
Setelah sampai di appartemennya Aditya bergegas membuka laptopnya, untuk melihat laporan dari Angga karena ponselnya mati. Begitu tau siapa pelakunya, Aditya menyeringai dan mengepalkan tangannya.
"Ternyata kau masih belum menyerah mengejarku, akan ku beri kau pelajaran hingga membuatmu sadar siapa yang saat ini kau hadapi." ucap Aditya setelah tau jika Rania lah yang menjadi dalang dari semua foto yang di kirim untuknya itu.
"Rania kau terlalu terobsesi pada ku, cih..ternyata ini yang kau rencanakan." gumam Aditya, ia lalu melangkah menuju bathroom untuk membersihkan dirinya dan setelah itu ia pun mengganti pakaiannya untuk beristirahat.
***
Ziana yang saat itu tengah berbaring di kamar tidurnya di kejutkan oleh suara gedoran pintu yang sangan memekakkan telinganya.
Tokk...Tokk...Tokk
"Bangun woi, buka pintunya buruan." Zian yang menggedor pintu kamar sang Kakak terlihat heboh karena ia tak hentinya terus menerus menggedor pintunya.
Mau tak mau Ziana pun melangkah untuk membuka pintunya.
Ceklek..
"Lo apaan sih? kebiasaan banget tau nggak?" Ziana yang baru saja membukakan pintunya terlihat kesal.
"Itu di depan ada si Frida." bisik Zian pada Ziana.
"Itu bukannya temen lo, kenapa jadi bangunin gue?" Ziana hendak berbalik masuk ke kamarnya lagi tapi ia urungkan saat mendengar siapa yang ikut datang bersama Frida.
"Ada Kak Evan juga."
"Yang bener lo, nggak lagi ngeprank gue kan lo?" Ziana yang sangat kaget dengan ucapan Zian menepuk - nepuk pipinya, semoga ini hanya mimpi baginya.
"Ya Ampun bagaimana ini? Ziana mondar - mandir sudah seperti setrikaan." membuat Zian pusing dan kemudian ia dengan segera menghentikan langkah Kakak nya.
"Masalah ada untuk di hadapi bukan untuk di hindari, udah yuk buruan." dengan cepat Zian pun menarik tangan Ziana untuk menemui mereka yang sudah duduk di teras depan.
"Hai Zi, apa kabar?" Evan menyapa Ziana yang terlihat canggung.
"Kabar baik Van, Frida apa kabar?" tanya Ziana menyapa gadis cantik yang tengah menatap Zian tanpa berkedip.
"Ah aku baik Kak." jawab Frida yang tengah tersipu malu ketauan tengah memperhatikan Zian.
"Sebentar ya, aku ambilin minum dulu, Zian duduk yang anteng dulu di sini, ok?" Ziana menggoda adiknya yang terlihat sangat tak bersemangat dengan tamu yang saat ini ada di hadapannya.
Setelah membuat minuman dingin juga membawa kue kering untuk menemani mereka berbincang, Ziana datang dengan nampan yang penuh dan menyimpannya di atas meja.
"Zi apa benar lo udah keluar dari perusahaan?" tanya Evan.
"Emang bener? ko gue nggak tau?" Zian yang baru tau juga merasa kaget.
"Iya Van." Ziana mengangguk dan tersenyum, ia kini bingung karena belum memberikan penjelasan kepada keluarganya.
"Kenapa? padahal karier lo lagi bagus."
"Ada hal yang nggak bisa gue jelasin Van."ucap Ziana.
"Baiklah jika itu keputusan yang baik buat lo."
"Eh Frida baru pertama ya ke sini?" Ziana mengalihkn pembicaraan.
"Iya Kak." ucap Frida yang tengah duduk di hadapan Zian.
"Tentu tidak Kak, aku malah makin suka." ucap Frida salah tingkah, sedangkan Zian memutar bola matanya jengah.
Mereka terus saja mengobrol kesana kemari hingga kadang canda tawa terjadi saat obrolan berlangsung. Suasana yang awalnya canggung makin mencair dengan sikap mereka yang makin banyak membuka obrolan. Hingga tak terasa waktu pun menunjukan pukul 10 malam dan mereka pun pamit undur diri.
***
Setelah kepergian Frida dan Evan dari rumahnya, Zian langsung memeberondongnya dengan pertanyaan.
"Lo beneran keluar dari kerjaan lo?" tanya Zian saat ini mereka tengah berkumpul bersama dengan keluarganya di ruang tengah.
"Iya gue udah keluar." jawab Ziana
"Apa maksudnya kamu sudah tak bekerja lagi di perusahaan dan berhenti menjadi model, kenapa?"
"Kak Ditya nggak suka kalau wajah dan tubuh aku di konsumsi publik."
"Dia nggak boleh gitu donk namanya jadi foto model ya gitu resikonya, lagian kok kamu mau aja sih nurut terus sama dia, suami kamu juga bukan baru juga jadi pacar udah ngatur terus." Bu Rina sewot karena anaknya kini tak lagi berprofesi menjadi seorang model.
"Sebenarnya kemarin aku di lamar sama Kak Ditya, tapi aku masih bingung harus bagaimana Bu, ini sangat mendadak."
"Wah yang benar kamu?" Bu Rina yang tadinya mengerucutkan bibirnya kini tersenyum lebar.
"Iya katanya ia akan memintaku langsung pada Ibu dan Bapak."
Zian yang masih kaget dengan banyaknya kejutan yang di bawa oleh Kakaknya hanya bisa diam dengan mulutnya yang terbuka lebar.
"Lo mau kawin muda Zi?" tanyanya.
"Gue juga nggak tau masih bingung sih gue, menurut Ibu gimana?
"Ya ampun anak Ibu yang nggak nyangka Ibu, kamu ternyata cepat banget lakunya sayang, baru juga umur 20 taun udah ada yang mau meminang mu mana pengusaha kaya lagi, kalau Ibu sih setuju aja asal ingat ya jangan lupa sama kuliah kamu." Ucap Bu Rina.
"Iya Bu, Zi pasti akan terus kuliah Kok."
"Dengarkan Ibu sekaya apa pun suami mu nanti, kamu harus tetap kuliah karena kita tak bisa bergantung sepenuhnya pada suami. Jodoh itu rahasia Tuhan kita tak tau ke depannya apa yang akan terjadi nantinya, setidaknya dengan kamu berpendidikan tinggi kamu bisa siap jika segala kemungkinan yang tak di inginkan terjadi." Begitulah petuah dari Bu Rina yang terkadang sangat bijak jika mode Ibu peri tengah menghampirinya.
"Tentu Bu." Ziana pun mengangguk.
"Putriku Bapak juga sama tak menyangka jika kamu sudah mau di persunting oleh pria lain, rasanya baru kemarin kamu Bapak azankan ketika baru lahir ke dunia ini tapi sekarang kamu sudah dewasa. Kamu sudah tau mana yang baik dan tidak, Ibu dan Bapak menyerahkan semua keputusan di tangan mu. Karena kamu nantinya yang akan menjalani kehidupan mu." ucap Pak Risman.
Obrolan di malam hari kali ini merupakan perbincangan paling serius, membicarakan hubungan Ziana dan Aditya yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.
Di sisi lain ada kebahagiaan tersendiri bagi kedua orang tua Ziana karena ia jatuh pada pria yang baik dan mapan itu akan membuat anak yang mereka sayangi tak akan merasa kurang kasih sayang dan materi yang cukup, bukannya matrealistis tapi orang tua Ziana mencoba realistis mereka ingin anak yang selama ini di jaga dan di rawat dengan baik akan di perlakukan seperti seorang ratu oleh pasangannya.
"Kapan Aditya akan melamar secara resmi nak?" tanya Pak Risman.
"Katanya dalam waktu dekat Pak."
"Apa benar kamu sudah siap jika nantinya menjadi seorang istri?" tanya Bu Rina.
"Zi juga masih bingung Bu, tapi melihat kesungguhan dari Kak Ditya, Zi meyakinkan diri bahwa keputusan yang Zi ambil ini sudah tepat."
"Gue yang bakal kangen lo dong." Zian pun menghela nafasnya.
.