In Memories

In Memories
part 121



"Kenapa, aku memang tampan kau baru menyadarinya?" Ucap Bara dengan pandangan yang tetap menatap lurus ke depan yang masih tengah fokus menyetir mobil.


"Apa maksud mu?" tanya Lena yang seperti tersudut malu karena ketauan telah mencuri pandang padanya.


"Kau pikir aku tak tau dari tadi kau selalu saja menatap ku."


"Bukan seperti itu, kau jangan terlalu percaya diri ya."


"Oh ya?" Bara menaikan sebelah alisnya karena tak percaya dengan ucapan Lena.


"Aku...Aku hanya ingin bertanya sesuatu pada mu hanya saja aku ragu." Lena berusaha membuat alasan yang masuk akal.


Gue pikir nih orang nggak merhatiin, ampun malu gue asli pengen garuk tembok ini. Mam*pus gue kalau siang udah pasti muka gue keliatan merah, untung ini malam. Masih selamat deh gue.


"Sayangnya kenapa aku tak percaya ya, sepertinya kau mulai tertarik pada ku kan." Bara menoleh ke arahnya dengan senyuman yang hanya dia yang tau artinya.


"Kau ini memang selalu krisis percaya diri jadi wajar saja jika sampai kau belum juga punya pasangan."


"Mau bukti?" Bara mengerem dengan mendadak membuat Lena sampai terhuyung ke depan.


"Apa kau gila, jika aku sampai terantuk dasboard mobil bagaimana?" seru Lena yang kaget dengan apa yang di lakukan Bara saat ini. Tatapannya yang tadinya sudah membulat sempurna dan seperti akan keluar dari tempatnya kini berubah saat pandangannya matanya bertemu dengan manik mata Bara yang menatap nya intens.


Bara terus menatap Lena hingga ia pun memajukan tubuhnya dan kini tak ada jarak di antara mereka. Lena pun seperti terhipnotis ia tak banyak bergerak hanya diam seperti terbawa suasana.


Dengan tanpa keraguan Bara pun mendekatkan bibirnya dengan bibir Lena mengecup lembut bibir yang selama ini membuat kepalanya pusing karena ia yang selalu berdebat dengan gadis itu.


Merasa tak ada perlawanan dari Lena, ia pun mulai menyesap dan ********** dengan penuh kelembutan bibir yang terasa manis baginya, meskipun tak ada balasan ciuman dari Lena. Bibir Lena yang hanya diam tapi ia juga sepertinya menikmati apa yang saat ini Bara lakukan terhadapnya membuat Bara meneruskan ciuman lembut itu.


Setelah di rasa cukup Bara pun mengurai ciumannya dan mengusap lembut bibir Lena dengan ibu jarinya, ia tersenyum melihat Lena yang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Untungnya mereka kini tengah berada di daerah yang cukup sepi.


"Bagiamana, apa kau masih mengelak?" Bara tersenyum melihat Lena yang mengerjap - ngerjapkan matanya seolah telah tersadar akan apa yang baru saja terjadi.


"Kau mencuri ciuman pertama ku." Lena memukul tangan Bara karena ia baru saja sadar sepenuhnya akan apa yang mereka lakukan.


"Apanya yang mencuri? kau ini tunangan ku apa yang salah?" tanya Bara dengan santainya.


"Tapi tidak seperti ini konsepnya bambang." Lena masih saja belum mau menerima kejadian ciuman itu.


"Nanti akan ku cium kau di depan orang banyak saat pesta pernikahan kita, bagaimana?" Bara menggoda Lena yang kini masih saja memegang bibirnya.


Jika melihatmu tersipu seperti ini, aku merasa kau seperti gadis normal lainnya. Pantas saja ia tak membalas ciuman ku ternyata ini pertama baginya.


"Tidak, aku tidak mau. Kau cium saja tembok sana." seru Lena yang masih kesal dengan perlakuan Bara padanya. Tetapi jujur saat ini ia begitu gugup dan canggung dan sangat malu dengan kejadian ciuman mendadak tersebut tapi Lena mencoba untuk tak terbawa suasana.


***


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit kini Aditya sudah di perbolehkan pulang. Tidak ada yang tau jika ia sudah menjadi pasien rumah sakit karena Aditya melarangnya, cukup hanya orang terdekatnya yang tau. Bahkan orang tuanya pun tak ada yang tau tentang sakitnya saat ini.


Aditya juga Ziana baru saja sampai di apartemen mereka. Sungguh saat ini Aditya sangat merindukan kamarnya, meskipun fasilitas di rumah sakit sangat bagus bahakan terkesan seperti kamar hotel yang nyaman tetap saja itu adalah rumah sakit dan Aditya tidak menyukai itu.


"Beristirahatlah suamiku." Ziana pun menyelimuti tubuh Aditya yang kini tengah bersandar pada headboard tempat tidur.


"Temani aku ya."


"Nanti aku akan menemani mu, sebentar ya aku buatkan dulu coklat panas untuk mu." Ziana tersenyum dan ia pun melangkah pergi menuju dapur untuk membuatkan coklat panas kesukaan mereka berdua.


Setelah selesai ia pun bawa dua coklat hangat ke dalam kamar. Aditya saat ini tengah memeriksa beberapa email yang di kirim oleh sekertaris Angga karena selama ini ia tak masuk.


"Jangan terlalu fokus pada benda itu." Ziana pun menyodorkan segelas coklat panas pada Aditya.


"Aku hanya memeriksa email yang masuk sweety." Aditya mengambil gelasnya dan meminumnya perlahan.


"Dengar lah aku mohon setelah ini jagalah kesehatan dengan baik, jangan bekerja terlalu keras.Ingat ada aku yang selalu menunggu mu." ucap Ziana yang kini duduk di hadapan Aditya dengan segelas coklat panas di tangannya.


"Baiklah aku pastikan akan menuruti semua mau mu."


"Maka kau harus berobat, jika ingin menuruti kemauan ku."


"Baiklah." jawab Aditya dengan senyuman yang tak pernah lepas darinya.


"Jangan membuat ku khawatir, melihatmu tak sadarkan diri di hadapan ku itu merupakan pukulan terberat untuk ku, aku sangat takut." Ucap Ziana hingga tak sadar ia pun meneteskan air matanya jika mengingat kejadian waktu itu.


"Maaf kan aku sweety." Aditya pun memeluk istrinya itu, kemudian pecahlah tangis Ziana dalam pelukannya.


Seharusnya Ziana yang memberikan dukungan kepada Aditya karena di sini yang sakit adalah suaminya, tetapi dalam posisi ini Aditya lah yang menenangkan Ziana. Entah apa yang akan terjadi jika penyakit suaminya itu kambuh secara tiba- tiba, ia tak yakin jika akan kuat melihat penderitaan yang di alami oleh orang yang begitu di cintainya.


"Aku takut, jangan menyerah aku mohon demi aku. Jika kau merasakan sakit atau apa pun rasa tak nyaman dalam tubuh mu. Bicaralah, jangan menahannya sendirian, ada aku yang akan selalu di sampingmu."


"Maaf sudah membuat mu masuk dalam ke dalam kehidupan ku."


"Aku menerima apa pun keadaan mu suami ku, jangan merasa terbebani karena aku sungguh tulus mencintai mu."


Tuhan aku mohon panjangkanlah umur suami ku, biarkan aku bersama nya sampai tua nanti. Apa pun kondisinya aku sungguh ikhlas asalkan dia ada di sampingku terus. Jika boleh aku meminta lebih sembuhkan dia, tapi jika takdir tak berpihak pada ku maka aku tak akan pernah rela sampai kapan pun, maafkan permintaan ku yang tak pantas ini. Aku hanya meminta sedikit rasa belas kasih mu terhadap guratan takdir atas suamiku.