
"Tuan hari ini jadwal anda menghadiri resepsi pernikahan putri dari Tuan Gilang." Ucap Sekertaris Angga membacakan jadwal harian Aditya.
"Hmm.." Jawabnya dengan mengangguk.
"Jika anda tak berkenan hadir juga tak apa tuan karena bukan merupakan investor besar juga di perusahaan kita."
"Aku akan datang." Ucap Aditya dengan berdiri dan hendak melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
"Baik Tuan." Angga pun ikut melangkah mengikuti Aditya untuk pergi ke acara tersebut.
Tak biasanya Tuan Aditya ikut hadir dalam pesta orang yang tak begitu penting baginya. Ada apa sebenarnya??
Ia pun bergegas untuk segera menelpon supir agar segera menyiapkan mobil Tuan Aditya. Setelah sampai di lobby, mobil pun sudah siap Aditya dan Angga segera masuk ke dalam mobil. Dengan segera mereka pun pergi meninggalkan perusahaan.
Sesudah sampai di hotel, Aditya langsung turun dari mobilnya untuk segera masuk ke dalam ballroom hotel. Ia berjalan dengan di temani oleh Sekertaris Angga, mereka berjalan beriringan dan langsung menuju ke pelaminan untuk memberikan ucapan kepada pengantin.
Sesaat setelah turun dari pelaminan, ia pun mengedarkan pandangan, matanya menangkap sosok yang telah mengusik hidupnya semenjak pertemuan pertamanya dulu.
Ia melihat gadis berisiknya itu dari awal berjalan dengan sahabatnya dan kemudian berpencar hingga ada seorang pria yang mendekatinya. Matanya menangkap dengan jelas pria yang sama dengan yang dulu pernah ia temui di cafe bersama Ziana. Hatinya sangat panas, darah di kepalanya terasa sangat mendidih ia sangat kesal dan mencoba untuk mengontrol emosinya.
"Van gue ke toilet dulu ya." Ucap Ziana.
"Mau gue antar?" Evan mencoba untuk menwarkan diri mengingat ini adalah hotel jadi ia takut Ziana tersesat.
"Nggak usah gue bisa sendiri." Ziana tersenyum dan berlalu pergi dari hadapan Evan, ia berjalan dengan terus melihat arah toilet di sebelah mana.
Tanpa ia sadari Aditya berjalan mengikuti langkahnya dari belakang, ia terus berjalan dan masuk ke dalam toilet wanita. Aditya melupakan Sekertarisnya yang masih ada di dalam hotel, ia meninggalkannya begitu saja.
Saat ia keluar dari toilet wanita betapa terkejutnya ia melihat seseorang dengan setelan jasnya sedang bersandar di dinding tembok toilet. Kemudian ia pun berbalik dan menatap Ziana dengan sangat tajam.
"Kak Ditya." ucap Ziana melihat Aditya yang sedang berdiri di hadapannya dengan sangat dingin.
"Ikut aku." Ia menyeret Ziana dengan terus mencekal lengan nya agar mengikuti kemana arah langkah Aditya.
"Lepas Kak, kita mau kemana ini? aku harus ada di sana acaranya belum selesai." Ziana berusaha melepaskan tangannya yang di pegang oleh Aditya dengan sangat erat hingga membuatnya sedikit merasa kesakitan.
Aditya yang tak mengindahkan ucapan Ziana terus saja melangkah pergi berjalan keluar dari hotel menuju mobilnya. Ia membuka pintu dan memasukkan Zian ke kursi penumpang, dan ia pun masuk dengan cepat ia melajukan mobilnya meninggalkan hotel.
"Kita mau kemana Kak?" Ziana yang bingung, bertanya pada Aditya pun percuma laki-laki itu hanya diam dan terus memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ziana mulai ketakutan, ia terus berusaha untuk membujuk Aditya agar memelankan laju kendaraannya tapi semua nya hanya sia-sia. Mobilnya terus saja ia pacu dengan cepat karena rasa kesalnya tadi melihat Ziana yang memakai baju yang menurutnya sangat terbuka dan itu di lihat oleh semua pria yang ada di sana, terlebih lagi oleh pria yang tadi berbicara dengannya. Ia sangat marah melihat hal itu.
Setelah beberapa saat di perjalanan, mobil pun berhenti di sebuah pantai. Tapi tidak ada satupun yang keluar dari mobil, mereka diam dengan pikirannya masing-masing.
"Katakan lah." Ucap Aditya memecah keheningan di antara mereka.
"Apa sebenarnya yang kau mau dari ku?" lanjutnya dengan tetap memegang stir mobilnya erat dan pandangan yang tetap menatap lurus ke depan.
"Apa menurut Kak Aditya aku wanita yang mengincar hartamu? apa aku serendah itu di matamu Kak?" Ziana yang kini mengerti arah pembicaraan yang di maksud Aditya.
"Jika memang serendah itu aku di matamu maka seberapa kuat pun aku membela diri ku itu akan percuma." Lanjut Ziana dengan meremas gaunnya mencoba menahan tangis nya, ia mendongak ke atas agar air matanya tak jatuh.
Aditya hanya diam membisu mendengarkan apa yang Ziana katakan, ia bingung harus berkata apa atau memang dirinya yang salah seperti yang bara katakan, ini mungkin hanya kesalah pahaman.
"Aku memang hanya dari keluarga biasa, aku cukup tau diri sekarang Kak tapi tak berarti aku seburuk apa yang ada dipikiranmu"
"Maaf jika memang aku telah lancang suka padamu dan mengusik hidup mu, sekarang aku sudah menjauh dari hidup mu lalu untuk apa lagi aku harus menjelaskannya?" lanjutnya.
Saat Aditya membuka mulutnya untuk berbicara ponsel Ziana bergetar.
Drrrrrttt...drrrrttt
"Hallo iya Van?" Ziana mengangkat panggilannya yang ternyata dari Evan. Aditya sempat melihat siapa yang menelpon Ziana.
"Aku di..." belum sempat Ziana menyelesaikan ucapannya, Aditya merebut ponsel itu dan mematikannya.
Aditya dengan cepat memajukan badannya ke hadapan Ziana sampai tak ada jarak di antara mereka, kemudian di raihnya tengkuk Ziana lalu ia mencium lembut bibir manis yang selama ini selalu ia perhatikan. Bibir merah alami yang menggoda dan dari orang yang selalu ia rindukan.
Ziana yang mendapat ciuman tiba-tiba dari Aditya hanya bisa terdiam membeku, sekujur tubuhnya seperti tak dapat ia gerakkan. Matanya membulat karena rasa kaget yang ia rasakan.
Apa ini rasanya ciuman, ini ciuman pertama gue. Oh ya ampnn tidakkkk.
Seketika Ziana tersadar dan mendorong tubuh Aditya. Ia merasa tidak bisa bernafas karena ciuman itu dan karena ia sadar atas dasar apa Aditya menciumnya.
"Apa maksud Kak Ditya? kenapa mencuri ciuman pertamaku hah!!" Ziana menatap lekat wajah Aditya ia ingin melihat ekpresi dan jawaban dari Aditya.
"Cih apa kau tak pernah melakukannya dengan pacar mu?" Aditya malah balik bertanya dan menatap Ziana intens.
"Sudah aku katakan berapa kali bahwa aku belum punya pacar, dan apa tadi maksud mu kau merendahkan ku lagi!!" Ziana berteriak tak dapat lagi menahan emosinya berkali-kali ia seperti di rendahkan oleh Aditya.
"Lalu laki-laki tadi dan yang menelpon mu itu tidak kau akui?" tanya Aditya dengan mengangkat sebelah halisnya.
"Dengar ya dia hanya teman ku, dan lagi aku wanita yang tak ada ikatan dengan siapa pun jadi mau jalan kemana pun dengan lawan jenis tak ada larangannya." Ziana terus menatapnya.
"Apa yang di lihat oleh mata belum tentu seperti apa yang sebenarnya terjadi. Jangan pernah berpikir hanya dengan satu belah pihak tanpa menanyakan kepada orang yang bersangkutan." lanjutnya.
Mereka berdua saling menatap lekat saling menyelami pemikiran mereka dan saling melihat dengan kedua mata mereka untuk mencari kebohongan yang di sembunyikan.