In Memories

In Memories
part 139



Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Aditya pun pulang ke apartemen dan kini ia pun sudah mulai bekerja seperti biasanya. Kondisinya sudah stabil hanya saja perubahan tubuhnya kini semakin terlihat, rambutnya sering rontok, bobot tubuhnya berkurang banyak dan pipinya sudah mulai tirus meski begitu tak mengurangi ketampanannya yang masih terlihat.


Aditya selalu rutin minum obat, makanan yang ia konsumsi selalu melalui deteksi mata istrinya. Ia harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuhnya selalu baik dan itu akan membuat kekebalan tubuhnya meningkat.


"Sweety apa kau sudah mengambil cuti?" tanya Aditya saat mereka tengah di dalam mobil.


"Sudah, besok kita berangkat kan?"


"Ya, nanti pulang kerja kita ke rumahmu. Aku ingin berpamitan pada Ibu dan Bapak juga Zian." Padahal baru dua hari yang lalu keluarga Ziana datang ke apartemen menjenguknya.


"Baiklah." jawab Ziana tersenyum simpul.


"Aku turun dulu, hati - hati di jalan." Aditya mengecup kening Ziana sebelum turun dari mobil. Setelah Aditya masuk ke dalam perusahaan Ziana pun menginjak pedal gas untuk menuju ke kampusnya.


"Zi besok lo berangkat?" tanya Lena begitu Ziana sampai di kampus.


"Iya besok gue berangkat, doain ya semoga laki gue bisa sembuh setelah operasi."


"Tentunya gue selalu doain, ntar gue nyusul ya." ucap Lena.


"Iya ntar kita ketemu di sana ya."


***


Jam pulang kantor pun tiba dan kini saatnya Ziana menjemput Aditya, hari ini Ziana tak sempat untuk belajar bersama suaminya karena jadwal kuliah yang padat. Hingga hanya bisa menjemputnya untuk pulang ke rumah Ibunya, dan tadi saat di kampus Ziana sudah memberitahu orang rumah jika ia dan suminya akan berkunjung.


Ziana memberikan pesan pada Ibunya apa yang boleh dan tak boleh di makan oleh Aditya, karena tadi Ibu Rina bersikeras ingin menjamu menantunya.


Setelah beberapa menit perjalanan, sampailah keduanya di depan rumah Ziana. Rumah sederhana yang tak mau di renovasi oleh menantunya yang kaya itu, Ibu Rina memang terkesan mata duitan tapi baginya itu hanya sekedar keinginan orang tua yang ingin anaknya mendapatkan kebahagiaan lebih dari pendamping hidupnya. Ia tak ingin anaknya hidup menderita setelah menikah, karena bagi orang tua kebahagiaan anak merupakan kebahagiaan orang tua.


Ziana dan Aditya berjalan memasuki rumah, dan mereka di sambut hangat dengan senyuman juga pelukan kedua orang tua Ziana, dan Zian yang baru saja pulang sekolah.


"Duduklah dulu nak Ditya, Ibu akan siapkan makan dulu untuk kita semua ya."


"Baik Bu." Aditya pun duduk dengan santainya, semenjak menikah mereka memang jarang mengunjungi rumah Ziana bahkan ke mansion pun hanya sesekali, karena kesibukan Aditya dan juga Ziana hingga jarang ada waktu luang.


"Bagaimana keadaan Nak Ditya sekarang?" tanya Pak Risman.


"Sudah jauh lebih baik Pak."


"Suamiku, kau pasti lelah berbaring sebentar di kamarku pasti akan membuatmu nyaman." ucap Ziana.


"Nanti setelah masakan siap saji aku akan membangunkanmu." lanjutnya.


"Baiklah aku memang merasa lelah." Ucap Aditya dengan mengikuti langkah Ziana yang berjalan ke dalam kamar, setelah sebelumnya mereka pamit terlebih dahulu pada Pak Risman yang berada di ruang tamu, karena Bu Rina masih sibuk di dapur sedangkan Zian sudah pamit sejak tadi karena ia akan membersihkan diri.


"Tidak suamiku, sepertinya aku akan pergi ke dapur membantu ibu sebisaku." Ziana tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Aku tak yakin kau akan membantu Ibu, yang ada kau hanya akan membuatnya kesal." Aditya tersenyum mengejek istrinya.


"Mungkin panci akan terbang jika kau tak ada di sini suamiku, kau belum tau sifat asli Bu Rina yang sesungguhnya." Ziana menyipitkan matanya mendramatisir keadaan.


"Kau ini." Aditya pun mencubit hidung Ziana gemas.


"Baiklah berbaringlah yang nyaman, pasti nyaman karena sekarang di kamarku ada pendingin ruangan tidak seperti dulu lagi." Karena setelah menikah dulu Aditya memaksa Ziana memasang pendingin ruangan, ia tak tahan dengan udara panas.


"Tentu." Aditya pun membaringkan tubuhnya, dan mencoba untuk tertidur, kondisi kesehatannya yang dulu dan kini di rasakan olehnya sangat jauh berbeda. Kini ia sering merasa cepat lelah.


Setelah melihat suaminya terlelap, Ziana pun melangkah keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju ke dapur dimana Ibunya tengah sibuk memasak untuk makan nanti.


"Ada yang bisa Zi bantu Bu?" tanya Ziana begitu sampai di dapur.


"Kau cukup diam saja dan mendengar perintah ibu jika di butuhkan, Ibu tak yakin jika kemampuanmu di dapur akan lebih jago dari pada di kamar." ujar Bu Rina dengan masih fokus pada masakannya.


"Idih Ibu kalau ngomong suka bener." Ziana pun terkekeh mendengar jawaban Ibunya.


"Ibu tau sifatmu yang pemalas untuk masuk ke dapur."


"Ibu memang the best." Ziana pun mengacungkan kedua jempolnya dengan senyuman.


"Apa suamimu di kamar?"


"Iya sedang tidur." ucap Ziana dengan memakan camilan yang ada di hadapannya. Dengan cepat Bu Rina menghampiri putrinya dan ikut duduk di meja makan tapi sebelumnya Bu Rina mematikan kompor terlebih dahulu karena sudah matang.


"Bagaimana kabar suamimu? Apa jika operasi di lakukan semuanya akan baik - baik saja?"


"Aku juga tidak tau Bu, namanya juga ikhtiar semoga saja suamiku bisa sembuh seperti dulu lagi." lirih Ziana menatap nanar mata Ibunya yang kini menatap iba pada nasib putrinya.


"Kau harus tetap kuat untuk suamimu, jangan mengeluh jika kau merawatnya karena itu lah baktimu pada suami dan juga itu merupakan ladang pahala untukmu." Tak terasa air mata Bu Rina menetes jika mengingat menantunya yang baik tengah berjuang untuk kesembuhannya.


"Iya Bu, aku akan berusaha." Begitupun Ziana yang tak bisa untuk untuk baik - baik saja setidaknya di hadapan Ibunya, ia akan bersikap apa adanya karena saat ini hanya keluargalah yang bisa ia jadikan untuk tempatnya bersandar. Karena ia bukan wanita kuat yang bisa berdiri tanpa ada keluarga yang selalu mensupportnya.


"Bu kadang aku takut jika nanti setelah operasi keadaan Kak Ditya memburuk, dan bahkan hal terburuk sekalipun bisa saja terjadi. Aku belum siap untuk mengahadapi kenyataannya Bu." Ziana menangis tertahan karena takut jika nanti sampai terdengar oleh Aditya.


"Zi dengarkan Ibu, semua yang kita punya hanyalah titipan. Apapun yang terjadi sudah atas kehendakNya, tugas kita sebagai umatNya hanya bisa berdoa dan berusaha selanjutnya kita hanya bisa pasrah karena kita tak bisa untuk melawan takdir. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk suamimu, dengan selalu berada di sisinya dan selalu merawatnya dengan baik."


Bu Rina pun memeluk putrinya yang menangis tertahan dengan punggung yang berguncang, Ibu mana yang tega melihat anaknya kini menangis pilu karena keadaan pahit yang tengah di alaminya. Ziana tetaplah anak kecil yang kini butuh kehangatan dan perhatian Ibunya, meski mereka sering berdebat.