In Memories

In Memories
part 123



Siang harinya di perusahaan Erlangga Corp seorang wanita cantik dengan gaya elegan dan mewah tengah berjalan menuju pintu lift khusus petinggi perusahaan. Dengan menggunakan dress berbahan satin dengan corak bunga yang sangat pas di tubuhnya, kulit putih bersih yang ia miliki menambah kesan cantik yang begitu mempesona. Hampir semua mata memandang dirinya tak berbeda jauh dengan daya pikat suaminya.


Sikapnya yang ramah terhadap karyawan makin membuatnya di kagumi baik oleh wanita bahkan pria sekalipun. Ia selalu tersenyum setiap berpapasan dengan karyawan bahkan pada OB sekalipun..


Ziana berjalan dengan mengayunkan langkahnya begitu cepat karena ia tak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya. Begitu sampai di depan pintu ruanagan Aditya, ia pun mengetuk pintunya dan terdengar jawaban dari dalam suara berat yang sungguh begitu akrab di telingnya.


"Masuk." ucap Aditya dari dalam ruangan dengan posisi masih terus menatap laptopnya tanpa menoleh ke arah pintu masuk.


Dengan menekan handle pintu dan mendorongnya Ziana membuka pintu ruangan kerja Aditya, dan di lihatnya pemandangan yang sangat membuatnya takjub melihat suaminya yang tengah serius bekerja membuat ketampanannya meningkat berkali lipat.


Ia terus memandang suaminya dari pintu, hingga Aditya tersadar jika orang yang mengetuk pintu tak kunjung masuk. Di lihatnya ke arah pintu yang tengah berdiri seseorang yang selalu membuatnya tersenyum dalam menjalani kehidupannya meski kini terasa bertambah berat karena penyakitnya.


"Aku tampan bukan?" Aditya tersenyum dengan menyilangkan kedua tangan nya di depan dada, saat ini ia duduk dengan tersenyum ke arah istrinya.


"Ya dan aku sangat beruntung mendapatkan pria tampan seperti mu." Ziana menjawab ucapan suaminya dan ia pun berjalan perlahan ke arahnya.


"Kemarilah." Aditya merentangkan tangannya untuk menyambut kedatangan Ziana.


Ziana pun megikuti apa yang di perintahkan Aditya ia dengan segera memeluk mesra suaminya dan duduk di pangkuan Aditya.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Ziana.


"Belum, apa yang kau bawa itu?" Aditya menunjuk dengan dagunya papper bag yang Ziana bawa dan ia letakkan di meja kerja Aditya.


"Oh itu tadi aku membelinya saat di jalan, kita makan di sini saja ya."


"Baiklah."


Setelah itu mereka pun pindah ke sofa dan membuka makanan yang Ziana bawa. Ia menatanya di atas meja, Dan mereka pun makan dengan lahapnya di selingi obrolan ringan di antara keduanya.


"Dimana obatnya, suami ku?"


"Di laci sebelah kanan." Ziana pun berdiri untuk mencari obat Aditya, tanpa sadar ada bulir bening yang mengalir dan tak bisa ia tahan.


Mengapa Kau gariskan takdir seperti ini pada suami ku? dia pria baik dan tak pernah menyakiti ku. Apa tak pantas jika ia mendapatkan lebih banyak kebahagiaan yang lebih dari ku.


"Ini kau harus meminumnya, jangan sampai terlewatkan begitu saja." Ziana tersenyum dengan membuka satu persatu obat dan mengumpulkannya menjadi satu agar di minum oleh suaminya.


"Baiklah berikan padaku." Aditya mengambilnya obatnya dan meminumnya saat itu juga. Entah kenapa meskipun ia tak yakin akan kesembuhannya setidaknya ia bisa berjuang demi istrinya.


"Good boy." Ziana menepuk pelan kepala suaminya seolah ia adalah anak kecil yang tengah menurut pada perintah ibunya.


Dengan sigap Aditya menahan lengan istrinya dan menarik tangan Ziana hingga kini posisi keduanya hanya berjarak beberapa inci saja. Membuat keduanya kini berhadapan dari jarak yang begitu dekat.


"Aku menginginkan mu saat ini juga sweety." Aditya mengedipkan matanya dan tanpa menunggu jawaban dari Ziana ia pun mulai mencium lembut bibir Ziana dan ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi menuntut. Saat kedua nya berada di titik rendah kesadaran mereka akan tempat yang akan mereka pakai saat akan menyalurkan hasrat mereka.


"Ini kantor suami ku, kita lakukan nanti saja di apartemen." Ziana mendorong tubuh Aditya yang hampir membuat ia nyaris membuka pakaiannya.


"Tak apa sweety, anggap saja ini merupakan pengalaman yang baru untuk kita. Tak akan ada yang berani masuk ke sini." Dengan cepat Aditya menggendong Ziana ala bridal style dan ia pun berjalan menuju kamar yang ada di dalam ruang kerja suaminya itu.


Aditya yang sudah tak sabar karena tadi hasratnya yang sudah ada di puncak kepalanya, ia langsung menindih tubuh istrinya yang sudah ia baringkan sebelumnya, Ia terus saja mencium dan menyesap bibir mungil Ziana dan tangannya yang tak henti bergerak tak tentu arah hingga mereka pun melepas semua pakaian yang menempel di baju keduanya dan penyatuan keduanya pun terjadi dengan begitu panasnya. Nafas keduanya saling berlomba dan suara mereka yang menggema di setiap sudut kamar yang kedap suara itu menjadi saksi betapa mereka begitu saling mendamba satu sama lainnya.


Keduanya terus saja melakukan kegiatan panas yang membuat Ziana lemas dan mengantuk setelah melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaganya. Hingga tak sadar ia pun terlelap dengan tanpa memakai sehelai benangpun, Aditya yang berbaring di sebelahnya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


"Tidur yang nyenyak sayang, jangan terlalu memikirkan ku. Karena akan ku pastikan jika aku tak akan menyerah karena sakitku. Aku ingin menjaga mu lebih lama lagi." Aditya mengusap lembut rambut istrinya dan mencium kening Ziana kemudian ia pun bangkit berdiri untuk membersihkan dirinya ke dalam bathroom yang ada di dalam kamar tersebut.


Setelah selesai dirinya pun bersiap- siap untuk kembali bekerja, ia pun berganti pakaian baru yang ada dalam lemari karena baju yang tadi telah kusut dan tak lagi bisa ia gunakan.


***


Lena kini tengah bersiap dan saat ini ia akan pergi untuk mencari makan dan akan sedikit memanjakan dirinya melalui perawatan yang biasa ia lakukan jika ia sidah mulai merasa lelah. Pikirannya yang selalu tertuju pada Bara akhir - akhir ini membuatnya selalu tak bisa tidur nyenyak.


Ia pun melajukan mobilnya ke cafe terlebih dahulu karena perutnya yang sudah sangat lapar. Setelah ia memarkirkan mobilnya, Lena pun berjalan menuju ke dalam cafe tersebut. Alangkah terkejutnya saat ini karena ia melihat laki - laki yang beberapa hari ini menjadi pusat pikirannya tengah makan bersama dengan seorang wanita.


"Kurang asem gue mikirin dia setengah g*ila, dia di sini enak - enakan makan sama perempuan lain. Awas kau ya!" Dengan langkah pasti Lena berjalan mengahampiri Bara, ia tak terima jika saat ini ia tengah di khianati oleh tunangannya meskipun hubungan mereka belum jelas bagaimana arahnya.


"Wah sepertinya tunangan ku ini tengah bersenang - senang ya. Apa boleh aku ganggu sedikit saja kesenangan di antara kalian?" Lena kini tengah berdiri dengan menyilangkan tangan di da*danya.


Bara yang begitu kaget dengan kedatangan Lena yang kini tengah menatapnya tajam seolah tengah menguliti dirinya saat ini.