
Saat jam makan siang kali ini Ziana dan Aditya tidak banyak berbicara, mereka sibuk dengan pikirannya masing - masing.
"Apa yang kau pikirkan, hmm?" tanya Aditya setelah mereka selesai makan.
"Tidak ada Kak." jawab Ziana tersenyum.
"Apa Kak Ditya tidak kembali kerja?"
"Sebentar lagi setelah mengantarmu." Aditya melihat jam di tangannya setelah itu ia pun menatap Ziana dengan sangat dalam.
"Jangan coba menguji kesabaran ku, ok?"
"Iya Kak, aku harap Kakak mengerti aku merasa ini masih sangat baru bagi ku, aku yang terbiasa sendiri kadang lupa kalau ada orang yang sedang menunggu kabarku. Maafkan aku." Ziana menunduk merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.
"Sudah lah aku mengerti." Aditya tersenyum mengusap rambut Ziana dengan penuh kasih.
"Apa sekarang kita bisa pergi?" tanya Aditya.
"Ayo Kak Ditya juga harus kembali ke perusahaan." Ziana pun berdiri dan di ikuti oleh Aditya yang menggenggam erat tangan Ziana dengan melangkah meninggalkan cafe.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan penuh kebencian, ia mengepalkan tangannya melihat kemesraan yang terlihat di depan matanya.
Melihat lelaki pujaan hatinya yang ternyata sudah mempunyai kekasih membuatnya meradang menahan amarah.
"Jadi dia yang telah mencuri hatimu yang membuatmu meninggalkan ku saat kita makan bersama dan setelah itu kau pun tak ada kabar sama sekali, tidak akan ku biarkan kau di miliki oleh siapa pun. Kau hanya milik ku Aditya." gumam wanita itu dengan mengeratkan giginya.
Rania gadis yang terakhir Aditya temui dan ia tinggalkan di cafe saat itu. Gadis yang tak pernah menyerah untuk menggapai cintanya pada sosok Aditya, meskipun harga dirinya telah di lukai karena ia di tinggalkan begitu saja. Tapi baginya itu bukanlah suatu masalah malah menjadikannya cambuk agar tetap bisa mengejar cintanya.
Sementara itu mobil yang di tumpangi oleh Aditya juga Ziana telah sampai di depan rumah Ziana.
"Kak Ditya mau mampir dulu?" tanya Ziana
"Lain kali saja aku masih banyak pekerjaan." Aditya tersenyum lalu ia mengecup tangan Ziana seraya tersenyum.
"Baiklah Kak aku turun dulu." Ziana yang tengah tersipu malu oleh perlakuan manis dari Aditya, ia memilih untuk segera turun dari pada harus terus salah tingkah di depan kekasihnya itu.
"Hmm jaga dirimu setiap saat kabari aku, sekalipun keluar rumah kau harus mengabari ku."
"Iya Kak aku pasti akan selalu mengabari mu." Ziana pun turun dan menutup pintu mobil. Setelah itu mobil pun melaju meninggalkan rumah Ziana.
Ziana yang tengah bahagia terus saja tersenyum, ia lupa bahwa ada hati yang tengah terluka di saat ia meninggalkan resto dengan Aditya. Evan yang kini mulai mengerti dengan sikap aneh Ziana yang selalu menolaknya setiap ia mengajaknya untuk sekedar mengantar pulang.
***
"Aduh kening ku sakit sekali." Bara mengelus keningnya yang tampak memerah setelah mendapatkan sundulan dari kepala Lena.
"Ya Tuhan kenapa aku harus selalu bertemu dengan gadis bar - bar itu, dan kenapa aku selalu bodoh jika berhadapan dengannya?" Bara yang kesal dengan Lena terus saja mengumpat di dalam ruangan kerja nya.
"Bagaimana aku harus menghadapi pasien ku ini sangat memalukan, awas saja jika nanti aku bertemu dengannya lagi. Ah tidak semoga aku tak pernah bertemu dengannya lagi." Bara menggelengkan kepalanya untuk mengusir semua pikirannya tentang Lena.
Tok..Tok..Tok
"Iya masuk."
"Dok sudah waktunya untuk melakukan operasi, dokter yang lainnya sudah siap." ucap perawat ber name tage Vela.
"Ah iya baiklah aku segera menyusul." Bara pun langsung bersiap dengan mengganti baju steril untuk melakukan tindakan operasi.
Beberapa jam setelah melakukan tindakan operasi yang sangat menguras tenaga dan konsentrasinya, ia melangkah keluar untuk melepas lelahnya. Saat tengah berjalan menuju parkiran untuk menuju mobilnya ponsel di dalam saku celana nya pun bergetar.
"Siapa ini no baru? ah biarkan saja paling orang iseng." gumam nya ia tak mengindahkan panggilan tersebut.
Tak berapa lama ponselnya berdering kembali dengan no yang sama, karena terus menelpon ia pun mengangkat panggilan itu.
"Hallo siapa ini?"
"Hallo Pak dokter yang terhormat bagaimana kening anda?" tanya suara dari seberang sana.
"Kau, ada apa menelpon ku?" Bara yang sedang bersandar pada kursi kemudi seketika langsung duduk tegak mendengar suara dari orang yang paling ia hindari.
"Issh kau lupa urusan kita belum selesai permasalahan mobil itu bagaimana?" tanya Lena.
"Kau tinggal sebutkan berapa jumlahnya dan kirim saja no rekeningmu." jawab Bara karena ia malas untuk bertemu langsung dengan Lena.
"Baiklah sekarang aku tunggu di bengkel XX , kau pasti tau kan. Kau sendiri yang harus membayarnya langsung."
Baru saja Bara akan membuka mulutnya tapi panggilan di akhiri sepihak oleh Lena.
"Astaga gadis ini benar - benar membuatku naik darah, ia selalu melakukan hal seenaknya." Mau tak mau Bara harus pergi menemui Lena karena ia tau kalau Lena adalah gadis yang nekat pasti ia akan terus menunggu di bengkel sebelum ia datang.
***
"Zi belikan Ibu keperluan bulanan ya ini daftarnya di minimarket depan saja biar nggak jauh." Ucap Bu Rina dengan menyerahkan daftar belanjaan nya pada Ziana yang tengah duduk dengan membaca novel.
"Kenapa nggak nunggu Zian dulu sih Bu? jadi aku nggak perlu jalan kan capek." Jawab Ziana dengan bibirnya yang mengerucut.
"Cuma jalan ke depan kamu itu jangan mager gitu biar sehat."
"Ya udah iya aku berangkat dulu." jawab Ziana tapi sebelum nya ia mengirim pesan terlebih dahulu pada Aditya karena ia tak mau mengulangi lagi kesalahannya sebelum kesalahan paling fatal nanti ia hadapi.
Sesampainya di mini market ia segera memilih barang sesuai daftar pesanan yang di tulis Ibunya.
Bruukk..
"Ah maaf." ucap Ziana dan orang yang bertabrakan dengannya.
Posisi Ziana yang nyaris limbung itu membuatnya kehilangan keseimbangan, dan pria yang bertabrakan dengan nya dengan refleks langsung menarik tangan Ziana agar tak terjatuh.
"Ah iya tidak apa - apa." pria itu tersenyum dengan menatap lama Ziana setelah itu ia berlalu pergi.
"Aneh." gumam Ziana.
"Good job hasil yang sangat sempurna" seseorang di sebrang sana tengah tertawa melihat kiriman foto yang ia terima.
Ziana melanjutkan belanjaannya yang tertunda agar segera pulang ke rumah karena cuaca sudah mulai mendung.
Sementara itu Aditya baru selesai meeting dan sedang berbincang dengan Sekertaris Angga di ruang kerjanya mereka sedang membahas tentang pengajuan kerja sama dari beberapa perusahaan.
"Sepertinya hari ini kita harus lembur." ucap Aditya dengen mengendurkan dasi nya.
"Baik Tuan."
Beberapa berkas menumpuk yang harus di pelajari bahkan berkas yang harus ia tanda tangani sebagai pemimpin perusahaan ia harus tetap bekerja maksimal karena nasib ribuan karyawan perusahaan bergantung di pundaknya.
Ia memijat keningnya karena lelah yang ia rasakan, tetapi seketika senyumnya mengembang melihat notif pesan yang ia terima.