
Saat pulang kampus Lena mengajak Ziana untuk makan dan nonton di bioskop, Lena sepertinya tak ingin kehilangan moment jalan bareng sahabatnya itu sebelum Ziana melepas masa lajangnya.
Lena seaakan tau jika nanti setelah status Ziana berubah menjadi istri orang maka kebiasaannya hang out bareng pasti akan di batasi oleh suaminya Ziana, maka dari itu ia telah menyiapkan daftar harian akan melakukan apa saja saat jam perkuliahan selesai.
"Lo sampai bikin list segini banyak?" tanya Ziana saat mereka tengah berada dalam mobil dan Ziana kini memegang catatan kecil berisi daftar apa saja yang akan di lakukakan bersama sang sahabat.
"Iya lah sebelum lo di pingit sama laki lo." ucap Lena dengan masih fokus dengan menyetir mobilnya.
"Gue masih ada di bumi Odah, nggak bakal pindah ke pluto gue. Kayak nggak akan ketemu lagi aja." Ziana tak mengerti dengan jalan pikiran teman yang selalu ada untuknya itu.
"Iya kali aja Mun, laki lo ngekepin lo terus siang malam."
"Pikiran lo tuh ya kejauhan banget, eh makan dimana kita?" tanya Ziana yang kini perutnya telah meronta minta untuk di isi.
"Di cafe ujung jalan aja yuk." jawab Lena.
"Oke lah." Ziana pun mengangguk setuju lalu mereka pun bergegas memacu kendaraannya untuk bisa secepatnya sampai karena perut mereka yang sudah berbunyi.
Sesampainya di cafe mereka lalu berjalan ke sudut cafe yang kosong, dengan menunggu pesanan yang telah mereka pesan sebelumny, sesaat setelah sampai di cafe.
Saat tengah asik tertawa bersama karena menceritakan hal - hal konyol yang mereka lakukan dulu saat pertama kali masuk dunia mahasiswi, dari arah pintu datang lah dua orang pria tampan dengan setelan baju yang hampir sama kemeja di gulung hingga siku dan celana bahan juga sepatu pantofel yang membedakan hanya dari raut wajah, yang satu dingin nyaris tak ada senyuman dan satunya lagi berwajah hangat penuh dengan senyuman.
Ya mereka adalah Bara dan juga Aditya yang tengah janjian untuk makan bersama karena telah lama mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. Tetapi Aditya tak menyangka jika calon istrinya itu berada di cafe yang sama.
Ia pun menghampiri Ziana yang tengah tertawa bahagia bersama Lena, kedua gadis itu tak menyadari bahwa mereka kedatangan tamu yang akan membuat tawa kencang mereka berubah hening seketika saat Aditya sampai di meja mereka.
"Sepertinya kau tengah bahagia sweety?" tanya Aditya dengan mendekati ke samping Ziana, sedangkan Bara yang memang belum mengenal Ziana hanya mengikuti dari belakang.
Ziana yang kaget langsung menghentikan tawanya, ia menatap bingung Aditya karena ada di cafe yang sama padahal mereka tak ada janji.
"Kak Ditya." Ucap Ziana dengan memandang Aditya yang kini tengah berdiri di sampingnya.
"Kenalkan calon istriku." Aditya berbicara kepada Bara sedangkan Lena yang membelakangi Bara belum mengetahui jika teman Aditya merupakan orang yang selalu membuatnya kesal jika mereka bertemu.
"Ziana."
"Bara." Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan nama masing - masing dan di saat yang bersamaan Bara yang akan berbalik ke arah tempatnya semula begitu terkejut melihat Lena tengah menatap dengan pandangan yang sama.
"Kau !!" seru mereka secara bersamaan dengan ke dua telunjuk mereka yang saling berhadapan.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Aditya yang juga menatap bingung keduanya.
"Ya." ucap Bara singkat.
"Apa dia..?" tanya Aditya yang belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi sudah di potong oleh Bara. Aditya telah mengetahui perjodohan yang di lakukan oleh Oma nya Bara karena dari dulu setiap kali bertemu, Oma Ratna yang merupakan Oma nya Bara selalu menceritakan jika Bara telah ia jodohkan. Dan terakhir kali dalam sambungan telpon Bara pun menceritakan keluh kesahnya tentang perjodohan itu.
"Ya." lanjut Bara lagi.
"Apa maksud Kak Ditya?" Ziana yang memang belum mengerti duduk permasahan yang sebenarnya terlihat mengerutkan keningnya bingung.
Aditya pun duduk di bangku samping tempat duduk Ziana begitupun Bara yang nampak tak bersemangat dengan duduk di samping tempat duduk Lena.
"Ceritakanlah." Aditya menatap Lena.
Lena yang merasa di tatap oleh Aditya pun entah mengapa seperti terhipnotis dengan cepat ia pun menceritakan dari awal pertemuannya dengan Bara hingga tentang perjodohan mereka.
"Jadi begitu ya?" Ziana tersenyum senang melihat Lena dengan wajah yang di tekuk saat menceritakan semua hal yang terjadi padanya akhir - akhir ini.
"Apa kau?" ucap Lena yang tak sengaja beradu pandang dengan Bara.
"Apa?" sahut Bara yang tak mau kalah.
"Ya ampun kalian itu jangan terlalu saling membenci, kalau sudah kena panah dewa cupid bucin nanti." ucap Ziana.
"Ogah." ucap Bara dan Lena kompak dan mereka pun saling pandang kemudian saling memalingkan muka.
"Ah sudah lah aku mau pesan makan dulu kita makan di sini saja. Jangan protes tak ada meja kosong lagi, kau lihat saja sendiri." Ucap Aditya cepat saat tau Bara akan menyela ucapannya.
Setelah pelayan datang untuk mencatat semua pesanan Aditya, Bara yang kesal karena makan siang kali ini harus berdampingan dengan gadis yang membuatnya pusing dengan perjodohannya.
"Kenapa tak bilang pada ku kalau kau keluar untuk makan di sini, hmm?" tanya Aditya yang tak mempedulikan raut wajah sahabatnya.
"Maaf aku tadi lupa." ucap Ziana dengan senyumnya, ia berharap akan lolos dari pertanyaan lanjutan yang akan membuatnya tak bisa berkata saat kesalahannya tak memberi kabar pada Aditya di permasalahkan.
"Baiklah, aku tak mempermasalahkannya kali ini, karena berujung dengan makan siang dengan ku." ucap nya lalu ia pun menggengam tangan Ziana dengan terus memandang wajah kekasihnya itu membuat Bara yang ada di hadapannya pun berdecih.
"Cihh.."
Aku tak menyangka ternyata begitu bucin nya kau pada gadis ini, Ya Tuhan aku sangat mual melihat ekspresi wajah nya. Lihat dia bahkan lupa dengan image nya sendiri saat bersama dengan kekasihnya.
Karena kesal melihat kejadian di hadapannya tanpa Bara sadari ia mengambil minuman dan meminum nya hingga tandas, dengan tatapan tajam dari si pemilik minuman yang ada di sampingnya itu.
"Apa minumannya enak, Pak dokter?" Lena menekankan kata - katanya karena kesal.
"Iya lumayan." jawab Bara yang masih belum menyadari dengan apa yang telah ia lakukan.
"Astaga." seru Bara seketika sadar dengan menepuk keningnya sendiri dan menoleh ke arah Lena yang masih menatap tajam dirinya.
"Cie yang saling benci udah ciuman tak langsung aja tuh dari sedotan yang sama." Ziana menggoda ke dua nya saat ia melihat dengan sudut matanya kejadian di hadapannya itu.
"Aku tak sengaja, sumpah!!" ucap Bara yang seperti salah tingkah mendengar perkataan dari Ziana.
"Kenapa setiap bertemu dengan mu mood ku selalu terjun bebas." ucap Lena dengan menghela nafasnya.