
"Sebenarnya ada hal apa yang membuatmu menghubungiku?" ia bertanya untuk yang kedua kalinya karena tak juga mendapat jawaban dari Aditya.
Keheningan terjadi beberapa saat karena Aditya yang masih saja menatap intens wajah rivalnya, tetapi ia harus bisa berdamai dengan perasaannya. Dengan helaan nafasnya yang terasa berat ia pun mencoba untuk membuka suara.
"Jagalah istriku." hanya kata itu yang keluar dari mulut Aditya.
"Apa maksudmu?" tanya Evan tak mengerti.
"Kau yakin Ditya? kau masih punya waktu." tanya Bara menggelengkan kepalanya, ia sudah menduga arah pembicaraan ini akan bermuara kemana. Hanya saja ia tak percaya jika orang yang tak pernah mengenal putus asa seperti Aditya akan mengalah dengan cepat.
Sementara Evan hanya mengerutkan keningnya tak mengerti dengan obrolan kedua orang di hadapannya. Kini dirinya yang justru tengah menunggu jawaban tetapi malah mereka yang berdebat.
"Ada apa sebenarnya?"
"Waktuku tidak lama lagi, aku titipkan istriku. Jagalah dia." Aditya berkata dengan nada biasa, datar tak terlihat ekspresi apa pun dari wajahnya. Sikapnya begitu tenang, tapi sungguh dalam hatinya ia sangat rapuh. Tidak ada seorang pun yang ingin menyerahkan orang yang paling di cintainya pada yang lain. Hanya saja takdir memang tak berpihak padanya.
"Sebenarnya adavapa ini? apa yang terjadi? jelaskan semuanya padaku." Evan merasa bingung dengan semua ucapan ambigu dari mulut Aditya.
Bara pun mencoba memberikan penjelasan semua hal yang harus ia katakan mengenai semua permasalahan yang kini terjadi. Sorot mata Evan berubah sendu mendengar semua penuturan yang Bara ucapkan padanya.
"Jangan mengasihaniku." ucap Aditya yang kini tengah meneguk minuman hangatnya, coffe latte.
"Aku hanya tak habis pikir, kenapa kau sampai berpikir sejauh itu?" tanya Evan.
"Meski transplantasiku berhasil, setidaknya aku sudah berbicara denganmu."
"Ziana bukan barang, dia berhak memilih jalan hidupnya. Meski ku akui aku mencintainya tapi ini soal perasaan, aku tidak mau." Ucap Evan meski jauh di lubuk hatinya ia juga menginginkan Ziana menjadi pendamping hidupnya tapi tidak dengan jalan seperti ini.
"Ayolah aku tak punya waktu untuk bernegosiasi."
"Aku tetap tidak mau." Evan menatap Aditya dengan tegas.
"Aku hanya tidak ingin jika nanti setelah kepergianku, dia akan terus larut dalam kesedihan. Aku takut dia tak mampu berdiri lagi setelah aku tak ada. Hanya kau yang aku percaya untuk mengahapus air matanya nanti."
Evan menelan salivanya, ia mendengar semua ucapan seorang suami yang saat ini tengah di ujung kematian. Evan tak mampu berkata - kata, ia tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Meski ia begitu menginginkan Ziana tapi ia selalu berdoa agar Ziana hidup bahagia selamanya dengan Aditya.
Sekilas membayangkan Ziana menangis pilu membuat hatinya seakan tercubit, bayangan mimpi waktu itu seolah berputar di kepalanya. Pandangannya kosong, ia terdiam pikirannya kini hanya tertuju pada Ziana.
"Apa aku harus memohon padamu? baiklah akan ku lakukan." Aditya beranjak berdiri dan saat hendak berlutut, Evan segera tersadar dari lamunannya dan menyangga tubuh Aditya hingga berdiri kembali.
"Baiklah akan aku lakukan sesuai permintaanmu."
"Terima kasih, jangan lepaskan tangannya sekalipun ia memintamu pergi."
"Baiklah." Ucap Evan yang tak tau lagi harus berkata apa, saat ini hati dan pikirannya begitu shock, mendengar permintaan aneh dari rivalnya.
"Tapi ingatlah tolong berjuang untuknya dan jangan menyerah, Ziana begitu mencintaimu. Aku yakin kau tak akan perlu menagih janjiku, kau pasti sembuh." lanjut Evan dengan menepuk pelan tangan Aditya.
"Tentu." hanya itu ucapan singkat yang keluar dari mulut Aditya.
Semoga ada keajaiban untukmu Ditya, meskipun takdir tak memihak padamu nanti, aku setuju dengan apa yang kau lakukan saat ini. Aku lihat dia memang pria baik, aku pun akan melakukan hal yang sama jika ada di posisimu.
Setelah pertemuan itu berakhir, Aditya pun pulang ke hotel. Tadi ia berpamitan dengan Bara dengan alasan ingin menikmati suasana di sekitaran hotel, dan menyuruh Ziana dan Lena untuk refreshing sejenak dengan shopping di mall terdekat.
flashback on
"Sweety sebaiknya kau pergi untuk memanjakan dirimu, ke mall terdekat sini pasti ada yang kau suka." Ucap Aditya begitu keluar dari bathroom hotel.
"Tidak usah, kita di sini saja ya." jawab Ziana yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Aku tau kau pasti lelah jangan terlalu kuat di depanku, aku ingin kau manja lagi padaku. Hingga aku merasa berguna menjadi suamimu." ucap Aditya dengan pura -pura kecewa di hadapan istrinya.
"Jangan berkata seperti itu, ok baiklah aku akan pergi tapi bagaimana dengan kondisi sayang?" tanya Ziana yang tak tega melihat wajah kecewa Aditya.
"Pergilah dengan sahabatmu itu, berbelanjalah sesuka hatimu. Bila perlu kuras semua isi atmku ya?" Bola mata Aditya berbinar mendengar istrinya akan pergi untuk sedikit bersenang - senang. Sebenarnya ia sudah ada janji dengan Evan tetapi lebih kepada Aditya ingin jika istrinya sedikit meluangkan waktu untuk tubuhnya sendiri, karena selama ini ia selalu sibuk mengurusnya.
"Baiklah akan aku kuras semuanya." ucap Ziana mengerlingkan matanya.
"Tidak masalah uangku masih banyak bahkan jika kau menghabiskan isi mall sekalipun."
"Kau ini selalu saja seperti ini." Ziana mencubit manja pergelangan tangan suaminya.
"Aww kau ini mencubit pasien." Aditya mengelus tangannya yang di cubit oleh Ziana.
"Aku mecubitmu pelan bahkan anak balitapun tak akan merasakan sakitnya." ia mencibir suaminya yang begitu manja padanya.
"Aku akan bersiap - siap dulu."
"Jangan terlalu cantik karena aku tak berada di sampingmu, sweety." Jiwa posesifnya memang tak pernah pudar, apalagi saat kini ia sedang sakit.
"Aku akan memakai cadar jika perlu." ucap Ziana kesal.
"Kau menggemaskan jika marah sweety, kita berangkat ke bawah bersama." Aditya mencium gemas pipi Ziana yang tengah cemberut karena ucapannya barusan.
"Kau mau kemana memangnya?" tanya Ziana berbalik badan saat tengah memilih pakaiannya.
"Aku dan Bara hanya ingin menikmati coffe di cafetaria di dekat hotel."
"Tapi ingat jangan sampai melakukan kegiatan yang dapat membuatmu lelah ya, hanya menikmati cofee saja bukan?"
"Tentu istri bawelku."
"Baiklah." Ziana pun meneruskan kembali memilih pakaiannya dan ia juga sedang memilih pakaian untuk suaminya agar tubuh Aditya tetap hangat. Udara di luar cukup dingin apalagi bagi Aditya ia harus selalu merasa hangat agar kondisinya tetap stabil.
Aditya hanya terduduk diam melihat semua yang di lakukan oleh istrinya, Ziana adalah cinta pertama dan terakhir baginya yang tak pernah bisa tergantikan.
Kau harus mulai terbiasa tanpa aku sweety. Maafkan aku harus melakukan hal ini padamu, menitipkanmu padanya, pria baik yang akan menjagamu nanti setelah aku. Karena aku merasa waktuku tak banyak lagi, aku hanya takut tak sempat melakukannya. Hanya ini yang bisa aku lakukan, semoga bahagia selalu menyertaimu.