pulang tapi hp aku kan nggak ada, terus mau minta jemput atau pesan ojol juga nggak bisa." Ziana berbicara dengan mencoba melihat arah lawan bicara nya tapi Aditya tetap menatap lurus ke depan.


Ini patung es gue udah panjang lebar nyerocos kayak beo, dia cuma diem - diem aja. Di kira gue mahluk tak kasat mata kali ya.


"Kak ditya." tangan Ziana melambai - lambai di depan wajah Aditya mencoba menyadarkan pria itu pikirnya.


"Hmm..nanti di urus Sekertaris saya."


Tinggg..


Pintu lift terbuka, Ziana terus mengikuti langkah Aditya.


"Angga." panggil Aditya pada Sekertarisnya yang menunggu di pintu ruangan meeting.


"Iya Tuan." Jawab Angga dengan badan sedikit membungkuk.


"Urus dia." ucapnya dengan mengarahkan dagu pada Ziana.


"Baik Tuan, mari Nona ikut saya." ajak Sekertaris Angga pada Ziana untuk masuk ke dalam ruangan nya.


"Ah baiklah." Ziana tersenyum mengikuti.


"Perkenalkan saya Sekertaris Angga yang akan mengurus masalah Nona dengan atasan saya." Angga menyalami tangan Ziana kemudian mempersilahkannya untuk duduk.


"Saya Ziana Bilbina." balas Ziana lalu duduk berhadapan dengan Sekertaris Angga.


"Ini hp baru anda Nona, apa ada yang kurang lagi biar sekalian." Sekertaris Angga menyodorkan hp epong model terbaru kepada Ziana.


Tadi sekertaris Angga mendapatkan pesan dari Aditya tentang masalah ini. Dengan tanpa banyak berpikir ia gerak cepat menelpon perusahaan hp yang bekerja sama dengan perusahaan Erlangga Corp. untuk segera mengirimkan satu hp model terbaru saat itu juga.


"Astogeehh ini kemahalan Pak sekertaris, hp saya hanya hp jadul biasa nggak secanggih ini, tapi bukan hp cinitnit juga sih. Ya intinya nggak semahal yang ini juga." Ziana kaget melihat hp mahal yang ada di tangannya.


"Tidak apa Nona ini sudah menjadi milik Nona sebagai tanda maaf dari atasan saya, di mohon untuk di terima."


"Apa nggak bisa di ganti?" Ziana tetap pada pendiriannya.


Sekertaris Angga hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Ah baiklah tolong bilang terima kasih pada atasan anda. Tapi jujur saya tidak enak untuk menerima barang semahal ini." gumam Ziana sambil tertunduk.


"Apa masih ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Sekertaris Angga.


"Tidak ada, baiklah kalau begitu saya permisi pulang dulu."


"Eh tunggu Nona pulangnya biar di antar supir perusahaan saja."


"Nggak usah aku bisa pulang sendiri kok. Ehm Apa boleh aku membawa satu dessert itu?" tanya Ziana menunjuk ke arah meja yang ada beberapa dessert yang tadi di siapkan untuknya.


"Oh boleh silahkan mau semua juga tidak apa" jawab Sekertaris Angga.


"Ah nggak satu aja cukup." Ziana mengambilnya dan tersenyum seraya berdiri untuk pergi.


"Saya permisi dulu ya sekertaris Angga terima kasih untuk ini." Ziana tersenyum dan mengacungkan bawaannya.


***


Di tempat lain di sekolah Zian


"Ih si bawel kemana sih di telpon nggak aktif terus ,mau gue jemput tadinya mumpung sekolah di liburkan. Ini orang malah susah banget di hubungi, bodo ah mending gue nongkrong aja ma yang lain."


gerutu Zian.


"Woy gimana lo jadi nggak ikut nongkrong bareng?" tanya Dimas.


"Iya jadi lah, yuk cabut." jawab Zian sambil berlalu pergi meninggalkan kelas bersama anak- anak yang lain.


"Kemana enaknya ya?" Zian bertanya pada Luki.


"Mending kita maen Ps di warnet dekat sanggar senam aja biasa nya banyak cewek bohay, sekalian cuci mata." jawabnya.


"Ogah gue, dulu juga lo bilang gitu tau nya yang dateng emak - emak semua, nggak sesuai ekspektasi, anjirr." Zian menimpalinya dengan mencibir.


"Hahaha gue juga nggak tau kalau yang dateng emak - emak yang hampir setengah abad." jawab Luki mengingat kekonyolan mereka waktu itu.


"Eh lo tadi di cariin si Frida tuh." Dimas mengatakan itu pada Zian dengan menepuk pundaknya.


"Biarin aja lah males gue." Zian menjawab sekenanya.


"Kasian tuh cewek ngejar lo udah 2 taun, kenapa nggak lo terima aja sih?" tanya Luki.


"Dia bukan tipe gue, aneh aja cewek ko nggak ada malunya ngejar cowok sampe segitunya. Ngeri gue." Zian bergidik mengingat betapa gigihnya Frida mengejarnya tanpa kenal lelah.


"Tapi cantik dia, gue aja mau." Darma ikut menimpali.


"Iya buat lo aja sih." ucap Zian.


"Kalau dia nya mau gue siap aja" Darma mengucapkan kata itu dengan ekspresi di buat serius dan setelah itu dia tertawa.


Frida adalah gadis yang tak pantang menyerah mengejar Zian, berapa kali pun ia menolaknya Frida gadis itu tetap setia pada pendiriannya. Setia mencintai dalam cinta nya yang bertepuk sebelah tangan. Padahal bertepuk itu harus dengan kedua tangan agar indah di dengar dengan seirama, begitu pun dengan perasaan jika hanya seorang yang berjuang akan timpang.


Mencintai hakekatnya sangat menyenangkan jika kita menemukan orang yang tepat untuk tempat kita bersandar dan berbagi.


Setelah itu mereka pergi untuk tetap bermain Ps.


***


Sesaat setelah Ziana pamit dan berjalan dengan hati yang riang, ia terus tersenyum melihat makanan kesukaannya tanpa memperhatikan jalan. Dari arah berlawanan datang seseorang yang tengah menelpon dengan terburu - buru.


Tanpa di sadari mereka berjalan ke arah yang sama kemudian...


Brukkkkk