
Tak berapa lama dokter Fiko keluar dan Ziana juga Bara langsung menghampirinya untuk segera menanyakn kondisi Aditya.
"Bagaimana keadaan suami saya dokter?" tanya Ziana.
"Kondisinya sudah mulai stabil, tapi belum sadarkan diri. Untuk saat ini Tuan Aditya harus di rawat agar bed rest dulu selama beberapa hari dan kita akan memantau lebih jauh lagi kondisinya." jawab dokter Fiko yang tadi langsung di hubungi oleh Bara sesaat setelah Bara menerima kabar dari Ziana.
"Baik dok, lakukan yang terbaik agar suami saya bisa pulih lagi."
"Tentu Nona, baiklah jika begitu saya permisi dulu."
"Thanks bro." ucap Bara pada dokter Fiko, ia pun melangkah pergi meninggalkan keduanya yang terdiam setelah mendengar penjelasan darinya.
"Kau sebaiknya sarapan dulu, ini sudah pagi perutmu pasti masih kosong." ucap Bara yang mengerti dengan keadaan Ziana.
"Tidak aku hanya ingin menemani suamiku."
"Baiklah kita antar Ditya menuju ruangannya ya." Perawat datang dengan mendorong brangkar Aditya, melihat itu Ziana dan Bara pun segera menghampirinya untuk ikut mengantarnya sampai ke dalam ruangan VIP yang biasa menjadi tempatnya jika ia di rawat.
Sesampainya di ruang rawat Aditya masih juga belum sadarkan diri. Bara pamit keluar, ia tau jika Ziana saat ini pasti membutuhkan waktu untuk berdua dengan suaminya meskipun Aditya belum sadar.
"Sayangku buka matamu ya, jangan tidur terlalu lama ada aku di sini yang selalu menantikan kehadiranmu. Aku sungguh mencintaimu lelaki hebatku." Ziana mencium tangan Aditya yang ia genggam tanpa terasa air matanya kembali menetes dan mengenai punggung tangan Aditya.
Aditya mengerjapkan matanya, ia melihat di sekelilingnya yang berwarna putih dan sosok yang begitu ia cintai tengah menangis menggengam tangannya. Antara sadar dan tidak karena ia merasa tengah bermimpi saat ini.
"Kenapa menangis?" Aditya mengeratkan genggaman tangannya dan punggung tangan sebelah kananya tertancap jarum infus, selang kecil yang mengalirkan cairan infus itu bergoyang saat Aditya berusaha menggapai pipi istrinya untuk mengusap air mata yang membasahi pipinya yang selalu membuatnya gemas.
Ziana berusaha untuk terlihat tenang, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya, karena itu hanya akan membuat Aditya merasa terbebani. Tetapi perasaan yang selalu berkecamuk di dalam hatinya karena takut kehilangan suaminya menjadi alasan terkuat untuk membuatnya menangis. Ziana tak bisa lagi menahan air matanya, tetapi dengan senyum yang mengembang Aditya menyeka air mata yang kini mengalir di pipi istrinya.
"Jangan menangis sweety, aku baik - baik saja." ucap Aditya dengan senyumnya, ia tak ingin membuat istrinya khawatir.
"Jangan selalu memendamnya sendirian, kau berjanji padaku untuk selalu berbagi senang dan sedihmu bersamaku, bahkan sehat dan sakitmu pun harus kau bagi denganku."
Aditya hanya membalasnya dengan senyuman.
Maafkan aku yang harus selalu membuatmu menangis sayang, maafkan ketidak berdayaanku ini.
"Kemarilah." Ziana pun mendekatkan tubuhnya pada Aditya. Tangannya mencoba menggapai pipi Ziana kembali dan membingkai wajah istrinya yang matanya terlihat bengkak dan sembab.
"Aku mohon jangan menangis lagi ya, kau harus selalu tersenyum jika bersamaku." Ziana hanya mengangguk, di tatapnya wajah tampan suaminya yang kini pucat. Mungkin kondisi seperti ini akan selalu ia alami nanti ke depannya, bahkan membayangkannya saja ia sudah tak sanggup tapi apalah dayanya ia tetap harus siap dan kuat demi suaminya.
"Kenapa tak membangunkan aku? dan kenapa bisa seperti ini?" tanya Ziana.
"Tidak apa sweety, sudah tidak perlu membahasnya."
"Apa sekarang sudah tidak sakit?"
"Tidak, Aku haus." jawab Aditya dengan tetap menampilkan senyumnya.
"Ah iya bahkan aku melupakan hal itu, ini minumlah." Ziana pun memberikan air minum yang berada di nakas di samping bed dan membantu Aditya untuk minum setelah selesai ia pun menaruh gelasnya kembali.
"Kau bahkan masih menggunakan piyama."
"Tidak apa yang terpenting adalah suamiku, aku tak peduli dengan penampilanku saat ini."
"Tentu karena kau hanya milikku." Di saat seperti ini Aditya masih bisa menggoda istrinya dengan mengerlingkan matanya.
"Apa aku penting bagimu?"tanya Ziana yang kini duduk di samping Aditya di atas bed yang sama dan sebelah tangan Aditya yang melingkar pada perut Ziana.
"Kenapa kau berkata seperti itu, tentu saja kau adalah yang terpenting dalam hidupku."
"Maka biarkan aku mengambil sebagian bebanmu, jangan berjalan sendirian dan meningalkanku." Aditya terdiam mendengar wanitanya mengiba kepadanya.
"Baiklah." ia tersenyum dan mencium tangan Ziana. Melihat Ziana yang kembali menagis karenanya membuat hatinya remuk. Biarlah semuanya berjalan seiring waktu meski entah sampai kapan keadaannya seperti ini akan terus berlanjut. Hanya takdir yang mampu menjawab akan seperti apa ke depannya nanti. Baginya terus bersama dengan istrinya kini sudah cukup membuatnya bahagia.
***
"Bagaimana kabar Kak Ditya sekarang." ucap Lena yang sedang mengatur nafasnya karena ia baru saja mendapatkan kabar dari kekasihnya Bara jika suami sahabatnya kembali di rawat di rumah sakit.
"Tadi saat aku tinggalkan masih belum sadarkan diri." Lirih Bara yang kini duduk di luar ruangan meskipun masih satu lantai dengan ruang rawat Aditya, ia hanya tak ingin mengganggu privasi Aditya dan istrinya.
"Aku tak bisa membayangkan pasti kepanikan Zi saat itu." ucap Lena kini ikut duduk di sebelah Bara.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Ini hal yang biasa terjadi pada pasien kanker, sebelum sel kanker hilang di tubuh seseorang maka kesehatannya akan mudah mengalami penurunan, apalagi jika adanya stres dan kelelahan juga imun yang turun akan membuatnya drop." jelas Bara.
"Aku pikir ini semua sudah berakhir."
"Bujuklah Ziana makan sampai saat ini dia belum makan apa pun, aku takut dia juga akan jatuh sakit."
"Pasti akan ku paksa jika perlu, ya ampun Zi beratnya ujian cinta kalian." lirih Lena.
"Sebaiknya kita temui mereka sekarang." Bara dan juga Lena pun berjalan menuju ruangan Aditya.
Tok..Tok..Tok
"Masuk."seru Ziana.
"Kau sudah sadar, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Bara melihat orang yang dari tadi di khawatirkannya telah membuka matanya.
"Sudah lebih baik."
"Kau sudah makan?" lanjutnya.
"Sudah baru saja."
"Dan kau Zi?" tanya Lena yang melihat Ziana dengan penampilan yang masih menggunakan piyama dan sandal rumah, meski begitu ia terlihat imut.
Ziana hanya diam dan Aditya pun mengerutkan keningnya, tadi ia juga sudah curiga jika istrinya itu belum makan tapi Ziana bersikeras mengatakan jika ia sudah makan.
"Ajaklah istriku makan." Ucap Aditya pada Lena.
"Baiklah sebaiknya kita sarapan dulu di bawah ya, di sini Kak Ditya ada yang menemani kan." Lena mencoba membujuk Ziana.
"Baiklah, Kak Bara aku titip suamiku ya. Ingat jangan di tinggal ok."
"Tentu." Jawab Bara.
Setelah itu mereka keluar untuk menuju kantin di lantai bawah. Tak berapa lama dokter Fiko datang bersama perawat untuk memeriksa kondisi terkini dari Aditya, kesehatannya harus terus di pantau, pengecekan sample darah yang harus selalu di lakukan untuk mengetahui perkembangannya.