In Memories

In Memories
part 7



Brukkkkk


Dessert yang tadi di bawa Ziana tumpah mengenai kemeja dan jas pria tersebut. Mereka bertabrakan dengan posisi yang membuat Ziana sedikit limbung, untung dengan sigap Aditya menariknya sehingga tidak terjatuh. Ternyata pria yang bertabrakan dengannya itu Aditya dan dengan gerakan cepat Aditya segera melepaskan pinggang Ziana dan menghempaskannya.


"Kau !!!" tunjuk Aditya pada Ziana.


"Kak Ditya maaf." Ziana menatapnya dengan wajah sememelas mungkin.


"Lihat apa yang kau lakukan baju ku kotor semua." Aditya memejamkan mata mencoba mengontrol emosi nya yang akan meledak. Ia langsung menarik tangan Ziana ke dalam ruangannya.


Aditya membuka jas dan kemeja nya tepat di depan Ziana.


"Apa yang Kak Ditya lakukan? jangan macam - macam ya kak cuma karena hal sepele bukan berarti Kak Ditya bisa seenaknya padaku!!" teriak Ziana ketakutan, ia terus memundurkan tubuhnya sampai di pintu.


Aditya terus berjalan mendekati Ziana dengan bertelanjang dada, semakin dekat dan kini wajahnya berada sangat dekat dan hanya tinggal beberapa inci saja dari wajah Ziana. Dan tangan Aditya menyentil dengan keras kening Ziana.


"Aww sakitt !!" teriak Ziana kesakitan dengan mengusap keningnya.


"Apa yang kamu pikirkan, hmmm? cuci baju ku." Aditya melempar baju nya ke wajah Ziana.


Ampun malu banget gue pengen kabur aja ini coba ada pintu doraendogg udah gue pake asli.


Gue malu ini serasa nggak pakai baju.


Aditya kemudian berjalan ke arah pintu kamar yang ada di ruangannya untuk memakai baju bersih yang baru. Di dalam ruang kerjanya memang terdapat kamar untuk sekedar melepas penat sebentar di saat pekerjaan yang menumpuk dan mengharuskannya untuk lembur. Dan terdapat lemari untuk baju gantinya, dan di dalamnya juga ada kamar mandi khusus untuk dirinya sendiri.


"Oke Kak nanti aku cuci di rumah kebetulan di rumah ku buka jasa laundry. Jadi serahkan padaku di jamin bersih seperti sedia kala." Ziana melipat baju Aditya ke dalam tas nya demi menetralkan rasa malunya ia berusaha terlihat sibuk.


Keluar dari kamar aditya tidak langsung memakai baju nya, ia sengaja menggoda Ziana dengan masih bertelanjang dada.


OMG, Itu roti sobek pertama yang gue liat secara langsung seumur hidup gue. Kok bisa ya itu body bagus banget. Tuhan pengen pegang tapi punya orang, untung gue nggak lagi ngidam bisa ngecess ntar.


Ziana menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran kotornya.


"Kenapa kamu terpesona dengan tubuhku, hmmm??" Aditya tersenyum miring menyadari arah pandang gadis di hadapannya itu, yang sejak tadi hanya memperhatikan tubuhnya.


"Eh nggak ya mana ada!!" elak Ziana.


"Udah ini aja kan Kak, aku mau pulang ya nanti aku anterin ke sini lagi baju nya kalau udah bersih."lanjut Ziana mengalihkan pembicaraannya.


"Terserah." jawab Aditya.


"Baiklah Kak aku pamit ya." Ziana benar- benar pamit undur diri sekarang dan berharap tidak ada adegan tabrakan lagi. Dia sudah cukup capek ingin segera pulang.


Gara - gara dessert sialan gue bersumpah nggak akan pernah mau memakannya lagi. Urusan gue jadi makin panjang kan sama itu patung es. arggggghhhhh sial banget sih nasib gue....


***


"Ziana pulang." teriak Ziana dari teras rumah.


"Salam dulu kamu, bukan malah teriak nggak jelas nggak sopan tau." ucap sang Jbu yang langsung memukul lengan anak gadisnya itu.


"Iya Bu assalamualaikum." ulang Ziana mengucap salam kepada Ibunya.


"Waalaikum salam" jawab Bu Rina.


"Kamu dari mana ko baru pulang mana bawa hp baru??" Bu Rina melanjutkan sesi interogasi kepada putri nya, jiwa gibahnya seketika muncul melihat anaknya pulang membawa hp baru.


"Gila ini hp mahal keluaran terbaru, lo dapet nyolong dari mana??" tanya Zian yang baru datang dan langsung duduk di depan ibu dan juga Ziana.


"Kamu nggak.." Bu Rina menyipitkan matanya curiga.


"Nggak ih Ibu curigaan banget sama anak sendiri lagian si Zian di dengerin dan yang pasti yang ada di pikiran ibu juga nggak bener." sewot Ziana dan mulai menceritakan semua yang terjadi padanya hari ini.


"Enak dong lo, untung di lo. Rugi bandar dia nya."cibir Zian.


"Emangnya gue yang mau tadinya juga gue udah nolak tapi ya gimana sekertarisnya yang nyuruh nggak boleh di balikin ntar dia yang kena omel atasannya gitu. Ya gue cuma menghargai nya dan terlebih nih ya biar tu sekertaris aman nggak kena omel big bos nya." jelas Ziana.


"Iya udah anggap itu rezeki kamu lah Zi." kata Bu Rina.


"Iya dong Zi kan anak solehah jadi gampang dapat rezekinya." Ziana tersenyum jumawa.


"Apaan justru Ibu heran kamu kan bukan anak solehah ko bisa dapat durian runtuh gitu ya?" Bu Rina menimpali dengan menggelengkan kepalanya seolah benar serius.


"Bener juga Bu." Zian ikut berbicara.


"Bilang aja sirik itu" Ziana mencibir lalu berlari ke arah kamarnya sebelum ibunya menimpukkan bantal kursi padanya.


"Dasar anak durhakim kamu."


"Udah sana makan kamu Zian, ganti baju dulu kamu." Bu rina melihat Zian yang masih betah santai, dan hanya dengan menatap tajam anaknya, ia langsung pergi ke kamarnya.


***


Aditya baru keluar menuju appartementnya, dia memang selalu menyetir mobil sendiri. Tidak seperti CEO di dalam novel yang selalu kemana - mana dengan Sekertarisnya. Hanya di waktu tertentu dan jika ada pekerjaan saja mereka baru bersama - sama.


Begitu sampai appartement ia langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa dan menaruh tangannya dia atas keningnya. Tiba - tiba saja terlintas di ingatan nya tentang gadis berisik yang tadi tidak sengaja bertemu dengannya.


"Gadis aneh." gumamnya.


Ia berjalan menuju dapurnya dan membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral dingin yang biasa ia minum, kemudian menyimpannya di meja mini bar.


Setelah minuman itu tandas ia lalu berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian beraktifitas.


Appartement nya luas dan nyaman, ia tinggal di lantai paling atas karena appatement itu salah satu kerjaan bisnis Erlangga Corp juga. Sudah dapat di pastikan semewah apa appartement pribadi sang pemilik Erlangga Corp.


Walau pun luas dan nyaman seperti layaknya rumah yang mewah dan elegan yang di desain sesuai dengan si empunya. Karena baginya lebih nyaman tinggal di appartement yang hanya di huni oleh dirinya sendiri dari pada di mansion, ada orang tuanya yang setiap saat selalu mengawasi gerak-geriknya.


Ia merasa dirinya sudah dewasa tanpa mau selalu ikut campur tangan ke dua orang tuanya termasuk soal pasangan hidup.Tetapi ia tau seperti apa sifat kedua orang tuanya yang tidak pernah menyerah.


Setelah selesai membersihkan dirinya ia berjalan menuju walk in closet yang berada di samping kamar mandinya.


Drrrrrrttttttttt drttttttt


Hpnya terus berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dengan sedikit malas ia menuju nakas samping tempat tidurnya untuk mengangkat panggilan telponnya.


"Hallo."