
Dan setelah itu Aditya menghampiri nya dengan mengatakan jika ia sudah memiliki kekasih, dan gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang di cintai oleh mantan kekasihnya Evan.
Elena merasa sangat hancur, di tolak oleh dua pria yang merupakan tumpuan harapannya. Jika pada Evan besarnya rasa cinta yang ia punya untuk pria yang selalu mengisi hari - harinya dulu ia berharap bisa kembali lagi bersama dengannya meskipun kesalahan dirinya sendiri karena lebih memilih karir nya di dunia model sehingga ia harus melepaskan Evan dan sekarang saat hatinya rapuh dan ingin menggapai kisah baru dengan pria pilihan orang tuanya hatinya juga di patahkan dengan kenyataan yang sama dua pria dalam pusaran kehidupannya mencintai gadis yang sama.
"Aku tidak bisa percaya ini, aku di kalahkan oleh orang yang jauh di bawah ku. Dan sialnya kedua pria itu sangat mencintai gadis itu." Elena mengeram tangannya terkepal kuat ia tak bisa menerima kenyataan ini, baginya ini sama saja penghinaan untuknya.
"Aku tak akan pernah bisa terima ini!! Kau harus terima akibatnya dasar j*lang!! Kau telah merampas nya dari ku, tunggu lah pembalasanku karena aku tak akan bisa membiarkan mu tersenyum bahagia sampai kapan pun." ucap Elena dengan seringai di wajahnya.
Dan setelah pertemuannya dengan Aditya, ia pun mulai melancarkan aksinya meskipun Ziana tak menikah dengan Evan tapi karena sampai saat ini Evan masih selalu menolaknya bahkan ia makin terang - terangan menyebutkan jika Ziana adalah satu - satunya wanita yang ada di hatinya meskipun ia tak akan mungkin bisa merengkuhnya.
Dan hal itu makin membuatnya gelap mata, Elena sangat membenci Ziana. Kenapa ia bisa mendapatkan cinta tulus dari dua orang pria yang menolak dirinya.
Elena merupakan anak seorang pengusaha sukses, ia adalah anak tunggal maka akan dengan mudah ia menjalankan misinya untuk menghancurkan Ziana. Elena menggunakan kekuasaan ayahnya agar selalu dapat perlindungan exstra sehingga team Eagle kesulitan untuk selalu mengungkapnya.
flashback off
"Kau sudah merenungkan kesalahan mu Nona? ah aku rasa sebutan yang pantas untuk mu adalah j*lang." Aditya menekankan kata - katanya, ia menatap tajam gadis cantik di hadapannya itu.
"Kenapa kau tak terima dengan sebutan itu? bagiku kau pantas mendapatkannya karena wanita terhormat dan berpendidikan tinggi tak akan sepicik dirimu." Aditya menekan dagu Elena dan menariknya ke atas agar ia bisa melihat dengan jelas wajah orang yang ingin membuat nyawa istrinya melayang.
"Apa yang akan kau lakukan pada ku?" tanya Elena dengan wajahnya yang tengah ketakutan melihat kemarahan seorang Aditya Erlangga.
"Apa kau masih pantas untuk bertanya dengan nasib mu, hah? apa kau tak pernah berpikir jika wanita yang ku cintai nyawanya hampir terenggut oleh mu j*lang!! Aditya menjambak rambut Elena hingga ia pun berteriak kesakitan. Kesabaran Aditya sudah habis meskipun yang di hadapannya kini adalah seorang wanita ia tak peduli, karena baginya keselamatan Ziana itu lebih penting dari apa pun.
"Aku sangat berharap ia mati saat mobil suruhan ku menabraknya." Elena pun tertawa terbahak - bahak membuat Aditya mengeraskan rahangnya melihat tingkah wanita yang ada di hadapannya.
"Kenapa kau ingin istri ku mati, hah??" Aditya menjambak rambut Elena untuk yang kedua kalinya dengan semakin keras.
"Aku sangat membenci istri mu kau tau!! dia telah merebut Evan ku, pria yang sangat aku cintai tapi dia lebih memilih istri mu di banding aku! " seru Elena.
"Dasar wanita g*la kau tau kenapa kami mencintai wanita yang sama dengan tulus? karena ia bukan hanya cantik fisik tapi juga cantik hati. Apa sekarang kau mengerti?"
Elena hanya terdiam menunduk mendengar semua ucapan Aditya. Ia berusaha mencerna semua kata yang begitu tepat menusuk hatinya kini, Elena tau sebenarnya semua kesalahan ada pada dirinya jika saja waktu itu ia tak egois melepaskan Evan maka semua kejadian ini tak akan pernah terjadi. Dan mungkin ia tak akan melimpahkan semua kebenciannya pada Ziana yang tak punya salah sedikitpun padanya.
"Karena kau telah mengusik istri ku, maka bersiap lah untuk kehidupan suram mu mulai detik ini."
"Aku mohon lepaskan aku, tolong maafkan aku." Elena bersimpuh di hadapan Aditya dengan menangis tersedu - sedu, ia menyesali semua kelakuan bodohnya saat ini.
"Aku khilaf Aditya tolong." Elena terus mengiba di hadapan Aditya.
"Bawa dia." Ia pun memerintahkan anak buahnya untuk membawa Elena dari hadapannya. Hukuman seperti biasa yang berlaku jika seseorang berani mengusik dirinya.
"Baik Tuan."
Elena terus meronta untuk bisa melepaskan dirinya, ia berteriak memohon ampunan pada Aditya tapi Aditya tetap tak bergeming, baginya itulah balasan bagi mereka yang mencoba bermain dengan hidupnya sendiri.
Setelah urusannya seleaai Aditya pun bergegas untuk segera ke rumah sakit, ia takut Ziana bangun dan mencari keberadaannya. Dengan langkah yang terburu - buru begitu sampai di rumah sakit untuk naik ke lantai atas tempat dimana istrinyadi rawat.
Aditya bernafas lega ketika melihat istrinya yang masih tertidur dengan lelap.
"Kau boleh pergi." ucap aditya pada perawat yang tengah menjaga Ziana.
"Baik Tuan."
Setelah itu Aditya mendekati Ziana, perlahan di usapnnya dengan lembut puncak kepala Ziana entah mungkin pengaruh dari obat ia bahkan tak terganggu dengan belaian tangan Aditya.
"Kau tau sweety aku cemburu saat ada orang lain yang juga mencintai mu dengan tulus, tapi aku juga berhutang nyawa pada nya. Jika tidak ada dia yang menyelamatkan mu mungkin kini kau tak ada lagi di sampingku." gumam Aditya.
Hatinya seperti ada yang mencubit saat mendengar pernyataan dari Elena tadi tapi ia bisa apa, jika bukan Evan mungkin ia akan menghajar habis - habisan orang yang berani mencintai istrinya.
"Aku tak bsisa mengahalanginya sweety tapi kau tetap milik ku sayang tak akan pernah aku melepaskan mu."
Sementara di balik pintu ruang rawat Ziana ada seseorang yang tengah mendengarkan apa yang Aditya ucapkan, Evan bersikeras meminta kepada perawat agar mengantarnya menemui Ziana. Ia ingin tau keadaan Ziana karena sejak kemarin ia tak bisa menemuinya. Luka di tubuhnya belum bisa membuatnya meninggalkan ranjang rumah sakit, tetapi karena rasa khawatirnya maka ia pun berhasil meyakinkan perawat agar mengizinkannya keluar menemui Ziana.
Saat ia menekan handle pintu dan membuka pintu nya sedikit, Evan menyuruh perawat untuk meninggalkannya tetapi di luar dugaanya ia mendengarkan percakapan yang tak seharusnya ia dengar.
"Aku lega sekarang Zi, setidaknya kau bersama dengan orang yang tepat. Dia pasti akan menjaga mu dan tak akan menyakiti mu." gumam Evan dengan tersenyum dan ia pun pergi meninggalkan
ruang perawatan Ziana.
Hatinya memang sakit tapi baginya cinta tak harus memiliki, dengan melihatnya bahagia itu sudah cukup baginya.