In Memories

In Memories
part 10



Pagi hari adalah awal di mulainya aktifitas seluruh anggota keluarga setelah selesai solat subuh. Ziana maupun Zian kadang ikut membantu ke dua orang tuanya jika di rasa pekerjaan perlu pembagian tugas tetapi jika tidak ada mereka akan tidur lagi, bergelung selimut dengan nyaman.


Hari ini sepulang kuliah Ziana berniat untuk mengembalikan jas dan kemeja pria arogan yang menurutnya seperti patung es itu.


Dan drama pagi ini adalah tentang kamar mandi, Zian yang sudah lama masuk kamar mandi mengacuhkan gedoran pintu dari kakaknya yang sudah tidak tahan untuk buang air.


"Zian kamprett buruan lo dari tadi lama banget sih lo!!"


Tetap masih tidak ada jawaban juga.


"Lo lagi latihan mati hah? buruan buka gue udah nggak tahan ini, dalam hitungan dua kalau lo nggak bukain juga, abis kamar lo gue obrak - abrik, gue pipis sekalian di kamar lo!!" teriak Ziana.


Dengan secepat kilat kamar mandi terbuka. Zian tau siapa Ziana gadis bar- bar yang nekat itu tak pernah main - main dengan ancaman nya.


"Gitu kek dari tadi, minggir lo!!" usir Ziana.


"Dasar cewek bar- bar lo." gumam Zian dengan berlalu pergi menuju kamarnya.


Setelah bersiap-siap di dalam kamarnya Zian dan Ziana pergi ke dapur untuk sarapan sebelum mulai beraktifitas. Hari masih pagi jadi mereka tidak perlu teburu - buru untuk menghabiskan sarapannya.


"Lo sampai jam berapa ntar? kalau masih pagi motor lo aja yang bawa." Zian bertanya sambil meminum teh manis hangatnya.


"Nggak usah lo aja yang bawa gue beres kuliah masih ada urusan." Ziana menimpali dengan memakan sarapan nasi goreng buatan ibu tercinta.


"Memangnya kamu mau kemana Zi?" Bu Rina bertanya deng tangan yang masih sibuk menghidangkan sarapan untuk anak-anaknya.


Meskipun dari keluarga sederhana bagi mereka saat sebelum berangkat aktifitas di luar di wajibkan untuk selalu mengisi perutnya. Dengan berada bersama di meja makan untuk tetap saling menjaga keharmonisan keluarga dengan bercengkrama sesama anggota keluarga. Walau pun Pak Risman tidak pernah ikut sarapan bersama karena sudah keliling untuk berjualan, tetapi kalau sedang ada di rumah sarapan fomasi lengkap lebih menyenangkan.


"Oke kalau gitu motor gue bawa aja." Zian baru selesai memakan sarapannya.


"Bu di sekolah ada acara buat camping acara persami gitu,dan seperti biasa." Zian menaik turun kan alisnya dengan menyodorkan tangan nya pertanda meminta uang.


"Awas lo ngibulin Ibu, kualat lo," tuduh Ziana.


"Enak aja lo kalau nggak percaya tanyain aja pihak sekolah." Zian yang tak terima dengan tuduhan kakaknya membela diri, dan agar kakak nya tidak terus memprovokasi ibunya.


"Memang nanti Ibu akan tanyakan sama guru kamu Zian, tidak semudah itu untuk membohongi Ibu mu lagi." perkataan Bu Rina telak membungkam mulut Zian.


Dulu Zian sering membohongi Ibunya dengan selalu mengatakan ada acara di sekolah dan ujung² nya selalu minta uang. Karena curiga Bu Rina menyuruh Ziana untuk menyelidiki kelakuan Adiknya itu. Dan ternyata benar firasat seorang Ibu tidak mungkin salah Zian korupsi uang jajan sekolahnya.


Saat itu juga Ibu nya tidak pernah mempercayai biaya apa pun yang Zian minta tanpa menanyakan langsung kepada pihak sekolah.


***


"Woy lo kemana aja dari kapan hari gue telpon hp lo nggak aktif terus, so sibuk banget lo." Lena terus nyerocos tanpa henti begitu melihat kedatangan Ziana ke dalam kelas.


"Hp gue kecemplung got jadi ya mati. Masukin no lo nih." Ziana menyodorkan hp barunya pada Lena.


"Widiiih hp epong nih." Lena berdecak kagum.


"Itu dari orang yang nabrak gue, gantiin hp gue pake hp itu."


"Maksud lo orang yang nabrak? lo tabrakan zi?


astagfirullah kapan, dimana, lo nggak apa-apa kan?


ko gue nggak tau?" Lena bertanya dengan mengguncangkan dan memperhatikan tubuh Ziana.


"Issh lo itu kebiasaan kalau nanya borongan terus kayak kontraktor aja lo! kemaren pas balik, dan gue nggak apa-apa ko ini buktinya gue masih kuliah."


"Coba ceritain detail dong gue pengen tau kejadian yang sebenarnya." Lena masih penasaran apa yang telah di alami Ziana kemarin yang pulang tanpa dirinya.


Ziana pun menceritakan dari awal sampai akhir kejadiannya. Dan Lena diam mendengar cerita dari sahabatnya itu.


***


Aditya melangkah memasuki lobby perusahaan pada saat sebelum jam masuk kantor di mulai, dan itu berarti para karyawan yang masih berada di lobby atasannya yang tampan berjalan menuju lift petinggi perusahaan.


"Eh liat deh Tuan Aditya cakepnya kebangetan ya, gue kalau jadi bininya takut gendut lah." seorang karyawati yang sedang berbisik dengan temannya mulai berkometar.


"Apa hubungannya?" jawab temannya.


"Iya lah kemanisan itu Tuan Aditya ntar badan gue melar."


"Halu lo tingkat kabupaten capek deh." temannya yang lain ikut menimpali.


"Ngarep jadi bini nya, noh model papan atas aja di tolak apalagi kita model papan penggilesan."


"Ya kan katanya ucapan adalah doa, siapa tau jodoh gue yang lagi otw langsung di geser pa aditya, kan ada tuh judulnya ku tikung dengan doa di sepertiga malam." ucapnya berapi-api.


"huuuuuuuuu...." teman- temannya serempak berkata seperti paduan suara.


***


Di sebuah ruang kerja yang sangat luas dengan desain interior minimalis, duduklah seorang Aditya Erlangga yang sedang serius menatap laptopnya, sesekali keningnya berkerut memperhatikan berkas di tangannya. Di lihat dari segi mana pun ia adalah seseorang yang sempurna, tampan, tinggi dan tentunya mapan. Wanita manapun pasti sangat menggilainya, tetapi sangat sulit untuk bisa menggapainya.


Brakkkk..


Suaraa pintu di banting mengalihkan fokusnya.


"Ditya!!!"


Suara teriakan yang sangat keras membuat Aditya terkejut, menatap sosok wanita yang sangat ia sayangi dan sangat ia hormati.


"Mom." Aditya yang terkejut langsung berdiri dari duduknya.


Mommy Irene berjalan mendekat ke arah meja kerja aditya.


"Kau ini!!" Mom Irene mejewer telinga putranya dengan keras.


"Aww sakit lepas Mom!!" pekik Aditya.


"Apa salah Ditya sih mom? aww!!"


Ia pun berusaha melepaskan tangan Mommy Irene dari telinganya.


Sementara itu saat Angga hendak masuk untuk memberikan berkas laporannya ia melihat adegan Ibu dan Anak itu karena pintu yang masih terbuka. Dengan sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak tertawa. Aditya dengan image nya yang dingin dan tak tersentuh itu, saat ini tengah di tarik telinganya oleh sang Mommy.


"Mom ayolah lepaskan ini sangat memalukan." ucap Aditya.


Mommy Irene menarik tangannya untuk melepaskan telinga Aditya. Dan Angga yang menyadari drama akan segera berakhir dengan segera berbalik badan dengan langkah seribu ia pergi menuju ruangannya, sebelum atasannya itu memberikan nya hukuman.


"Mom ada apa kemari hmm?" tanya Aditya dengan mengusap telinganya yang merah karena Mommy nya.


"Kenapa kamu selalu membuat Mom malu hah??teriak Mom Irene meluapkan kekesalannya. ia sangat kesal dengan kelakuan putranya.