In Memories

In Memories
part 46



"Eh lo duluan aja Van, gue lagi nunggu Lena dulu janjian di sini soalnya." Ziana menolak halus ajakan evan, ia tak ingin ada kesalah pahaman nantinya apalagi jika sampai Aditya tau.


"Oh ya udah gue duluan ya." Evan mengangguk tersenyum dan memakai helmnya kembali, ia pun meninggalkan Ziana.


"Untung aja dia bisa ngertiin kalau nggak bisa ribet urusannya." gumam Ziana.


Ia pun mulai berjalan menuju kelasnya, untuk secepatnya menemui sahabatnya meski ia belum tau jika orang yang ia akan temui sudah ada atau belum di kelas.


"Odahhh." teriak Ziana dari pintu melihat Lena yang tengah memoleskan lipstiknya, karena terkejut mendengar teriakan Ziana lipstik pun jauh mengenai pipinya.


"Mumun kamprettt liat nih gara-gara lo lipstik gue melenceng jauh sampai ke pipi." Tunjuk Lena pada pipinya yang terlihat guratan lipstik yang lumayan panjang.


"Hahahaha lo kaget sampai segitunya Len, kayak lagi ketangkap basah satpol pp lo." Ziana tertawa melihat Lena yang tengah cemberut dengan mengelap pipinya menggunakan tisu basah.


"Lagian kenapa sih lo teriak kayak orang lagi demo aja lo."


"Gue lagi happy aja Len kan malam gue abis di apelin sama yayang gue." Ziana terus saja tersenyum mengingat apa yang terjadi tadi malam.


"Seriusan lo bukannya kemaren lo masih marahan kan?" tanya Lena yang terlihat terkejut.


"Udah nggak marah dong malah dia sweet banget tau Len."


"Iya tau deh yang lagi mabuk cinta, semoga lo langgeng ya Zi dan doain gue moga gue bisa dapetin sesuai pria idaman gue." Lena memeluk Ziana erat, ia bahagia setidaknya sahabatnya itu telah mendapatkan kebahagiaannya.


"Pasti dong Len, gue doain lo semoga lo cepat sold out juga biar ada teman berantem selain sama gue." Ucap Ziana yang memberikan doa tulus untuknya.


Tak lama setelah itu dosen bagian pengajar materi kuliah pun datang.


***


Aditya yang baru datang ke perusahaan nya, keluar dari mobil dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Ia menyapa setiap karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya membuat semua karyawan merasa kaget karena jika bukan mereka tak pernah sekalipun selama mereka bekerja mendapat sapaan dari si pemilik perusahaan.


Suasana hati Aditya yang baik sangat berpengaruh pada kinerja karyawan karena mereka merasa tenang saat bekerja. Tak akan ada bencana selama mood big boss baik berbeda jika mood boss mereka buruk akan ada badai yang menimpa mereka.


"Selamat pagi Sekertaris Angga." Aditya menyapa Angga yang seperti biasa tengah berdiri di depan pintu ruangan Aditya setiap pagi sebelum ia masuk untuk membacakan jadwal harian Aditya.


"Selamat pagi juga Tuan." Angga yang merasa kaget juga mendapat sapaan hangat dengan senyum yang tak lepas dari Aditya.


Apa aku bermimpi, selama aku bekerja denganya tak pernah sekalipun ia seramah ini. Apa kepalanya terbentur sesuatu tadi di jalan? ahh aku tau sepertinya ini efek samping dari mabuk asmara yang sedang Tuan Aditya rasakan.


"Apa jadwalku hari ini padat?" tanya Aditya setelah ia memasuki ruangannya dan duduk di meja kerjanya.


"Iya Tuan hari ini ada rapat dengan beberapa klien kita, jadi mungkin akan memakan waktu yang lama." Ucap Sekertaris Angga dengan menatap tab nya.


"Baiklah." Aditya menghela nafas kasar karena itu artinya tidak ada lagi kesempatannya untuk bisa menemui Ziana saat jam makan siang nanti.


"Kau kembalilah ke ruanganmu."


"Baik Tuan saya permisi." Angga pun berlalu setelah pamit pada Aditya.


"Hmmm." Aditya pun mengangguk dan dengan cepat ia melihat ponselnya melihat wallpaper foto Ziana yang ia dapat dari foto profil kekasihnya itu.


"Maaf untuk hari ini kita tak bisa bertemu dulu." Aditya berbicara dengan foto seperti Ziana ada di hadapannya.


***


Ia pergi seorang diri dan tak mau melibatkan Lena karena baginya ini adalah sesuatu yang belum pasti pantang baginya untuk ia ceritakan kepada siapa pun.


Ziana pergi dengan menggunakan taksi, ia memberikan alamatnya kepada supir kemudian setelah 15 menit perjalanan sampailah ia di perusahaan kosmetik yang ia tuju. Dengan langkah cepat dan setengah berlari menuju lobby perusahaan.


Brukkkkk


Karena terlalu terburu - buru dan ia tak melihat dengan jelas matanya yang tampak sibuk melihat ke segala arah membuatnya bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf." Ucap mereka secara bersamaan.


"Ziana."


"Evan." Ucap kedua nya secara bersamaan.


"Lo ngapain di sini?" ucap Evan dengan keningnya yang berkerut.


"Gue ke sini mau ke ruangan HRD." Jawab Ziana.


"Lo ngelamar kerja di sini?" tanya Evan lagi.


"Nggak sih gue dapat kerjaan juga nggak sengaja yang pas foto model dadakan ke tiap daerah katanya sih gue lolos dan gue di suruh ke sini." Ziana terpaksa menjelaskan kepada evan karena ia juga bingung harus mengatakan apa.


"Oh jadi lo yang dapat?" Evan tersenyum simpul.


"Ko lo tau, lo kerja di sini?" tanya Ziana yang dengan menautkan kedua alisnya.


"Yupp gue kerja di sini kebetulan sebagai model juga, jadi bisa sambil kuliah. Lo mau ke ruangan HRD kan yuk gue anterin." Ucap Ean dengan menggandeng tangan Ziana yang belum sempat menjawab pertanyaan dari Evan.


Ziana tampak pasrah mengikuti kemana pun Evan melangkah karena memang ia tak tau dimana ruangan yang ia akan tuju. Mereka berdua naik lift untuk sampai di lantai 3 tempat dimana ruangan HRD berada.


Begitu sampai di ruangan, mereka mengetuk pintunya.


Tok...tok...tok...


"Masuk." Ucap seseorang di dalam ruangan.


"Evan, kok bisa ada apa?" Evan yang membuka pintu tersenyum melihat raut wajah terkejut kepala bagian HRD tersebut.


"Ini Pak, katanya teman saya ada panggilan kerja untuk mengisi bagian model." Mereka berdua duduk di hadapannya.


"Oh iya Nona Ziana Bilbina?" tanya kepala bagian tersebut dengan menjabat tangan Ziana.


"Iya saya Ziana." Ia menyambut uluran tangannya.


"Saya Heri Sulistio kepala bagian HRD yang akan mengurusi bagian kontrak Nona Ziana, nah ini surat kontraknya silahkan anda baca terlebih dahulu." Pak Heri menyerahkan surat kontrak dari dalam lacinya.


"Apa jika saya setuju dengan kontrak ini tidak akan mengganggu jadwal kuliah saya Pak?" tanya Ziana dengan masih memegang surat kontraknya.


"Itu bisa di atur Nona pihak kami bisa memakluminya karena di sini ada beberapa juga model yang juga sebagai mahasiswa." Jawab Pak Heri dengan mengangguk tersenyum mengerti apa yang menjadi ganjalan dari gadis di hadapannya itu.


"Apa ada yang akan di tanyakan lagi?" lanjutnya.


Ziana menoleh kepada Evan yang ada di sampingnya untuk meminta pencerahan karena ia merasa Evan jauh lebih mengerti, tapi yang di lihat hanya tersenyum mengangguk tanda bahwa ia tak usah khawatir lagi.