In Memories

In Memories
part 8



Ziana masih betah berada di dalam kamarnya sambil mengotak - atik hp barunya.Ia tersenyum mengingat pertemuannya dengan laki - laki tampan dengan wajah tanpa ekspresi.


Cakep tapi kayak patung es yang nggak keluar dari frezer dan aneh apa bibirnya nggak gatel gitu ya, tiap ngomong irit banget, padahal ngomong nggak harus bayar pajak.


Saat tengah asik melamun pintu kamar tiba- tiba di buka dengan kencangnya.


Brakkkkk


"Astaga!!!!" Ziana terlonjak kaget berdiri dan memegang dada nya karena kaget.


"Zian ngapain sih lo!!!! kebiasaan banget lo ya tiap masuk kamar gue banting pintu lama - lama pintu gue roboh." Ziana membanting bukunya ke arah Zian. Buku berhasil mendarat sempurna di tangan Zian.


"Lah kalau gue ketok dulu jarang banget lo bukain pintu.mending gue langsung masuk aja deh." Ucap nya dengan santai dan merebahkan dirinya di kasur Kakaknya.


"Ishhh lo tuh selalu bikin gue kesel, terus mau ngapain lo ke kamar gue hah? tanya Ziana dia duduk di meja riasnya menatap tajam sang adik.


"Pengen liat hp mahal lo yang baru itu, penasaran gue gimana bentukannya kalau nyampe di tangan." ian lalu mengambil hp ziana.


"Norak lo."ucap Ziana mencibir


"Dihhh biarin lo juga kalau nggak di kasih orang nggak bakal punya nih hp." Zian balik mencibir.


"Iya sih tapi ya emang udah hoki gue ini."


Weeee Ziana menjulurkan lidahnya mengejek Zian.


"Udah sana ah balik ke habitat lo, ganggu gue aja!!" Ziana menarik tubuh zian dan mendorongnya sampai keluar pintu.


"Pelit lo." Ziana mengumpat dan berjalan menuju kamarnya.


"Biarin." Ziana pun masuk kedalam kamarnya kembali.


***


Aditya mengangkat telponnya yang terus berdering dengan sedikit malas karena tau dari siapa penelpon itu.


"Hallo,, iya Mom." jawab Aditya.


".........."


"Hmmmm, iya besok?"


"..........."


"Oke liat nanti Mom."


"..........."


"Iya baiklah."


Aditya menutup ponselnya, percakapan dengan Mommy nya selalu membuatnya pusing.


Permintaan sang Mommy yang selalu menyuruhnya untuk segera menikah, membuatnya selalu malas untuk pulang ke mansion menemui Mommy dan Daddy nya.


Ia adalah pria bebeas yang tidak ingin di kekang oleh ikatan pernikahan, apalagi harus menikah dengan orang tidak pernah ia cintai. Kedua orang tua nya yang selalu berusaha untuk menjodohkan anaknya dengan anak rekan bisnis mereka.


Sudah belasan gadis di kenalkan padanya baik secara resmi atau tidak melalui orang tua nya. Tapi tidak ada yang berhasil sama sekali. Bukan Aditya yang di tolak tapi para gadis itu yang di tolak olehnya. Tidak ada yang tahan berkencan dengan pria itu jangankan satu minggu satu hari saja mereka sudah menyerah.


Karena terlalu lelah ia pun tertidur dengan nyenyaknya.


***


Matanya mulai mengerjap merasakan sinar yang menyilaukan mata, ia pun terbangun dan meraih ponsel yang terus berbunyi di atas nakas.


"Hallo iya Mom." Aditya menjawab dengan mata yang masih setengah sadar.


"Iya sebentar lagi." di tutupnya ponsel yang menandakan panggilan telah berakhir. Ia pun bergegas menuju kamar mandi karena Mommy nya telah menunggu di mansion.


Di mansion


Mommy Irene yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda, berjalan mondar - mandir menunggu putra kesayangan nya pulang.


"Duduk dulu coba Mom, apa Mom tidak merasa pegal dari tadi sudah seperti sentrikaan." Daddy Gamma yang sedang meminum teh nya pusing melihat kelakuan sang istri.


"Daddy apa kali ini anakmu akan mengagalkan rencana Mommy lagi?" tanya Mommy Irene dengan menatap Daddy intens.


"Udahlah Mom biarkan saja Ditya memilih calonnya sendiri, toh kita sudah berusaha memilihkannya. Tapi apa? semuanya gagal, apa Mommy tidak capek?".


"Tidak akan Dad, Mommy nggak akan menyerah sampai anak kita menikah.Mommy udah pengen gendong cucu. Mom iri liat semua teman mom sudah pada pamer cucu.Dad apa jangan - jangan anak kita belok?" tanya Mommy Irene dengan wajah cemas.


"Mungkin." Daddy gamma menjawab sekenanya karena sudah pusing dengan kelakuan istrinya. Jawaban Dad ternyata malah membuat Mommy Irene berteriak histeris.


"Tidak mungkin Dad. Mom nggak mau anak kita belok. Ya Tuhan apa kata dunia nanti!!!"


Di saat yang bersaman putra nya yang tadi sedang menjadi topik hangat ke dua orang tuanya datang dengan menutup kedua telinganya karena teriakan mommy nya yang sangat kencang sampai teras depan.


"Apa sih Mom, berisik!!"


Aditya duduk di depan kedua orang tuanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Ditya sebenarnya adalah panggilan kedua orang tuanya,hanya orang terdekat saja yang memanggilnya seperti itu. Maka saat Ziana memanggilnya dengan sebutan seperti itu ada rasa hangat di hati aditya seperti telah mengenal dekat dengan gadis berisik itu.


"Ditya nanti siang kamu harus pergi ke cafe, pergi temui anak teman Mommy." ucap Mommy yang duduk dengan menatap putra semata wayang nya yang sulit di atur, entah harus bagaimana lagi membuatnya mau menerima perjodohan itu.


"Hmmm." hanya itu jawaban dari Aditya.


"Awas kamu bikin anak orang nangis lagi, mulut mu itu seperti mulut cabe level 10. Ngomong itu ya di saring dulu Ditya." Mommy menghela nafasnya nya pelan.


"Malu Mommy, tiap kencan selalu gagal dan selalu berakhir Mommy yang minta maaf dengan mereka karena kelakuan kamu!!" Mommy Irene mengungkapkan kekesalan nya.


"Iya itu kan nurun dari Mommy." Daddy Gamma ikut menimpali dengan kembali meminum teh nya.


"Daddy mau tidur di luar?" ancam Mommy Irene menatap tajam Daddy Gamma.


"Lah ko malah Dad yang salah sih Mom?? iya sudah Dad tidak akan ikut berkomentar lagi. Daddy Gamma merapatkan bibirnya dan menggerakan tangan nya seperti gerakan mengunci bibirnya.


Melihat perdebatan kedua orang tua nya membuat Aditya semakin pusing jika ia terus berada di mansion apalagi jika ia tidak mengikuti apa yang menjadi kemauan sang Mommy.


Aditya memang seorang yang kuat dan tak terkalahkan jika soal bisnis dan persaingan, ia tidak akan pernah mengalah kepada orang yang menjadi musuhnya. Tetapi ia adalah anak yang patuh jika sudah menyangkut perintah ke dua orang tua nya, jika itu masih di dalam batas kewajaran menurut pemikiran Aditya.


"Ditya berangkat dulu Mom Dad." Aditya pamit berdiri dan meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang berdebat.


Mommy dan Daddy nya langsung berhenti begitu Aditya pamit untuk pergi. Mereka saling pandang melihat putra kesayangnya yang hanya singgah tanpa berlama - lama, hanya untuk sekedar ngobrol melepas rindu.


"Ditya tunggu, Mom tunggu kabar baik mu sayang."


"Hmm.." Ditya terus melangkahkan kaki menuju mobilnya tanpa berhenti lagi. Dan langsung membuka pintu mobilnya lalu masuk.


"Kelakuan Mom selalu membuatku pusing..arrrggghhh!!!"


ia memukul stir mobilnya sebelum pergi meniggalkan mansion.