
Aditya melajukan mobilnya untuk menjemput istrinya di kampus, ia meninggalkan kantor begitu saja karena hari ini ia tak bisa fokus untuk bekerja. Aditya begitu ingin menemui Ziana, ia merindukannya sekaligus mengkhawatirkannya.
Di lihatnya wanita cantik yang tengah berdiri di depan halte, wajahnya begitu sumringah saat melihat mobil suaminya tengah berada tepat di depan matanya.
Ziana pun masuk ke dalam mobil kemudian ia menoleh pada pria tampan yang kini tengah tersenyum menatapnya, Aditya mengusap lembut puncak kepala Ziana.
"Kau tidak apa - apa?" tanya Aditya dengan posisi yang masih sama.
"Tidak memangnya kenapa?"
Kenapa pertanyaan nya seperti itu ya? apa Kak Ditya tau soal kejadian tabrakan aku dan Evan. Ah tidak mungkin tau dari mana coba. Tenang Zi, lo nggak buat salah kok.
Ziana mencoba memberikan semangat pada dirinya sendiri. Ia pun membalas senyuman suaminya seperti tidak terjadi apa - apa.
"Apa sekarang kita langsung pulang?"
"Ya." Aditya hanya menjawab singkat semua pertanyaan Ziana ia masih kesal karena Ziana tak berbicara jujur soal ia yang tadi bertemu dengan Evan meski tak sengaja dan juga soal pikirannya akan keselamatan Ziana membuatnya tak fokus untuk mengajak Ziana berbicara banyak.
Kok hawanya dingin ya, Kak Ditya balik lagi ke asal dingin dan kaku. Apa dia kesal sama gue ya, gue ngomong apa nggak ini soal Evan tadi?
Selama perjalanan menuju appartemen mereka hanya diam dengan pemikiran mereka masing - masing. Setelah sampai di unit appartement mereka pun masuk, seperti biasa Aditya akan langsung menuju ke dapur untuk meminum air mineral dingin dari dalam lemari pendingin.
Ziana seperti tengah merapal doa, dia terus saja berucap di dalam hati nya untuk bicara atau tidak tentang kejadian tadi di kampus. Ia pun menarik nafas dalam kemudian menghembuskan nya perlahan, berbicara dalam kondisi seperti ini membuat nya takut.
"Suami ku, apa kau marah pada ku?" tanya Ziana hati - hati, ia tak mau mood suaminya makin buruk.
"Tidak, memangnya kenapa?" Aditya menaruh botol air mineral yang telah ia habiskan sesaat sebelum Ziana berbicara.
"Tadi aku tak sengaja bertemu dengan Evan di kampus." Ia terus memperhatikan perubahan raut wajah suaminya, datar dan tanpa ekspresi.
"Hmm." hanya itu jawaban dari Aditya.
"Aku sudah berusaha jujur pada mu, jika itu tetap menjadi masalah untuk mu maka terserah pada mu." Ziana nampak kesal ia berbalik untuk menuju kamar tetapi saat akan berbalik tangan nya di tarik oleh Aditya hingga ia jatuh di pelukan suaminya.
"Aku bukan mempermasalahkan itu sweety, ini tak ada hubungannya dengan mu. Aku hanya sedang pusing dengan masalah di perusahaan, maaf jika telah membuat mu tak nyaman." Aditya memeluk Ziana erat seolah ia takut akan ada yang memisahkannya.
"Oh aku pikir kau marah pada ku, apa masalah perusahaan sangat berat?" Ziana mendongakkan wajahnya agar bisa melihat Aditya.
"Tidak juga hanya saja..sweety dengarkan aku, kau harus selalu memberitahu ku kemana pun kau pergi." Aditya menunduk menatap Ziana intens.
"Memangnya kenapa? Apa hubungannya dengan masalah perusahaan?" Ziana mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Ini memang tak ada kaitannya dengan perusahaan tapi aku hanya tak suka jika kejadian seperti tadi terulang lagi, kau tau aku adalah pria yang posesif." lanjutnya.
"Tapi kan itu tak di sengaja." ucap Ziana.
"Apa pun alasannya aku tak suka jika istriku terlalu dekat dengan pria mana pun. Kau milik ku dan selamanya akan tetap seperti itu, kau mengerti?"
Drrrt..Drrttt
Ponsel Aditya bergetar dengan cepat ia melihat layar ponselnya setelah sebelumnya mereka melepaskan ciuman bibir dari keduanya. Sesuai dengan dugaannya yang menelponnya adalah team Eagle yang ia perintahkan untuk segera mencari siapa dalang di balik teror kemarin.
Aditya mengangkat panggilan telpon bertepatan dengan Ziana masuk ke dalam kamar karena ia memang ingin segera membersihkan diri.
"Hallo, bagaimana?" ucap Aditya dengan menghela nafas lega karena kini tak ada Ziana di sampingnya, ia tak ingin jika Ziana sampai tau yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Tuan kami belum mendapatkan informasi yang akurat sepertinya ada orang kuat di belakang nya, karena kita selalu kehilangan jejaknya." ucap team Eagle yang memberikan hasil penyelidikannya.
"Aku tidak mau tau, kalian harus bisa mendapatkannya. Dan ingat jangan sekalipun kalian lengah menjaga istri ku."
"Baik Tuan."
Aditya pun memutus sepihak panggilan telponnya, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat karena menahan amarah yang kapan saja bisa meledak tapi sekuat tenaga ia menahannya, jangan sampai Ziana mengetahuinya.
"Shittt!! siapa sebenarnya orang yang berani menantangku!" Tangannya memukul sofa yang ada di hadapannya, beruntungnya tak menimbulkan suara begitu keras.
"Suamiku, kau kenapa?" Ziana yang baru keluar dari kamar melihat Aditya seperti tengah marah.
"Tidak apa sweety, hanya masalah kecil." Aditya tersenyum dengan menatap wajah istrinya yang terlihat segar setelah membersihkan diri.
"Oh syukur lah, sudah makan?"
"Sudah tapi memakan mu sepertinya itu lebih baik." Aditya tersenyum smirk, dan langsung menggendong Ziana ala bridal style kemudian memasuki kamarnya untuk melakukan kegiatan yang sangat Aditya suka. Ziana tampak pasrah tak melawan saat ia di bawa suaminya ke dalam kamar karena baginya menolak ajakan suami hukumnya adalah dosa, begitu lah potongan dakwah dari mamah ebeh yang saat itu ia tonton bersama dengan Ibu nya.
***
Brakkkk
Pintu ruangan praktek dokter Bara terbuka dengan keras oleh seseorang. Bara yang saat itu tengah mengantuk refleks berdiri dengan tatapan mata bingung. Ia kemudian menyipitkan matanya melihat orang yang telah membuatnya kaget.
"Kenapa tak sekalian saja kau robohkan pintu nya Nona." Bara mulai berkacak pinggang saat mengetahui Lena lah orang yang telah membuka pintu ruangannya dengan kencang.
"Tidak ada waktu berbicara soal pintu, kau harus ikut aku sekarang." Lena mencoba mengatur nafasnya ia berlari dengan sekuat tenaga hingga menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Bara.
"Tidak ada waktu bernegosiasi hidup kita sedang di ujung tanduk, kau mengerti?" dengan cepat Lena menarik tangan dokter Bara dengan setengah berlari, hingga menarik perhatian orang yang melihat kejadian yang menurut mereka sangat janggal. Jika dalam keadaan normal biasanya laki - laki yang akan menarik tangan wanitanya tetapi ini malah sebaliknya.
"Kita mau kemana? bisa kah kau berhenti sebentar, ini sangat memalukan." Bara mencoba untuk menghentikan langkah gadis yang seperti banteng matador, ia terus berlari tanpa melepaskan tangan Bara menuju tempat parkir.
"Apa kau tak punya rasa malu sedikit pun, aku di sini seorang dokter."
"Aku tau, tapi bisakah kau berhenti membanggakan pekerjaan mu, ada hal yang lebih gawat dari itu." Ucap Lena sarkas.