
Saat itu juga Bara berdiri dan langsung menghampiri Lena yang masih diam terpaku dengan wajah tanpa dosa, hampir saja ia menjadi pusat perhatian semua pengunjung cafe karena teriakannya. Tetapi karena teriakannya tidak terlalu kencang sehingga hanya meja yang dekat dengan posisi ia berdiri saja yang menoleh padanya.
Bara menarik tangan Lena dan berjalan menuju meja tempatnya makan dengan Fiko. Sedangkan Lena yang masih belum tersadar sepenuhnya hanya mengikuti kemana tangan Bara menariknya hingga sampai lah ia di hadapan laki - laki yang juga tak kalah tampan dari Bara, hanya saja Fiko memakai kacamata minus.
"Kenalkan dia Fiko rekan kerja ku, dan buang semua pikiran aneh yang ada di otak mu yang kecil itu." Ucap Bara dengan menunjuk Fiko yang tengah duduk dengan keningnya yang mengerut bingung karena tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Bara.
"Apa sih sok tau banget, halo saya Lena." Lena mengelak dengan ucapan dari Bara ia pun dengan segera mengulurkan tangannya pada Fiko.
"Saya Fiko." Ucapnya dengan membalas uluran tangan Lena.
"Duduk lah." Bara menarik kursi untuk Lena agar ia duduk untuk ikut makan bersamanya.
"Eh sebentar sepertinya aku tidak harus ikut bergabung di sini, ini sungguh canggung buat ku." Lena pun tersenyum canggung kepada dua lelaki yang kini tengah menatapnya, satu tatapan biasa dan satunya lagi tatapan seperti ingin menelan habis wanita yang selalu membuat kepala nya pusing.
"Duduk saja dan ingat satu hal tidak semua yang terlihat oleh mu itu benar dengan apa yang kau simpulkan sendiri." Bara pun mengacungkan telunjuknya seolah memberi peringatan pada Lena agar tidak sembarangan dalam menyimpulkan sesuatu.
"Ok baiklah."
Dokter ini satu spesies dengan laki nya si Mumun, selalu tau apa yang ada di otak gue yang cetek, pantas saja mereka bisa akrab dan bersahabat dengan waktu yang lama.
"Jangan terlalu banyak berpikir kasian otak mu, sudah kecil tidak bisa memuat beban dengan terlalu berat."
"Kau.." Lena tidak menyelesaikan ucapannya karena kini ada orang lain di hadapannya, jika ia hanya berdua dengan Bara sudah dapat di pastikan maka ia pasti akan membalasnya dengan suara cemprengnya.
"Pesan lah sekarang kau mau makan apa?"
Saat tengah memilih menu, tiba - tiba ponsel Fiko bergetar.
Drrrt...drrrt
Fiko pun beranjak berdiri dan menjauh dari keduanya karena ia akan mengangkat telponnya terlebih dahulu.
"Apa yang kau lakukan siang hari ini?" tanya Bara yang tengah mengaduk minuman di hadapannya.
"Aku ke sini sudah pasti akan makan mengisi perutku, bukan untuk nyangkul. Kau mengerti?
"Terserah kau saja lah."
Tak berapa lama Fiko datang dan memberitaukan jika ia harus pergi duluan karena anaknya harus di jemput dan ia lupa jika supir pribadinya sedang ijin. Karena tadi saat mereka keluar dari rumah sakit mereka berdua naik dengan satu mobil yang sama.
"Aku duluan ya, aku lupa hari ini supir ku tak masuk dan anak ku minta untuk di jemput. Kau tak apa - apa kan?" tanya Fiko lagi kepada Bara.
"Baiklah segera kau jemput anak mu, aku tak apa- apa kau tenang saja."
"Kalau begitu saya permisi Nona." Ucap Fiko undur diri dan pamit padanya.
"Iya." ucap Lena dengan senyum nya.
"Kenapa aku justru berakhir makan dengan nya." gumam Lena.
"Cepat di makan, aku masih harus balik ke rumah sakit lagi."
"Kau pergi lah, tadinya juga aku akan makan sendiri." ucap Lena santai.
"Tidak bisa, karena kau harus mengantarku lebih dulu."
"Aku tidak mau."
"Tidak, baiklah tunggu aku makan." secara refleks Lena menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Mudah sekali membuat mu menurut hanya dengan mengancam akan mencium mu, kau patuh pada ku.
"Baiklah."
Lena pun menyantap makanannya dengan mata yang terus menatap ke arah Bara seolah ia takut jika Bara akan menciumnya ketika ia lengah. Sedangkan Bara dengan santainya ia terus memainkan ponselnya.
***
Ziana dan juga Aditya baru saja selesai makan siang, saat ini keduanya makan di VIP room. Bagi Aditya yang tak terbiasa dengan banyak nya orang yang berlalu lalang saat ia makan karena itu akan sangat mempengaruhi moodnya, hanya sesekali Aditya makan di tempat yang sama dengan pengunjung lain dan itu pun jarang sekali.
"Suami ku kau kenapa?" Tanya Ziana cemas melihat darah yang keluar dari hidung Aditya.
"Ah ini mungkin karena belakangan ini aku kurang istirahat." Aditya yang merasakan ada yang mengalir keluar dari hidungnya pun meraba dengan tangannya.
"Sebentar mendongaklah ke atas agar darahnya cepat berhenti." Dengan cepat Ziana mengambil tisu dan mengelap darah yang keluar dari hidung suaminya, dan Aditya pun menurut apa yang di perintahkan oleh Ziana.
"Apa sering seperti ini?" tanya Ziana dengan terus menekan darah di hidung suaminya.
"Hanya beberapa kali jika aku teralu lelah, ini bukan hal yang serius sweety nanti juga akan berhenti dengan sendirinya." Ucapnya dengan menggenggam tangan Ziana dan menurunkannya.
"Sudah ke dokter?"
"Sudah dan ini tidak berbahaya hanya karena aku kurang istirahat dan mungkin otak ku yang terlalu keras untuk berfikir." Aditya tersenyum seolah mengatakan jika semua baik - baik saja.
"Jangan bersedih sweety, ini tidak sakit aku bahkan tak merasakan apa - apa." Aditya pun kembali mendongak ke atas agar darahnya cepat berhenti, ia tak mau melihat Ziana yang tampak sangat mengkhawatirkannya.
"Jangan begini lagi, aku takut kau sakit." Ziana memeluk suaminya erat.
"Maafkan aku membuat mu takut, aku janji akan menjaga kesehatan ku." Aditya pun membalas pelukan Ziana setelah darah di hidungnya berhenti keluar.
"Iya jangan terlalu keras pada diri mu, ingat lah ada aku yang selalu menunggu mu." tak terasa air mata menetes di pipi putih nya, ia begitu takut melihat suaminya seperti itu.
"Hey aku tidak apa - apa jangan menangis, hmm?"
"Kita pulang saja ya." lanjutnya lagi dan Ziana pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan saling berpegangan tangan seolah takut akan terlepas mereka berjalan keluar menuju ke tempat parkir.
Setelah masuk ke dalam mobil Ziana hanya diam pikirannya kini tak tentu arah, mengingat apa yang di lihatnya tadi.
"Sweety sudah ya jangan terlalu memikirkannya, aku janji akan lebih memperhatikan kesehatan ku." Aditya menggengam tangan Ziana dan menciumya dengan lembut.
"Baiklah tapi kau harus janji pada ku jangan terlalu keras bekerja, sesuai kan lah dengan kondisi tubuh jika lelah sudah jangan di paksakan."
"Baiklah Nyonya." Aditya tersenyum ia berusaha untuk mencairkan suasana.
"Apa ada yang kau sembunyikan lagi dari ku?"
tanya Ziana dengan menatap dengan lekat manik mata suaminya.
Deggggg
Aditya merasa kesulitan untuk sekedar menelan saliva nya, ia belum menceritakan semua yang belum di ketahui Ziana tentang dirinya.