In Memories

In Memories
part 93



"Itu karena aku tidak ingin kau jauh dari ku sweety." ucap Aditya dengan mengelus pipi putih mulus istrinya.


"Tidak akan lama sayang hanya beberapa hari ya." Ziana terus merengek manja untuk meluluhkan hati suaminya agar mendapatkan izin saat nanti waktunya tiba.


"No." tegas Aditya dengan menggoyangkan jari telunjuknya di depan Ziana.


Baiklah sudah ku duga percobaan pertama pasti akan berakhir seperti ini, tenang Ziana waktu masih panjang bulan depan itu artinya masih ada waktu beberapa minggu lagi. Aku akan mengeluarkan semua jurus ku hingga mendapatkan izin darinya.


Ziana mengerucutkan bibirnya ia pun melipat ke dua tangannya di atas dada, dan itu membuat Aditya semakin gemas melihat istrinya yang tengah merajuk padanya.


"Kau boleh meminta apapun pada ku sweety tapi tidak dengan satu hal itu. Dan jangan bertingkah seperti itu, atau aku akan memakan mu lagi." Aditya mulai mendekati Ziana, ia terus menggeser duduknya dan Ziana terus mundur untuk menghindari Aditya sampai tubuhnya tak bisa mundur lagi karena sudah di ujung sofa.


"Tidak mau." teriak Ziana kemudian ia berlari masuk ke dapur, ya tempat paling aman untuknya saat ini agar ia bisa mengisi perutnya dengan sepuasnya dari pada masuk ke dalam kamar sama saja menyerahkan dirinya.


"Bagaimana aku tak jatuh cinta padamu sweety, kau sangat menggemaskan." Aditya tersenyum melihat tingkah istrinya.


Ponsel Aditya bergetar ada notif pesan masuk dengan segera ia pun membukanya sebuah laporan hasil penyelidikan dari team Eagle.


"Brengsek siapa sebenarnya kau!"gumam Aditya dengan mengepalkan tangannya karena laporan yang ia terima belum juga membuahkan hasil mengenai siapa dalang yang ada di balik semua ini.


***


Pagi yang cerah menyambut hari yang panjang untuk mereka yang berjuang dalam hidupnya, Setiap orang mempunyai kesibukan masing - masing dengan menyambut pagi yang merupakan awal dari kehidupan setelah istirahat di malam hari untuk mengumpulkan energi yang telah terkuras habis.


"Pagi sweety? Aditya tersenyum menatap istrinya yang tengah bergelung di bawah selimutnya. Yang di panggil malah makin asyik menarik gulingnya kembali dan melanjutkan tidurnya.


"Apa pagi ini kau tidak ada kuliah?" Tanya Aditya kembali saat ini ia tengah bersiap untuk bekerja karena pagi ini akan di adakan rapat penting di perusahaan.


"Apa kuliah?" teriak Ziana terbangun dengan mata yang langsung terbuka, ia lupa jika hari ini ada kelas pagi. Dengan cepat ia pun berlari ke dalam bathroom untuk membersihkan dirinya.


Aditya hanya menggeleng, kemudian ia pun melangkah pergi ke dapur untuk membuat sarapan, karena istrinya itu terlambat bangun.


Ia pun hanya membuat sarapan simple sandwich dengan dua gelas susu, kini Aditya pun mulai sarapan sembari menunggu istrinya keluar kamar.


"Maaf aku terlambat bangun." Ziana duduk lalu ia pun meneguk susu yang ada di hadapannya.


"Tidak apa sweety." Aditya menarik ujung bajunya untuk melihat jam yang melingkar di tangannya, masih ada waktu tersisa sedikit untuk sarapan. Untungnya kampus Ziana searah jalan dengan perusahaannya jadi tak akan menghabiskan banyak waktu untuk mengantar istrinya terlebih dahulu.


"Kita berangkat sekarang saja yuk, aku juga sudah terlambat." Ziana mengahabiskan susu nya hingga tandas lalu mengapit sandwich di bibirnya, sedangkan Aditya telah selesai sarapannya.


"Kau tidak apa - apa makan di mobil?" tanya Aditya dengan menatap heran istrinya yang sejak keluar dari kamar seperti sibuk sendiri memakai baju hingga menyusun buku juga memeriksa isi tas yang akan ia bawa.


"Iya aku sudah biasa, ayo." Ziana berlari secepatnya dan segera memakai sneakers putih nya dengan terus mengunyah sandwich nya.


"Kau ini masih seperti bocah yang terlambat untuk sekolah." Aditya hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah rusuh istrinya.


Kini mereka tengah berada di mobil, Ziana sibuk mengeluarka isi tas nya dengan cekatan ia memoleskan make up natural untuk wajahnya yang tampak pucat jika tanpa riasan. Melihat hal itu Aditya yang tengah fokus menyetir mobil pun menoleh ke arahnya.


"Dengar suami ku aku hanya memakai riasan natural agar wajah ku tak terlihat seperti orang sakit, masalah mereka tertarik pada ku itu urusan mereka. Yang penting hati aku hanya untuk suami ku, saranghae oppa." Ziana mengedipkan matanya dengan membuat finger love di depan Aditya.


"Kau ini selalu saja bisa membuatku luluh." Aditya hanya tersenyum melihat tingkah Ziana.


Setelah beberapa menit perjalanan sampai lah mereka di depan kampus Ziana. Saat Ziana akan turun tangannya di cekal oleh Aditya.


"Kiss me sweety."


"Tapi kalau ada yang lihat gimana?" Ziana terlihat melihat ke kanan dan ke kiri seolah melihat situasi.


"Tidak akan mobil mahal ku tidak tembus pandang sweety." ucap Aditya.


Karena Ziana berpikir terlalu lama dengan cepat Aditya mencium bibir Ziana, ia menyesapnya dengan lembut dan setelah itu Ibu jarinya mengusap lembut bibir tipis milik istrinya.


"Love you too." Perkataan yang keluar dari mulut Aditya membuatnya blusshing, ia sangat bahagia dengan perlakuan manis Aditya saat ini.


"Aku keluar ya, hati - hati di jalan." Ziana kemudian turun untuk segera masuk ke dalam kampus karena ia sudah terlambat. Dan Aditya pun melajukan mobilnya menuju perusahan Erlangga Corp.


Dengan langkah yang tegap dan senyum yang terus mengembang di bibirnya, Aditya memasuki gedung perusahaan miliknya. Mood nya yang tengah baik saat ini juga berdampak pada bawahannya mereka seolah ikut merasakan kebahagian Aditya.


"Selamat pagi Tuan." Ucap Angga.


"Pagi, apa semuanya sudah siap?" tanya Aditya dengan terus melangkah menuju kursi kebesarannya.


"Sudah Tuan dan Ini ada laporan yang harus Tuan periksa terlebih dahulu, ada masalah di cabang yang ada di Bali Tuan."


"Oh ternyata ada yang ingin bermain dengan ku." Aditya membuka berkas laporan dan membacanya meski sekilas ia tau ada yang tak beres. Aditya membuat gesture di dagu, dengan tangan yang satu lagi masih memegang berkas.


"Kita harus turun tangan langsung, agar masalah tidak semakin melebar dan bisa teratasi dengan cepat."


"Baik Tuan."


"Dan kau yang harus mengurusnya, untuk saat ini aku belum bisa meninggalkan istri ku." ucap Aditya dengan santai.


Sudah ku duga endingnya seperti ini, kenapa harus mengatakan kita jika hanya aku yang akan berangkat ke cabang yang di Bali.


"Jangan mengumpatku, jika kau masih ingin gaji mu utuh." Ucap Aditya dengan terus menatap berkas yang ada di tangannya tanpa melihat ke arah Sekertarisnya.


"Tidak Tuan saya tidak berani." ucap Angga dengan tegas.


Menakutkan Tuan Aditya selalu tau apa yang ada di kepala ku.


"Tenang saja setelah semua masalah selesai kau boleh berlibur satu hari di sana."


"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya permisi untuk menyiapkan keperluan rapat." Angga pun keluar dengan senyuman mendengar kata berlibur dari Aditya.