In Memories

In Memories
part 95



Aditya membaca laporan team Eagle dengan waktu dua jam setelah laporan di kirimkan dengan cepat Aditya menelpon pengawalnya untuk mengetahui kondisi istrinya saat ini.


"Dimana istri ku?"


"Di tempat karaoke Tuan."


"Apa?Kau awasi terus mereka jangan sampai terjadi sesuatu. Dan sharelock sekarang juga."


"Baik Tuan." Panggilan pun terputus dan tak lama ia mendapat notif lokasi dimana istrinya berada.


Dengan setengah berlari ia turun menuju parkiran, semua karyawan yang saat itu berpapasan dengannya merasa kaget dengan kelakuan big Boss mereka karena tak biasanya Aditya berlari seperti itu di dalam lingkungan perusahaan. Ia adalah orang yang paling menjaga image nya terutama di hadapan karyawan dan relasi bisnisnya tapi jika ini berhubungan dengan istri yang sangat berharga baginya, ia tak akan pernah peduli dengan semua itu.


Aditya memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata - rata agar segera sampai di tempat istrinya berada. Begitu sampai di parkiran ia pun kembali berlari untuk masuk ke dalam tempat karaoke.


Setelah mengatur nafasnya ia pun melihat beberapa pengawalnya yang kini ada di depan room yang Ziana pesan.


"Tuan sepertinya Nona dan temannya mabuk berat di dalam sana, karena tadi kami meminta seorang pelayan untuk melihatnya ke dalam."


"Apa pelayannya seorang pria?"


"Tidak Tuan, seperti yang anda minta jika berhubungan dengan Nona langsung harus perempuan. Maka tadi kami meminta pelayan perempuan untuk masuk ke dalam room."


"Good." Dengan cepat Aditya menekan handle pintu untuk membuka ruangan Ziana yang tengah melepas isi hatinya.


Ia terkejut mendapati istri dan sahabatnya tengah menari dan juga bernyanyi yang tak tentu nada dan musiknya kemana, mereka kadang menangis dan juga kadang tertawa.


Aditya menutup kuping nya mendengar dua suara cempreng yang kini tengah menyanyi dengan nyaringnya, untungnya tadi di perjalanan ia menelpon Bara agar membawa pulang Lena yang merupakan tunangannya. Tadinya ia berpikir jika tak mungkin mengantar sahabat istrinya itu pulang saat semua kesalah pahaman belum ia luruskan dengan baik.


Tapi ternyata ia di kejutkan dengan apa yang ia lihat saat ini di hadapannya kini.


"Lelaki buaya buntung busyet aku tertipu lagi." Ziana menyanyi dengan suaranya yang cempreng dan lantang, potongan lagu ratu dengan judul buaya darat tengah menggema di room tersebut.


"Salah Mun bukan buntung tapi darat kali, kalau buaya buntung itu lagu dangdut sih kalu gue nggak salah inget." Ucap Lena yang tengah meralat nyanyian Ziana dengan saling menoyorkan keningnya.


"Bodo amat mau buntung, mau ada ekornya gue nggak peduli, kalau perlu gue gunting tuh burungnya biar nggak bisa maen sekalian." Ucap Ziana yang juga mulai melantur karena pengaruh alkohol.


Mendengar ucapan Ziana sontak saja Aditya menutup burung miliknya, ia yang saat itu belum menghampiri istrinya karena kini mereka tengah berdiri dengan membelakanginya, sehingga mereka tak menyadari kedatangan Aditya.


Tak berapa lama Bara datang dan berdiri di samping Aditya. Ia pun malah diam saat mendengar obrolan mereka kembali.


"Gila lo burungnya lo gunting, nah ntar lo buntingnya gimana?" tanya Lena yang makin sempoyongan.


"Iya juga sih nah kasih calon lo aja kan dia dokter suruh di jait lagi." Dan mereka pun tertawa bersama - sama. Sedangkan yang tengah jadi objek pembicaraan hanya saling pandang mendengar ocehan mereka yang makin ngawur.


"Kita lagi naik komedi puter kali, kepala gue juga rasanya mau pecah. Duduk yuk ah ntar kita jatoh lagi." Saat mereka berbalik badan pandangan mereka bertemu dengan dua orang laki - laki yang jadi sumber masalah mereka.


"Hey kau yang di situ kenapa mirip sekali dengan suami ku? ah tidak dia pasti sedang bercinta dengan wanita itu." Ziana menunjuk Aditya yang tengah berdiri di hadapannya, kemudian ia pun kembali menangis setelah itu, dan memukul kepala Aditya dengan tanganya.


"Aku sangat membencimu kau dengar hah!mumpung ini lagi mimpi akan ku cakar habis kau ya, agar tak lagi menebar pesona pada setiap wanita!" seru Ziana yang bersiap akan mengacak wajah Aditya melihat hal itu Bara terus menahan tawanya ia melihat wajah Aditya yang tengah pucat.


"Dan kau juga kenapa mirip sekali dengan si orang utan, apa kau benar dia? dokter yang selalu membuatku naik darah." Lena pun menjawil dengan keras pipi Bara.


"Aw sakit." teriak Bara.


"Wah ternyata kau bisa juga berbicara, dengarlah kau memang tampan tapi entah kenapa kepala ku selalu mendidih jika kita bertemu. Apa mungkin kita itu adalah magnet yang saling tolak menolak atau saling tarik menarik?" Lena semakin melantur tangannya tak tinggal diam ia mengacak rambut Bara dan sesekali mencubitnya.


"Aw sakit dasar wanita titisan ikan lele, kau tidak mabuk saja membuatku pusing apalagi dengan keadaan mu seperti ini." Ucap Bara yang mencoba menghindari setiap serangan dari Lena.


"Sweety ini aku sayang, jangan seperti itu kau hanya salah paham. Aku tak pernah menghianatimu sedikitpun, tenang ya." ucap Aditya berusaha menenangkan istrinya yang tengah bersiap untuk mencakar wajah suaminya.


"Kau gila Ditya mana ada orang mabuk berat mendengar ucapan orang normal." Bara yang juga tengah menenangkan Lena, ia mulai kewalahan dengan tingkah Lena yang semakin bergerak meringsek di hadapannya.


"Namanya juga usaha." ucap Aditya datar.


Saat ini posisi keduanya laki - laki itu tengah saling membelakangi dengan tangan yang berusaha menghindari serangan dari masing - masing pasangan.


"Lihat lah aku sampai bisa melihatmu dengan jelas berada di depan ku, hey Lena lo liat kan itu laki gue yang tampan dan kaya itu?"


"Iya gue liat jelas banget tapi kenapa ko gue liat kepalanya dua ya, eh nggak ada empat." Lena pun tertawa terbahak - bahak.


"Mabok lo ya." Ziana menoyor kepala Lena.


"Gue nggak mabok ya enak aja, kalau gue mabok mana bisa gue ngomong sama si dokter sombong itu, liat dia tampan tapi juga tengil. Pengen gue garuk pake sikat wc." Lena menunjuk ke arah wajah Bara.


Saat Aditya mengangguk memberi kode pada Bara dengan serentak mereka pun menarik tangan pasangan nya untuk mereka gendong. Tapi karena gerakan mereka yang begitu tiba- tiba membuat kepala Ziana dan Lena pusing juga mual.


Hoeeeekkkkk


Ziana juga Lena kompak muntah mengenai lengan baju pasangannya masing - masing dengan wajah tanpa dosa mereka terus mengeluarkan isi perutnya.


"No!"


"S*hitt!"


Jeritan dari kedua orang lelaki tampan yang kini tengah terkena muntahan wanita yang kadang membuat mereka pusing. Dengan mengibaskan tangan dari muntahan, Aditya dan Bara berlari menuju toilet di dalam ruangan tersebut untuk membersihkan muntahan yang menempel. Sebelum Aditya juga Bara ke toilet, kedua wanita yang tengah mabuk itu telah di dudukan di kursi sofa dengan posisi berbaring karena tak sadarkan diri.