In Memories

In Memories
part 54



Kedatangan Rania tak lantas membuat Aditya tergoda, ia bahkan bersikap biasa saja dan cenderung menjaga jarak dengan Rania. Aditya tau ada maksud tersembunyi di balik sikap Rania, tapi ia mencoba bersikap profesional.


"Semua sudah beres, kontrak kerjasama yang telah di sepakati pun tidak ada masalah." Aditya menutup berkas yang tengah mereka bahas, karena merasa sudah tak ada lagi yang harus di diskusikan dengan Rania.


"Apa kau ada waktu untuk sekedar makan siang?" tanya Rania dengan mengibaskan rambutnya memperlihatkan dadanya yang sedikit terekspos.


"Maaf aku sudah ada janji dengan kekasih ku." jawab Aditya.


"Oh begitu, baiklah kalau begitu aku permisi pamit lebih dulu." ucap Rania dengan tersenyum sedikit di paksakan karena ternyata rencana nya kali ini gagal. Ia malah menahan kekesalan nya sejak tadi kepada Aditya karena tidak bisa menarik perhatian nya.


"Hmm.." Aditya hanya mengangguk mengiyakan.


Sial hari ini aku gagal tapi akan ku coba lagi nanti, aku masih punya banyak cara untuk memisahkan mu dengan kekasihmu itu Aditya. Tak akan ku biarkan siapapun mengambil mu dari ku.


Rania berlalu melangkah pergi dari hadapan Aditya. Ia meninggalkan perusahaan Erlangga Corp dengan perasaan hatinya yang dongkol karena penolakan dari Aditya.


"Hallo apa jam kuliah mu sudah beres?" Aditya menelpon Ziana dengan posisi menghadap ke kaca jendela yang menampakkan keindahan kota dari atas gedung Erlangga Corp.


"Sudah Kak, ini aku baru mau keluar kelas." jawab Ziana dari sebrang sana.


"Baik lah tunggu di depan, aku akan menjemput mu sekarang."


"Baiklah Kak."


Panggilan pun terputus, dengan segera Aditya melangkah pergi untuk menjemput Ziana. Ia ingin mengajaknya jalan hanya untuk sekedar melepas rasa rindunya sebelum besok ia pergi ke luar negri karena ada perjalanan bisnis yang tak bisa di wakilkan.


"Lo numpang mobil gue cuma sampai depan kampus doang Zi?" tanya Lena yang berada dalam mobilnya.


"Iya gue mau jalan sama ayang gue." Ziana tersenyum dengan riangnya.


"Enaknya yang punya ayang, tiap hari muka nya cerah terus."


"Bisa aja lo, gue nembeng sama lo biar nggak panas gitu nungguinnya." sahut Ziana.


"Dasar azas manfaat banget sih lo." Lena mencebikkan bibirnya.


"Eh itu mobilnya bukan sih?" tunjuk Lena pada mobil sport merah yang berhenti tepat di belakang mobilnya.


"Iya benar, makasih tumpangan nya ya. Gue doain lo cepat ketemu sama pujaan hati lo, bye."


"Amin." jawab Lena dengan menengadahkan kedua tangan nya.Ziana pun keluar dari mobil Lena dan berjalan menuju mobil Aditya.


"Hai Kak, hari ini kita mau kemana?" tanya Ziana setelah ia duduk di kursi penumpang.


"Aku ingin makan dan mengajak mu jalan." ucap Aditya tersenyum dengan menggenggam tangan Ziana.


"Baiklah, let's go." Ziana menunjuk jalan dengan ekspresi wajah yang menggemaskan membuat Aditya tertawa kecil.


"Eh apa aku tak salah lihat Kak Ditya tertawa?


"Kau selalu menggemaskan." Aditya memencet hidung Ziana dengan senyuman nya.


Mereka sampai di tempat yang telah di pesan oleh Aditya sebuah resto yang sangat nyaman, pelayan langsung mengantarkan mereka ke VIP room.


"Kalau ada yang kurang pesan lah, aku paling tak suka menunggu jadi ku pesankan lebih dulu."


"Tidak Kak ini sudah lebih dari cukup." Ziana menatap sajian makanan yang tertata rapi di meja yang ada di hadapan nya kini.


"Baiklah lebih baik kita makan lebih dulu, nikmatilah."


"Iya Kak."


"Besok aku berangkat ke swiss." Ucap Aditya.


"Ada apa Kak? apa Kakak akan menetap di sana? kapan kembali ke sini lagi?" Tanya Ziana dengan wajah yang sudah mulai berkaca - kaca.


"Aku tidak akan lama hanya perjalanan bisnis biasa paling lama 3 hari di sana." Aditya tersenyum dengan mengelus pipi Ziana yang putih mulus, ia senang ada yang mengkhawatirkan dirinya.


"Aku kira Kak Ditya tak akan kembali lagi ke sini." Ziana mengerucutkan bibirnya cemberut.


"Tidak akan aku tak akan pernah meninggalkan mu."


Aditya mengeluarkan sebuah kotak dari saku jas nya dan memberikannya kepada Ziana.


"Ini apa Kak?" tanya Ziana dengan menerima kotak itu.


"Buka lah."


"Wah cantiknya." seru Ziana begitu ia membuka kotaknya.


"Kau suka?"


"Iya aku suka."


"Sini berikan padaku, biar aku pakai kan." Aditya pun memakaikan kalung itu di leher Ziana.


"Pakai ini dan jangan sampai hilang, saat aku jauh dari mu ingatlah selalu ada aku di sini." Ucap Aditya.


"Terimakasih, aku sayang Kak Ditya." Ziana memeluk Aditya erat, ia merasa sangat di cintai di perlakukan lembut oleh orang yang ia sayangi.


"Aku juga menyayangi mu." Aditya mengecup kepala Ziana yang berada dalam dekapan nya.


Setelah melepas pelukannya, mereka berjalan melangkah keluar untuk pulang.


***


"Aduh Oma kapan bisa keluar dari rumah sakit sih, gue jadi bolak - balik terus kan semoga aja gue nggak ketemu lagi sama tuh dokter labil." Lena yang baru sampai di parkiran rumah sakit terus saja mengomel.


Sepanjang jalan menuju koridor rumah sakit ia terus menunduk memainkan ponselnya, dan tanpa ia sadari seseorang telah berdiri tepat di hadapan nya sehingga ia pun menabrak dada bidang pria yang tengah berdiri tegak di hadapannya itu.


Dukkk..


"Aww apa kau tak punya jalan lain hah?" teriak Lena yang belum melihat siapa orang yang ia tabrak. Dan sesaat kemudian ia mendongak melihat orang yang berdiri di hadapan nya dengan kedua tangannya yang menyilang di depan dada. Matanya menatap tajam dirinya seakan ingin melahapnya detik itu juga.


Mampuss gue, ini orang seperti nya kelaperan liat gue udah kayak liat kalkun guling. Tenang Lena hadapi dengan senyuman, ah tidak sepertinya kabur pilihan terbaik.


"Ah sepertinya aku yang salah jalan, permisi." Lena tersenyum canggung dan ia pun bersiap berlari menjauh dari Bara.


Tapi sialnya ia kalah cepat dari tangan Bara, rambutnya yang di kucir kuda ke belakang memudahkan tangan Bara untuk menariknya agar tak lari menghindarinya.


"Mau kabur kemana kau?" tangan Bara yang masih berada di atas rambutnya, ia berjalan mendekati Lena dan kini posisi mereka saling berhadapan.


"Lepas nggak atau aku teriak?"


"Teriak saja yang kencang Nona ini lorong menuju kamar mayat, kau salah ambil belokan tadi." Jawab Bara dengan menatapnya tajam.


"Ah begitu ya, baiklah aku pergi dulu." Lena melangkah untuk bisa pergi dari hadapan Bara. Tapi Bara menahan nya lagi dengan mencekal tangannya.


"Tunggu karena di sini tidak ada orang sepertinya akan lebih bagus jika memasukkan mu ke dalam kamar mayat." Bara tersenyum smirk.


"Tidak coba saja kalau kau berani aku akan berteriak kencang, kau tak pernah tau kekuatan suara ku yang sangat tinggi. Bahkan semut pun akan serangan jantung mendengarku berteriak." ucap Lena.