In Memories

In Memories
part 40



Setelah menempuh perjalanan lebih dari setengah jam Ziana dan Aditya sampai di hotel tempat acara yang masih berlangsung. Mereka berdua pun turun dan melangkah menuju ballroom hotel.


"Kak Ditya tadi sama siapa kesini?" tanya Ziana


"Angga." jawab Aditya dengan terus berjalan untuk dapat sampai di tempat tujuan. Sesaat Ziana pun mengangguk tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya membuat Aditya pun ikut serta menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Aditya dengan mengerutkan keningnya.


"Siapa wanita yang dulu Kak Ditya bawa ke cafe waktu itu?" Ziana yang teringat akan sosok perempuan yang saat itu makan siang bersama dengan aditya.


"Teman." jawabnya singkat.


Jawaban yang singkat untuk sebuah penjelasan yang harusnya panjang, Ziana memicingkan matanya menatap lekat Aditya.


"Apa hanya teman?" tanya nya lagi dengan rasa tak percaya jika hubungan mereka hanya sebuah pertemanan.


"Lain waktu akan ku kenalkan padamu." Aditya balas menatap wajah Ziana dengan sorot matanya yang hangat dan senyum tipis di bibirnya.


"Baiklah aku percaya." Ziana tersenyum dan mereka pun melanjutkan langkah mereka kembali.


Ziana mencari Lena dengan mengedarkan pandangan matanya ke segala arah, sedangkan Aditya menghubungi Sekertarisnya yang tadi ia tinggalkan.


"Zi lo kemana aja sih? dari tadi gue sama Evan nyariin lo?" ucap Lena yang menghampirinya begitu melihat sahabatnya sedang kebingungan mencari dirinya.


"Gue..." belum sempat perkataan nya selesai sudah di potong lagi oleh Lena.


"Lo nggak tau apa Zi, si Evan udah pucat banget mukanya dia nyariin lo kemana-kemana terus gue suruh pulang aja dan bilang kalau lo baik-baik aja karena tadi gue udah nelpon lo." Lena terus saja mengoceh tanpa menyadari Aditya yang mengeraskan rahangnya mendengar ada laki-laki lain yang mengkhawatirkan kekasihnya itu.


Ziana hanya tersenyum canggung, ia mulai mengedipkan matanya agar mulutnya tak bocor lagi. Namun bukannya mengerti Lena malah melanjutkan omongannya.


"Kaya nya bener kan dugaan gue, sekarang dia yang mulai mepetin lo keliatan banget tadi dia gelisah tau lo nggak ada."


Si Odah itu mulut rem nya blong amat sih!! pengen banget gue jait ,nggak liat apa di belakang dia tuh patung yang biasa dingin mukanya udah kaya kepiting rebus merah banget. Jangan sampe pecah perang dunia ke 2 baru aja resmi masa udah ribut aja mending kalau ributnya di kasur!!ehhhh...


Ziana menggelengkan kepalanya membuang pikiran kotornya. Ia mencubit lengan Lena agar berhenti bicara yang tak berfaedah yang ujungnya akan membuat posisinya sulit.


"Kenapa sih lo dari tadi aneh banget." Lena yang merasa heran dengan tingkah Ziana yang tak biasa lebih banyak diam semenjak tadi kedatangannya.


"Tuan apa sudah selesai?" Sekertaris Angga yang baru datang menghampirinya, ia menunggu cukup lama di hotel tadi karena memang Aditya menyuruhnya untuk menunggu melalui pesan singkat sebelum dirinya meninggalkan hotel tersebut.


"Sepertinya belum." pandangannya tertuju pada Ziana bukan pada lawan bicara yang ada di sampingnya.


"Nona Ziana." Angga menyapa Ziana dengan menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Ah Sekertaris Angga." Ziana pun membalasnya dengan hal yang sama.


Lena si biang kerok yang merasa ada orang di belakangnya pun kemudian berbalik, ia tak mengenal kedua orang tersebut karena memang Ziana tak pernah menceritakan sebelumnya.


"Siapa Zi?"tanya Lena dengan wajah polosnya.


"Aditya Erlangga, kekasih Ziana Bilbina." Ia menjabat tangan Lena dan menekankan setiap kalimatnya agar ia tau bahwa ia adalah kekasih Ziana.


"Lena." ia pun menyebutkan namanya sama seperti reaksi Ziana tadi ia pun tak menyadari perkataan dari Aditya. Baru setelah sesaat kemudian ia pun terkejut, jangan tanya ekspresi dari Sekertaris Angga yang sama terkejutnya dengan apa yang di ucapan kan boss nya itu.


"Whatt? ini beneran kan lo nggak lagi prank gue kan Zi. Kenapa lo nggak pernah cerita sih gue udah nggak di anggap ini, marah ini gue!" Lena mengerucutkan bibirnya kesal karena ia tau belakangan dan bukan dari Ziana langsung.


Apa-apaan ini seharusnya aku yang marah mendengar semua ocehan gadis itu tadi, kenapa jadi dia yang marah??


"Ishh ntar gue ceritain udah ah nggak usah drama deh lo." ucap Ziana yang kini tengah menatap wajah Aditya yang tampak datar tak seperti tadi, membuat Ziana tak dapat menangkap arti dari sorot matanya itu.


"Kak Ditya apa masih mau di sini sampai acara selesai?" Ziana bertanya dengan hati-hati agar ia tak salah memulai kalimat yang ia tujukan untuk kekasihnya itu.


"Apa kau mengusirku?"


"Bukan aku hanya ingin memastikan soalnya apa Kak Ditya mau menunggu sampai satu jam lebih?" Ziana menatap Aditya dengan besar harapan ia segera pulang dari sini, karena ia ingin segera bergosip dengan Lena yang sejak tadi ia tinggalkan. Dari pada ia nanti akan terus di teror oleh lena jika belum tuntas rasa penasarannya lebih baik ia mengatakannya secepat mungkin.


"Baiklah aku pulang sekarang. Pulang nanti kabari, aku tunggu penjelasan mu." Ucapnya dengan wajah datar nya kemudian ia berbalik tanpa ada ucapan perpisahan layaknya pasangan yang masih hangat - hangatnya. Apalagi karena karena perkataan dari mulut yang rem nya blong tanpa filter yang ia dengar tadi. Angga tampak mengangguk kepada Ziana sebelum akhirnya mengikuti langkah aditya.


"Lo serius pacaran sama tuh kulkas?" Lena yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi pun dengan segera memulai sesi wawancara nya dengan Ziana, ia sudah lupa dengan apa yang akan ia bahas tentang gaya busana para tamu yang tadi banyak sekali dalam otaknya untuk ia bicarakan dengan Ziana.


"Iya bukan kulkas tapi patung es." Ucap Ziana dengan tertawa kecil.


"Sejak kapan ko gue nggak tau sih?" Lena yang tak akan pernah cukup hanya dengan cerita sepotong jika tak di ceritakan semuanya maka ia akan terus bertanya seperti bocah 4 taun yang sedang haus akan rasa penasaran dengan apa yang di lihatnya. Maka Ziana pun menceritakan dari awal hingga akhirnya resmi menjadi kekasih seorang Aditya Erlangga.


"Akhirnyaa lo udah sold out, gue ikut senang Zi." Lena pun memeluk Ziana erat.


"Lo kira gue barang apa?"


"Issh lo, eh iya itu tadi dia kayak nya marah deh masa baru jadian lo udah perang lagi sih?" Lena dengan wajah polosnya tak menyadari apa yang membuat marah Aditya.


"Kan gara-gara omongan lo Idah, udah gue kodein juga lo nggak ngerti juga." Ziana menoyor kepala lena.


"Aduh gimana dong berarti ini salah gue?" Lena yang baru menyadarinya terlihat panik dan mengguncangkan tangan Ziana.


"Udah lo tenang aja ntar gue yang jelasin." Ziana tersenyum menenangkan Lena.


Tak terasa mereka mengobrol dengan terus memutari setiap stand makanan yang ada, mengisi perut mereka dengan penuh.