In Memories

In Memories
part 124



"Kau di sini?" tanya Bara dengan berdiri dan berhadapan dengan Lena.


"Iya kenapa aku mengganggu kencan mu hah?" Lena masih saja menatap tajam Bara dengan nafas yang naik turun menahan emosinya.


Dasar j*lang tak tau diri, apa ia tak tau kalau Bara sudah punya pasangan. Ah tak mungkin lihatlah cincin tunangan kita masih ada di jari manisnya. Matanya pasti bermasalah, pengen gue congkel sekalian.


"Apa aku terlihat seperti badut, kenapa dari tadi kau tersenyum pada ku."


"Dia tunangan mu?" tanya wanita itu bertanya pada Bara dan ia pun mengangguk sebagai jawabannya.


Lena tertawa dan bertepuk tangan hingga mengelilingi meja mereka duduk. Hingga ia pun berhenti tepat di samping meja wanita yang belum ia ketahui namanya itu.


"Kau bahkan sudah tau status kami tapi kau masih tetap menggodanya. Apa kau tak laku sampai harus jalan dengan tunangan orang lain, hah? Kau bahkan tak sebanding dengan ku." Lena melihat penampilan wanita tersebut dari atas hingga bawah, seperti tengah memindainya.


"Bukan begi.." belum sempat kalimatnya ia lanjutkan dengan segera Lena memotong ucapannya.


"Kau mau cari alasan apa lagi, dan kau kelakuan mu sungguh menjijikan." Lena menunjuk wajah Bara dengan telunjuknya, amarahnya tak bisa di bendung lagi. Hingga membuat sebagian pengunjung cafe melihatnya, untung saja cafe sedang tak begitu ramai saat ini.


Bara yang panik karena tak ingin terjadi hal yang tak di ingin kan segera berdiri, ia tak ingin jadi pusat perhatian orang. Dia mulai pusing melihat Lena yang terus mengoceh dan menuduhnya selingkuh.


"Kau salah paham." Bara mencoba menyela ucapan Lena.


"Diam jangan membela diri mu dan dia." Kini telunjuknya ia arahkan pada wanita tersebut.


"Kami tak ada hubungan apa - apa dan dia itu adik sepupu ku, dia seorang desainer. Dan aku tak sengaja bertemu dengannya di sini, jadilah kita makan bersama."


Lena pun membulatkan matanya dan mulutnya yang terbuka karena kaget ia pun mengerjapkan matanya. Dan Bara dengan sigap menutup mulut Lena dengan tangannya.


"Malu?" tanya Bara dengan tangan yang masih berada di mulut Lena dan ia pun mengangguk sebagai jawabannya, lalu Bara menarik kursi yang ada di sampingnya dan mendudukkan Lena yang masih tampak terkejut dengan wajah yang memerah karena malu.


Sumpah gue malu banget, ya ampun otak gue kenapa nggak bisa mikir jernih sih kalau berkaitan dengan dokter tengil ini. Kyaaa asli gue malu pake banget ini..


Wannita yang Bara katakan sebagai adik sepupunya itu pun mengulurkan tangannya, dan Lena pun menyambut uluran tangan nya.


"Fiona, sepupu Bara dan aku pastikan nanti yang akan merancang gaun pernikahan kalian." ucapnya dengan senyum yang menghiasi bibirnya yang merah.


"A..aku Lena, maaf aku salah paham mohon maafkan perkataan ku. Itu hanya tidak sengaja."ucap Lena dengan gugup dan malu karena sikapnya yang tak sopan pada adik sepupu tunangannya.


"Tidak apa aku lega ternyata kau begitu mencintai kakak sepupu ku, terlihat dari reaksi mu tadi." Fiona tersenyum saat mengingat tingkah Lena pada nya.


"Bukan begitu." Lena menggoyangkan kedua tangannya mengelak ucapan Fiona, ia terlalu malu akan kebenaran dari perkataan adik sepupunya.


"Kau benar sekarang baru aku percaya." Fiona pun ikut menyauti ucapan Bara.


"Mana ada seperti itu." Lena berbisik di telinga Bara dengan sedikit mengeratkan giginya karena kesal dengan apa yang Bara katakan.


"Kalian itu sungguh manis aku jadi iri melihatnya."


Bara dan juga Lena saling berhadapan dan tersenyum canggung. Karena kesal tapi ia juga malu dan membuatnya jadi salah tingkah akhirnya ia pun meminum gelas Bara membuat Fiona maupun Bara hanya tersenyum melihat kelakuannya.


***


Kesehatan Aditya kini mulai stabil karena ia selalu mematuhi apa pun perkataan perawat pribadinya, kini Ziana menjadi perawat pribadi yang selalu memantau semua kegiatan suaminya. Ia selalu berkonsiltasi dengan dokter Fiko mengenai kesehatan Aditya.


Setiap hari Aditya selalu harus tidur tepat waktu, ia kini tak pernah lagi kerja lembur jika ada pekerjaan yang belum bisa di selesaikan maka ia akan mengerjakannya esok harinya, kini makannya menjadi lebih teratur karena harus selalu meminum obat tepat waktu. Bahkan Ziana selalu memberikannya makanan sehat untuk Aditya.


Aditya memutuskan untuk berobat di tanah air, ia tak ingin pergi jauh dan membuat istrinya tak nyaman berada di tempat asing. Alasan lainnya karena pekerjaan yang membuat nya bisa lebih mudah ia handle jika berada di tanah air juga pertimbangan Ziana yang masih kuliah.


"Apa hari ini aku juga harus ke perusahaan lagi?" tanya Ziana yang tengah menyiapkan baju untuk di pakai Aditya.


"Tentu itu kesepakatan kita, kau harus selalu belajar dengan ku jika ada waktu senggang." Ucap Aditya yang baru saja selesai membersihkan dirinya.


"Ini bukan lagi waktu senggang, tapi tiap hari." Ziana mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari suaminya.


"Kau sudah berjanji pada ku sweety." Aditya mencubit gemas pipi chubby istrinya.


"Baiklah." Ziana menghela nafasnya panjang, setelah perjanjian dengan Aditya yang mengharuskan dirinya untuk datang setiap hari ke perusahaan Erlangga Corp untuk mengasah kemampuannya dalam bidang bisnis, dan sebagai timbal baliknya Aditya bersedia untuk berobat jika ia mau menuruti persyaratan yang di ajukan oleh Aditya.


Demi kesembuhan Aditya, ia rela melakukan apa pun agar Aditya bisa fokus terhadap pengobatannya.


"Sweety apa sebaiknya kita program pada dokter kandungan? aku hanya takut jika aku tak bisa.." belum sempat ia melanjutkan perkataannya tapi Ziana langsung membungkam mulutnya dengan kecupan singkat.


"Jangan terlalu banyak berpikir suami ku, saat ini kita fokus pada pengobatan mu saja dulu ya. Setelah itu baru kita pikirkan tentang anak."


"Apa kau tak ingin punya keturunan dari ku?" Suara Aditya mulai meninggi karena kesal dengan jawaban dari Ziana.


"Kenapa kau berpikir seperti itu? aku sangat mencintai mu tak mungkin jika aku tak menginginkan anak dari mu, bahkan dari sebelum kau sakit. Aku adalah orang pertama yang selalu takut jika ada masalah dengan rahim ku. Karena sudah hampir beberapa bulan kita menikah tapi aku belum juga bisa hamil." Ziana tak kuasa menahan air mata nya, mengingat sampai saat ini dirinya belum juga mengandung.


"Maafkan aku sweety, maaf aku tak bermaksud membentak mu. Sungguh tolong maafkan aku." Aditya meraih tubuh Ziana yang tengah menangis, ia memeluk istrinya dengan erat. Emosinya yang selalu meledak tak terkendali di karena kan rasa tak percaya dirinya yang begitu tinggi karena penyakitnya.


"Jangan seperti ini, jangan meragukan aku lagi." Isak tangis Ziana pun pecah di pelukan Aditya, laki - laki yang selalu ia sebut dalam setiap doanya.