
Malam yang panjang telah berganti pagi yang menghangatkan untuk memulai rutinitas seperti biasanya, tetapi tidak dengan pasangan pengantin baru yang kini masih terlelap tidur dengan saling berpelukan seolah takut akan terpisahkan. Hingga matahari merangkak naik baru lah kedua insan yang baru merasakan malam panjang sebagai pasangan suami istri itu terbangun dari tidurnya.
Ziana mengerjapkan matanya perlahan ia merasa kan perutnya seperti tertindih sesuatu, perlahan matanya terbuka saat ini ia baru menyadari bahwa dirinya kini telah resmi menjadi seorang istri. Ia melihat di sampingnya tengah tertidur dengan lelap suami tampan yang membuatnya jatuh cinta untuk yang ke dua kalinya.
Di tatapnya dengan intens wajah Aditya yang tengah tidur dengan lelapnya, Ziana tersenyum melihat pemandangan indah di pagi hari ini. Ya melihat pemilik hatinya yang tampan kini ada di hadapan matanya dan itu akan selalu ia lihat setiap harinya bahkan sampai tua nanti.
"Aku memang tampan bukan?" ucap Aditya dengan masih memejamkan matanya, Ziana yang tengah memandang lekat wajah suaminya itu pun terkejut.
"Ish Kak Ditya sudah bangun dari tadi ya?" Ziana memukul kecil dada bidang suaminya, tetapi dengan cepat tubuhnya di tarik hingga jatuh ke pelukan Aditya.
"Biarkan begini dulu sebentar saja, aku masih belum percaya jika sekarang kau adalah istriku." Ia berbicara dengan masih memejamkan matanya, menghirup aroma rambut istrinya di pagi hari ini membuatnya begitu menenangkan hatinya.
Ziana hanya pasrah mengikuti kemauan suaminya kini, tetapi baru beberapa saat dirinya di pelukan Aditya, perutnya berbunyi minta jatah untuk di isi.
Kruyukk...
"Apa kau lapar?" Aditya tersenyum mendengar bunyi perut Ziana yang terdengar sangat nyaring.
Sumpah demi apa pun ini perut benar - benar ngajak berantem bikin malu gue. Heh perut kenapa kau harus berteriak di saat seperti ini sih!! bikin malu.
"Aku memang lapar Kak semalaman kau terus saja menguras tenaga ku, wajar saja pagi ini aku begitu lapar." Ziana dengan cepat menutup mulutnya yang berbicara tanpa filter.
Sekarang mulut sialan yang berbicara dengan seenaknya, kenapa kau juga harus mempermalukan ku juga. Argggghhh
"Maaf kan aku sweety, kau pasti lelah?" Ucap Aditya menatap wajah Ziana dengan perasaan bersalah.
"Iya tapi sebaiknya kita makan saja sekarang ya?" Ucap Ziana ia hendak berdiri tetapi bagian intinya terasa sangat bengkak dan nyeri.
"Aduh." seru Ziana dengan meringis menahan sakit.
"Kau kenapa? apa masih begitu sakit?" Aditya tampak khawatir ia kemudian berdiri dan duduk di samping Ziana.
"Iya Kak untuk berdiri pun aku tak sanggup."
"Kau mau membersihkan diri?" Aditya lalu menggendong Ziana ala bridal style tanpa menunggu jawaban dari istrinya itu. Ia membawa Ziana ke dalam bathroom dan mendudukan Ziana di dalam bath up.
"Aku bisa mandi sendiri Kak." ucap Ziana
"Untuk berdiri pun kau tak bisa mana bisa mandi sendiri, sudah lah aku yang akan membantu mu membersihkan tubuh mu." Aditya mencoba melepaskan pakaian Ziana.
"Tapi Kak.." Ziana tak melanjutkan perkataannya ia bingung untuk mengatakannya.
"Aku janji tak akan melakukannya lagi, kau pun masih kesakitan seperti itu." jawabnya.
Ziana hanya mengangguk dan membiarkan Aditya melepaskan semua pakaiannya untuk kemudian ia membersihkan tubuhnya. Aditya menelan saliva nya , ia mencoba untuk menahan hasratnya dan kembali memandikan Ziana.
Setelah acara mandi bersama selesai Ziana di gendong kembali oleh Aditya untuk berpakaian.
"Hari ini kita di kamar saja ya, jika kau belum bisa berjalan jangan di paksakan. Aku akan memesan makanan dan kita makan di kamar saja." ucap Aditya yang sudah berpakaian lengkap.
***
Hari ini adalah pertemuan Oma Rita dan juga Oma Ratna dengan tujuan agar ke dua cucu nya itu saling mengenal agar semakin dekat. Oma Ratna dan Bara yang baru sampai di rumah Oma Rita langsung heboh dengan gaya mereka bak mama muda yang lama tak bertemu.
"Hallo jeng lama tak bertemu kita ya, bagaimana kabar nya sekarang?" ucap Oma Ratna dengan menghampiri Oma Rita yang berdiri dengan menggunakan tongkat dan saling menempelkan pipi masing - masing secara bergantian.
"Ah baru juga minggu lalu kita tak bertemu Jeng, kabar ku baik hanya kaki ku saja yang tak mau sembuh." jawab Oma Rita.
"Ah cucu mantu ku yang tampan, Oma sangat senang bisa melihatmu lagi." Bara pun menghampiri dengan mencium tangan Oma Rita.
"Bisa saja Oma ini." ucap Bara dengan senyum di bibirnya.
"Hey Lele sini kau jangan hanya diam saja." seru Oma Rita yang melihat Lena hanya diam berdiri dengan tatapan kosong.
"Eh iya Oma apa kabarnya?" Lena dengan segera mencium tangan Oma Ratna.
"Baik cucu mantu ku yang cantik, Oma sudah tak sabar ingin segera melihat kalian menikah."
Bara dan Lena yang mendengar perkataan Oma Ratna kompak berdehem, dengan kode tatapan mata seakan berkata " bagaimana ini?"
"Ah lebih baik kita duduk dulu Jeng agar pembicaraan kita semakin santai." Mereka pun duduk bersama di ruang tamu keluarga.
"Oma sebenarnya ada yang ingin kita sampaikan soal perjodohan itu." Lena membuka suara lebih dulu.
"Kita? apa maksud mu?" ucap Oma Rita yang telah mencium bau keanehan dari kata - katanya.
"Sepertinya kita tidak bisa untuk meneruskan perjodohan ini, karena kita berdua tidak ada kecocokan untuk bisa bersama." ucap Lena panjang lebar dengan Bara yang hanya diam saja tanpa menyahuti perkataan Lena.
"Aduh kepalaku pusing sekali, aduh kenapa dada ku begitu sesak." seru Oma Rita dengan bergantian memegang kepala dan juga dada nya.
Semua orang yang ada di sana menjadi panik, melihat reaksi dari Oma Rita atas ucapan Lena.
"Bagaimana ini, cepat kau periksa Oma ku. Kau kan seorang dokter ayo cepat lakukan sesuatu." Lena begitu panik melihat Oma Rita yang seperti kesakitan.
"Iya sebentar aku akan membawa alat - alat ku di mobil." saat keduanya tengah berdebat Oma Rita mengedipkan matanya pada Oma Ratna, mereka berdua pun tersenyum.
"Cepat sedikit bila perlu kau lari." teriak Lena pada Bara.
Secepat mungkin Bara kembali kemudian ia memeriksa keadaan Oma Rita yang tengah bersandar pada kursi.
Bara pun mengerutkan keningnya pasalnya tak ada suatu yang aneh pada Oma Rita maka pikirnya mungkin ini karena shock mendengar berita yang membuat hati Oma kecewa sehingga pikirannya langsung down.
"Bagaimana?" tanya Lena mengguncangkan tangan Bara, melihat itu kedua Oma yang tengah saling berhadapan itu tersenyum simpul secapat mungkin agar tak ketauan oleh Bara juga Lena.
"Oma hanya shock, dengan beristirahat dan menenangkan hati dan pikirannya itu juga akan pulih kembali. Sebaiknya jangan biarkan Oma berpikir yang berat, apalagi mendengar perkataan mu yang tadi. Apa kau mau Oma masuk rs lagi?" Bara seperti mendapat angin segar bisa memojokkan Lena yang kini menunduk merasa bersalah dengan perkataannya terhadap Oma barusan.