
Di belahan bumi yang lainnya ada seorang pria yang tak pernah bisa melupakan gadis yang tak pernah lepas dari dalam pikirannya. Ia yang tak pernah bisa sedetikpun lepas dari bayang - bayang masa lalunya, pria tampan yang pergi dari negaranya untuk menuntut ilmu atau lebih tepatnya mencari tempat untuknya berdamai dengan hati dan kenyataan yang ada.
Evan tau cintanya tak akan pernah terbalas sampai kapan pun, mungkin sampai nanti ada yang menggantikan cintanya. Seseorang yang akan mengubah hidupnya yang kini hampa tak berwarna menjadi pelangi indah yang akan mewarnai hidupnya nanti.
Kini ia tengah termenung di atas tempat tidurnya, mimpi buruk yang tadi di alaminya membuatnya terjaga. Dalam mimpinya ia melihat Ziana tengah menangis pilu dan ia pun memeluknya erat tapi saat dalam pelukannya Ziana langsung tak sadarkan diri dan itu yang membuatnya panik hingga ia pun terbangun.
"Apa yang terjadi padamu, Zi? kenapa hatiku begitu sakit melihatmu menangis seperti itu?" ia pun memegang dadanya yang seakan tercubit mengingat mimpi yang ia alami.
"Ku harap kau selalu bahagia bersama dengannya."
ia pun meraih ponselnya untuk melihat sosmed Ziana demi mengobati rasa rindu yang selalu menghinggapinya setiap waktu.
Evan selalu memantau sosmed milik Ziana meskipun hatinya sakit melihat kebersamaan wanita yang ia cintai dengan laki - laki lain tapi ia berusaha untuk tegar.
"Aku sangat merindukanmu Zi." Di ciumnya foto Ziana yang berfose sendiri di dalam sosmednya. Jujur dalam hatinya Evan ingin bertemu dengannya walau hanya melihat dari jarak jauh saja.
"Ya Tuhan ijinkan aku di kehidupan mendatang untuk bisa berjodoh dengannya, aku sangat mencintai makhluk ciptaanmu yang begitu sempurna di mataku." gumamnya hingga tak terasa ada yang menetes jatuh dari matanya.
Banyak gadis yang selalu berusaha mendekatinya, tetapi entah kenapa hatinya belum ada yang tersentuh dari sekian banyak gadis yang tak lelah memberinya perhatian meski hanya di balasnya dengan senyuman untuk menolaknya. Dalam hatinya masih terpatri jelas nama Ziana Bilbina yang belum bisa terhapuskan sampai detik ini.
***
"Maaf Tuan sepertinya anda sedang bahagia?" Sekertaris Angga yang kini sedang berada di dalam ruangan atasannya, ia melihat Aditya yang sejak sampai di ruangannya selalu tersenyum.
"Tentu, selain kondisi kesehatanku yang semakin baik dan kini aku bahagia dengan pernikahanku." Aditya terus tersenyum dengan tangan yang tetap memegang berkas, saat ini Aditya juga Angga tengah membicarakan pekerjaan yang belum selesai di kerjakannya. Aditya yang tak di perbolehkan lagi untuk lembur membuat pekerjaan pasti akan menumpuk pada esok harinya.
"Syukurlah Tuan saya ikut senang melihat kebahagiaan anda saat ini." Ucap Angga dengan tulus menyampaikan isi hatinya.
"Kau tau apa yang membuat seorang wanita bahagia saat bersama dengan seorang pria?" tanya Aditya.
"Tidak Tuan saya belum pernah mempunyai kekasih, jadi saya belum tau terlalu jauh soal wanita."
"Perlakukan mereka seakan wanita adalah harta berharga yang kita miliki satu - satunya, maka kau pasti akan mendapat berjuta kali lipat kebahagiaan yang di berikan olehnya." Aditya berkata dengan tatapan serius sebagai seorang kakak yang tengah menasehati adiknya.
"Baik Tuan saya mengerti."
"Cepatlah cari pasangan, agar hidupmu lebih bermakna."
Bagaimana aku akan mencari pasangan jika semua waktuku harus tersita dengan mengurus semua pekerjaan yang kau berikan padaku Tuan. Tapi melihatmu bahagia saat ini, aku jauh lebih bahagia. Semoga kebahagiaan selalu melingkupi keluarga kecil anda Tuan.
"Pasti Tuan nanti jika sudah saatnya, aku pastikan akan mengikuti saran dari Tuan." jawab Angga.
"Baiklah apa jadwalku sekarang?"
"Minggu ini ya?" tanya Aditya dengan membuat gestur di dagunya dan tangannya bertumpu pada pegangan kursi.
"Ya Tuan minggu ini."
"Baiklah sepertinya ide yang bagus, kebetulan aku ingin mengajak istriku berlibur." Aditya mengungkapkan idenya yang tercetus begitu saja, ia ingin mengajak istrinya berlibur setelah beberapa waktu ke belakang Ziana merawatnya, pasti itu sangat melelahkan. Meskipun ada peningkatan yang baik dengan kesehatannya bukan berarti ia telah sembuh dari sakitnya. Aditya masih harus tetap kontrol, dan masih harus rutin meminum obatnya saat ini kesehatannya masih di pantau terus oleh pihak dokter.
"Sepertinya itu bagus untuk Tuan dan Nona, di sana udaranya sangat bagus Tuan dan jauh dari hiruk pikuk kota. Terlebih lagi suasananya yang tenang membuat Tuan dan Nona bisa lebih fokus."ucap Angga memberikan saran pada Tuannya.
"Fokus bulan madu maksudnmu?"
"Seperti itu maksudnya Tuan."
"Persiapkan semuanya minggu ini."
"Baik Tuan."
Keduanya pun meneruskan untuk pembahasan pekerjaan lainnya yang selama ini belum selesai atau bahkan belum sempat tersentuh oleh Aditya. Kini semangatnya kembali membara seperti waktu ia sehat dulu.
Erlangga Corp adalah salah satu gedung pencakar langit yang di bangun dari dua kerajaan bisnis yang di miliki oleh kedua orang tuanya. Pernikahan bisnis yang di lakukan oleh kedua orang tuanya menjadikan nama Erlangga Corp besar, tetapi meski begitu pernikahan mereka di landasi dengan cinta bukan dengan keterpaksaan. Dan kini dengan adanya putra mereka yang mempunyai darah bisnis dari ke dua orang tuanya menjadikan bisnis mereka bertambah luas bahkan merambah sampai ke luar negri.
Kecerdasan Aditya dalam mengelola bisnis menjadikan perusahaan mereka semakin maju dan berkembang pesat, tetapi itu tak membuat Mom Irene maupun Dad Gamma memaksakan Aditya harus menikah dengan yang sederajat, terbukti mereka sangat menyayangi menantunya saat ini.
Karena hal itu Aditya selalu menyuruh Ziana untuk belajar setiap hari dengannya di perusahaan, agar sewaktu ia lelah karena sakitnya ada istrinya yang akan membantu. Ia ingin agar Ziana menjadi wanita terhormat di kalangan kolega bisnisnya, Aditya tak ingin istrinya di rendahkan karena status sosial mereka yang begitu jauh.
Jam makan siang sudah lewat saat ini adalah waktu dimana Ziana datang untuk memuntut ilmu bersama suaminya.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk." Aditya tetap sibuk dengan laptopnya.
"Suamiku kau masih sibuk?" Ziana mengahampiri Aditya.
"Tidak sudah beres, kau sudah makan?"
"Sudah, kau sendiri sudah makan dan sudah minum obat?"
"Sudah, kemarilah sweety aku merindukanmu." Aditya menarik Ziana ke dalam pangkuannya dan ia pun mencium bibir istrinya m*nyesapnya dengan lembut, tangannya membingkai wajah Ziana. Mencium wangi tubuh istrinya yang selalu ia sukai, wangi lembut vanilla menyegarkan penciumannya.
Pelajaran hidup menenangkan dulu sebelum pelajaran materi yang di ajarkan Aditya pada istrinya nanti, yang selalu membuat Ziana pusing karena begitu rumitnya data statistik, kurva, persentase dan istilah lainnya. Tentunya pelajaran itu akan sangat menguras otak nantinya.