In Memories

In Memories
part 75



Acara masih berlangsung dengan sangat meriah karena banyaknya relasi bisnis Aditya yang hadir di pesta pernikahannya. Acara yang di bagi menjadi dua bagian siang dan malam, jadi untuk sore harinya kedua pengantin bisa beristirahat sejenak melepas lelah. Di sudut lain Zian yang tengah memperhatikan kebahagiaan Kakaknya, ia bahkan masih belum mempercayai semua yang terjadi di depan mata nya kini.


"Semoga kau bahagia selalu, jika dia membuat mu terluka maka aku orang pertama yang akan menghajarnya." gumam Zian yang tengah duduk di meja khusus keluarga dengan tetap memperhatikan kedua mempelai pengantin dari atas pelaminan.


Sementara itu di sudut yang lain nya Lena yang tengah berdiri dengan memakan es cream yang ada di tangannya, ia nampak menggigit sendok dengan tatapan mata yang tak lepas memandang ke arah pelaminan.


Bara pun datang mendekatinya, karena melihat raut wajah Lena yang begitu terlihat mengenaskan bagi nya.


"Kenapa dengan wajah mu terlihat begitu mengenaskan? apa sekarang kau sedang membayangkan jika kau sedang duduk di pelaminan, hmm?" ucap Bara yang kini tengah berada di samping Lena.


"Apa kata mu? aku mengenaskan? yang harusnya berbicara begitu itu aku, karena umurmu yang lebih pantas untuk berada di pelaminan sana." Lena berbicara dengan menunjuk pelaminan menggunakan sendok yang tadi ia gigit.


"Laki - laki itu tak ada batasan menikah, bahkan jika sudah tua sekalipun banyak yang menikah dengan gadis yang lebih muda, nah permasalahan nya adalah jika seorang gadis masih belum memiliki pasangan maka banyak orang yang akan mengatakan kalau dirinya tak laku. Ah begitu kejam mulut di luaran sana ya." ucap Bara dengan menggelengkan kepalanya seolah ia tau segala hal di luaran sana.


"Mulut mu itu.." ucap Lena belum sempat menyelesaikan kalimatnya ia di kejutkan dengan lemparan bunga yang mengarah padanya. Karena tak siap dengan keadaan ia pun menangkap bunga yang di lempar pengantin dari atas pelaminan dan seketika tubuhnya limbung, untung lah dengan sigap Bara menangkap pinggang Lena yang akan terjatuh, dengan posisi seperti itu mereka pun menjadi bahan ledekan para tamu undangan.


"Wah sepertinya bakal ada yang nyusul cepat nih."


"Ini sih kayak nya jodoh langsung ada lakinya gitu."


"So sweet banget sih."


Begitulah sebagian ucapan para tamu undangan yang melihat mereka. Dan dengan secepat kilat keduanya berdiri tegap dengan merapikan pakaian masing - masing. Sebenarnya acara pelemparan bunga tadi itu sudah sesuai urutan acara bahkan banyak para gadis dan pemuda yang berkumpul di depan pelaminan untuk menangkap bunga dari pengantin, namun karena terlalu asyik berdebat Lena tak mengetahui nya tetapi entah kenapa lemparan bunga yang dilakukan Ziana dengan membelakangi para tamu malah tepat jatuh ke tangan Lena.


"Apa ini padahal aku tak pernah mengharapkannya." ucap Lena yang tengah memperhatikan buket bunga mawar merah yang begitu cantik ada di dalam genggaman tangannya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Bara dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Apa kau percaya mitos ini?" Lena mengacungkan buket bunga itu kehadapan Bara.


"Sudahlah tidak usah kau pikirkan, atau memang kau ingin menikah dengan ku secepatnya?"


"In your dream." ucap Lena dengan berlalu pergi meninggalkan Bara yang terus tersenyum telah berhasil menggoda Lena kembali. Sepertinya sudah menjadi kebiasaannya kini jika bertemu dengan Lena, Bara akan selalu membuatnya kesal.


Saat tengah berjalan di lihatnya beberapa teman kampus yang tengah asik melahap beberapa hidangan yang tersaji di depan mata. Sesaat matanya menangkap sosok yang selalu menggoda sahabatnya itu terdiam dengan tatapan lurus ke arah pelaminan.


"Kenapa lo? jangan bilang kalau lo beneran patah hati?" tanya Lena.


"Jadi beneran lo suka sama Zi?"


"Gue bilang iya juga lo pasti nggak akan percaya." jawabnya dengan nada yang tak bersemangat.


"Ya Tuhan gue kira lo cuma iseng doang godain Zi, kenapa lo nggak ngomong seenggaknya kalau pun di tolak kan hati lo udah lega, jiwa lo bakal tenang." ucap Lena dengan menepuk - nepuk pundak Dion memberikan kekuatan padanya.


"Omongan lo itu nggak enak banget ya, lo bukannya tenangin gue malah bikin gue makin pengen terjun dari lantai atap gedung tau!! pake ada jiwa lo tenang emang gue udah wassalam apa?" seru Dion menanggapi ucapan Lena yang membuatnya bete.


"Eh sorry deh gitu aja ngambek, tapi bagus deh kalau lo masih respon omongan gue berarti lo masih waras. Udah ah nggak usah nangis lo di sini, malu noh sama umur."


"Kampret lo ah ngerusak suasana patah hati gue aja. Udah sana lo mentang - mentang bentar lagi nyusul lo." Dion mencebikkan bibirnya pada Lena.


"Issh maksud lo apaan?" Lena mengernyit tak mengerti.


"Pura - pura lupa di gondol wewe gombel noh cowok lo." Dion menunjuk pada Bara yang tengah berbincang dengan seorang gadis.


"Enak aja lo kalau ngomong dia bukan cowok gue ya, udah lah ngomong sama lo malah bikin gue mules." Lena pun melangkahkan kakinya untuk duduk karena sedari tadi kakinya pegal terus berdiri dan berjalan ke sana ke mari.


"Dasar cewek gitu tuh kalau udah tersudut pasti kabur." gumam Dion.


Acara akad dan resepsi yang berlangsung satu hari itu masih akan terus berlangsung sampai malam, karena keduanya menginginkan semua acara berlangsung di hari yang sama.


"Apa kau lelah, sweety?" tanya Aditya pada Ziana, dari sebelum mereka resmi menjadi sepasang suami istri Aditya mulai memberikan panggilan sayangnya terhadap Ziana dan itu membuat Ziana merasa seperti banyak nya kupu - kupu menggelitik pipinya terasa hangat dan menenangkan mendengar Aditya memanggilnya seperti itu.


"Aku tidak lelah Kak, ini adalah moment terbaik di sepanjang hidup ku dan aku sangat menikmatinya." ucap Ziana tersenyum sumringah menatap wajah suaminya.


"Kenapa acara ini lama sekali, aku sudah tak sabar ingin memakan mu." ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Ziana yang tengah duduk berhadapan dengannya.


"Ish apa sih Kak." Ziana merasakan pipinya terasa hangat pasti sekarang ia tengah merona karena malu, ia pun memukul pelan lengan suaminya itu.


"Kenapa apa kau malu? bahkan kita belum melakukannya tapi lihat wajah mu sudah merah sekali." Aditya terus saja menggoda Ziana, baginya ekspresi gemas yang ia lihat saat menggoda istrinya itu membuat hatinya bahagia. Ia tak menyangka di awal pertemuannya dengan Ziana yang penuh dengan kekacauan membuatnya berakhir dengan menikahi gadis yang selalu membuat hati dan pikirannya tak menentu jika mereka berjauhan.


Itulah cinta, takdir dan jodoh kita tak pernah tau seperti apa akhirnya hanya mengikuti alur yang di berikan Tuhan pada kita untuk sampai berlabuh atau hanya tempat persinggahan semata.