
Aditya menatap lekat Ziana ia melihat kekasihnya itu, tapi hatinya tetap merasa kecewa ia tak biasa untuk di abaikan.
"Kau sudah membuatku kecewa, sepertinya aku sudah terlalu memanjakan mu." Aditya tersenyum smirk, kekesalan nya pada Ziana hampir hilang kendali.
"Dengarkan aku baik - baik, kau adalah milik ku sampai kapan pun aku tak akan pernah melepaskan mu dan aku paling tidak suka jika milik ku di lihat apalagi di sentuh oleh pria lain." ucapnya dengan pandangan mata yang tajam.
Mampus gue, gimana kalau dia lihat nanti saat launching majalah gue pemotretan bareng Evan. Habis gue.
"Apa kau mengerti?" lanjutnya lagi.
"Iya aku mengerti Kak." Ziana pun mengangguk ia belum mau berterus terang tentang pemotretan nya dengan Evan, ia berpikir semoga keberuntungan memihak padanya dengan tidak sampainya berita mengenai dirinya sebagai model oleh Aditya.
"Good girl." Aditya mulai bersikap seperti biasa.
Aditya menelpon Angga untuk mengantarkan kunci mobil padanya dan menjadikan Angga sebagai perwakilan perusahaan menemui Tuan Simon. Setelah kunci berada di tangan nya, Aditya menarik tangan Ziana untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Tapi teman - taman ku di dalam bagaimana Kak? Aku tidak enak." Ziana menatap ragu Aditya karena tadi ia datang dengan team nya dan sekarang malah meninggalkan mereka di saat hari pertama mereka bertemu dan merayakan kedatangannya sebagai model baru. Setelah sesi pemotretan selesai mereka sepakat untuk makan bersama dalam rangka penyambutan untuk Ziana, tetapi keadaan yang tak memungkinkan membuat semua nya hancur berantakan.
"Angga yang akan mengurusnya." Aditya menekan pedal gas nya untuk pergi meninggalkan resto yang telah membuat mood nya buruk.
"Baiklah." Ziana hanya mengangguk pasrah.
"Kita mau kemana Kak?"
"Makan tadi kau juga baru makan sedikit kan?" Ucap Aditya menoleh tersenyum pada Ziana.
"Iya Kak." Jawab Ziana dengan senyum yang tak surut dari bibirnya.
Syukurlah dia sudah tidak marah lagi dan semoga gue bisa selamat saat launching majalah nanti. Ah ya ampun gue ngerasa seperti gue takut ketauan selingkuh padahal cuma pemotretan bareng.
***
"Kyaaa apa yang kau lakukan hah?Lena berteriak kaget saat seseorang tengah mengendap - ngendap berjongkok di belakangnya.
"Suttt berisik, kau tidak liat aku sedang bersembunyi bukan bernyanyi, jadi diam lah." Bara terus saja mengintip dari balik mobil Lena saat itu posisi kedua nya berada di luar mobil karena Lena yang akan pulang sesudah menjenguk Oma Rita tetapi dari arah belakang Bara yang tadinya berjalan langsung menunduk dan berlindung di mobil Lena.
"Kau bersembunyi dari wanita itu?" Lena menunjuk wanita berbaju terusan berwarna navy dengan perhiasan mewahnya yang sangat glamour, berbeda jauh jika di bandingkan dengan dirinya yang hanya memakai celana jins dan kaos juga sneakers.
"Apa mata mu rabun Pak dokter dia sangat cantik tapi kau menghindarinya apa jangan - jangan kau itu.." Lena yang tengah berdiri di depan Bara menunjuknya dengan memicingkan mata.
"Apa yang kau pikirkan hah? aku masih normal." Bara yang tau arah pikir dari gadis yang ada di hadapannya itu.
"Iya kan bisa saja, zaman sekarang sudah banyak lho. Apalagi di usia mu yang sudah cukup umur sepertinya aneh saja." Lena terus saja mengoceh menilai Bara sesuka hatinya.
"Kau bisa tidak sekali saja mulutmu berkata benar pada tempatnya, tapi ya susah bocah seperti mu tak akan pernah mengerti."
"Apa kau bilang aku bocah?" Lena sudah mulai kesal karena pria yang ada di hadapan nya terus saja membalas semua omongannya.
"Dasar kau pria bermulut lemes, besok pakai rok saja sana." Lena mulai berkacak pinggang.
"Sekali bocah ya tetap saja bocah." Bara yang sudah berdiri dari semenjak perang kata dengan Lena memilih untuk pergi dari pada harus meladeni ucapannya yang tak akan ada habisnya.
"Tunggu." Lena berteriak saat langkah kaki Bara mulai berjalan menjauh dari nya.
"Cabut kata - kata mu yang mengataiku bocah atau.." Lena tak melanjutkan perkataannya.
"Atau apa hah?" Bara makin menantang Lena.
"Akan ku tunjukan siapa sebenarnya bocah di antara kita."
Lena mulai mendekati Bara, ia terus berjalan hingga tubuh mereka hanya berjarak beberapa inci saja. Kejadian ini bagai dejavu bagi mereka.
Lena yang hanya mempunyai tinggi sebatas bahu Bara, ia mendongakkan wajahnya menatap Bara intens lalu di tarik nya kerah kemeja Bara hingga kini wajah mereka hanya berjarak beberapa inci sangat dekat.
Saat itu dengan susah payah Bara menelan saliva nya melihat dari dekat wajah seseorang yang selalu membuatnya kesal, yang sialnya terekam jelas di otak Bara bahwa Lena sangat cantik.
Bara terus memperhatikan wajah Lena terutama bibir mungilnya yang merah alami membuat jantungnya berdegup kencang, saat tengah mengagumi Lena tiba - tiba lena menyundul kepalanya ke kening Bara dengan keras.
Duuuukk
"Aww sakit." ringis Bara dengan memegang keningnya yang merah terkena sundulan kepala Lena.
"Rasakan bagaimana bocah labil?" Lena mencibir Bara kemudian ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Bara yang tengah menatapnya dengan perasaan yang sangat kesal.
"Ah dua kali dia membuatku mati kutu, awas tunggu saja pembalasan ku." Bara pun pergi meninggalkan parkiran untuk menuju ke ruangan prakteknya.
***
Di ruang kelas yang saat ini tengah ramai karena guru yang seharusnya mengajar tidak masuk. Tugas yang di berikan guru sebagai pengganti agar siswa tetap bisa belajar hanya sebagai wacana guru saja. Kenyataan nya mereka hanya menyontek dari murid rajin yang mengerjakannya, selebihnya hanya sibuk dengan kegiatan yang tak berfaedah.
"Zi besok sebelum manggung, kita ngumpul di tempat biasa apa dimana?" tanya Dimas.
"Jangan di tempat biasa lokasi nya jauh dari sana, kita kumpul di depan sekolah aja lebih dekat." Jawab Zian yang tengah sibuk dengan ponselnya bermain game.
"Oke lah gue sih setuju." sahut Luki.
Posisi mereka berempat berkumpul berhadapan tapi mata dan tangan mereka sibuk dengan kegiatan di ponsel masing - masing, hanya mulut mereka yang masih saling bersahutan.
"Lapar nih gue kantin yuk." ucap Darma yang sudah meletakan ponselnya.
"Yuk ah gue juga lapar." Mereka pun pergi meninggalkan ruang kelas untuk menuju ke kantin.
Bolos di jam kelas merupakan hal yang tak aneh bagi mereka, tak perduli dengan keadaan sekitar, mereka terus saja makan dengan di selingi canda tawa dan membuat gaduh kantin.
"Gila aja gue kemaren nolongin cewek cantik banget, pas gue mau kenalan eh kampret cowoknya datang mana badannya gede banget lagi." ucap Luki yang terkenal paling getol menggoda wanita.
"Terus lo mundur alon - alon dong." tawa Dimas mengejek sang sahabatnya.
"Dari pada gue masuk rumah sakit."
Tawa mereka pun pecah mendengar ucapan dari ke dua nya.
"Kalian sedang apa di sini hah?" teriak Pa Dani dengan berkacak pinggang menatap tajam ke empat muridnya yang tengah bolos.