In Memories

In Memories
part 85



Setelah beberapa hari honeymoon di korea yang Ziana dan Aditya pun pulang ke tanah air. Honeymoon yang sangat mengesankan bagi Ziana karena bisa menginjakkan kaki nya di negara yang paling ingin ia kunjungi, meskipun kesempatannya untuk bertemu sang idola pupus sudah karena tak mendapat izin dari Aditya. Padahal saat itu selangkah lagi ia bisa melihat idolanya dengan jelas karena tengah shooting di tempat yang sama dengan yang mereka kunjungi saat itu.


Ziana hanya bisa melihatnya dari jauh, Aditya adalah tipe pria dengan kadar cemburu yang tinggi meskipun itu hanya idola bagi Ziana tapi tidak bagi Aditya, ia tetap menggapnya saingan.


"Suamiku, kita pulang kemana ini?" ucap Ziana bergelayut manja pada tangan Aditya.


"Appartemen." ucapnya sembari terus berjalan menuju mobil yang telah menjemput mereka di bandara.


"Baiklah." Mereka terus berjalan hingga tiba di depan mobil yang telah menunggu mereka setelah itu mobil pun melaju meninggalkan bandara untuk menuju appartemen.


***


Di Perusahaan Erlangga Corp seseorang yang sudah seminggu ini nampak sibuk dengan urusan pekerjaan yang telah menjadi bagian dari tugasnya di saat boss nya tengah sibuk dengan kepentingan pribadinya. Angga yang selama ini menghandle semua pekerjaan Aditya, dan ia hanya mengirimkan laporan setiap hari kepada Aditya.


Angga yang nampak kelimpungan karena tugasnya menjadi dua kali lipat dari pekerjaannya sehingga hampir setiap hari ia lembur.


"Ya Tuhan kenapa aku tak di takdirkan menjadi seorang bos? jika sampai seminggu lagi aku bekerja seperti ini pasti aku akan menjadi pasien di rumah sakit. Ahh badan ku!" gumam Angga dengan menggerakkan setiap anggota badannya karena rasa pegal dan lelah yang ia rasakan kini.


Drrrt,,drrttt


Ponsel yang ada di atas meja nya pun bergetar dengan segera ia mengangkat panggilan dari atasannya yang sejak tadi menjadi permasalahan dirinya.


"Hallo Tuan."


"Iya besok siapkan rapat untuk proyek pengembangan hotel dan resort yang ada di Bali." ucap Aditya.


"Baik Tuan, apa ada yang lain?"


"Tidak." Aditya mematikan sambungan telponnya secara sepihak.


"Ya ampun pekerjaan ini saja belum selesai sekarang di tambah lagi menyiapkan proposal untuk rapat besok, tusuk saja aku Tuan!" seru Angga dengan memegang kepalanya yang terasa pusing saat ini.


Tok..Tok..Tok


Pintu ruangan pun di ketuk.


"Masuk." ucap Angga dengan posisi berbeda kini ia tengah duduk dengan menatap laptop, ia tak mau terlihat seperti orang yang frustasi apalagi masalah pekerjaan baginya menjaga image itu penting agar para karyawan yang lain tampak segan terhadapnya.


"Permisi Pak, ini ada kiriman paket untuk Tuan Aditya." Sekertaris Vines masuk dengan menyimpan kiriman paket yang ia terima untuk atasannya itu.


"Baiklah kau boleh pergi." ucap Angga dengan senyum di wajahnya.


"Apalagi ini, tidak ada nama pengirimnya? jangan sampai ini menjadi permasalahan yang akan membuatku pusing untuk kesekian kalinya." Angga pun menghela nafasnya dengan menatap paket yang ada di tangannya.


Ia pun meneruskan pekerjaan nya yang tertunda, biarlah nanti bos nya saja yang akan membuka paket nya. Karena memang paket itu di tujukan untuk Aditya masalah yang akan menyangkut dirinya nanti urusan belakangan, ia sudah pusing jika harus ikut memikirkannya untuk saat ini.


***


Pagi ini Aditya akan berangkat bekerja untuk pertama kalinya setelah ia menikah, kini setelah selesai membersihkan diri ada seseorang yang telah menyiapkan segala keperluannya dan menemaninya sarapan bersama.


"Selesai juga." Ziana berdecak dengan hasil kerjanya yang tak seberapa itu.


"Apa kau akan kuliah pagi ini sweety? ucap Aditya dengan duduk di atas meja makan untuk memulai sarapannya.


"Iya suami ku hari ini aku berangkat untuk kuliah pagi." Ziana pun ikut duduk berhadapan dengan suaminya, tadi pagi ia sudah bangun untuk bersiap karena hari ini juga hari pertama ia kuliah setelah cuti kuliah satu minggu yang lalu.


"Baik lah aku akan mengantarmu lebih dulu."


"Hmm." Ziana hanya berdehem dan mengangguk sebagai jawaban.


Setelah sarapan mereka pun pergi bersama dengan menaiki mobil sport berwarna merah milik Aditya.


Di jalan yang sedikit padat merayap karena jalanan yang mulai di padati oleh kendaraan, cuaca pagi hari yang cerah membuat silau karena sinar matahari yang memantulkan cahayanya. Ziana dan Aditya kini tengah duduk di dalam mobil dengan pikirannya masing - masing.


"Oh ya ingat di kampus nanti jangan sampai kau terlalu dekat dengan pria mana pun, apalagi dengan laki - laki yang selalu menjadi sumber masalah bagi kita." ucap Aditya yang tetap fokus mengemudi tanpa menoleh ke arah Ziana.


"Sumber masalah bagi kita? maksudnya Evan?" tanya Ziana dengan mengerutkan keningnya bingung dengan pernyataan suaminya yang sangat ambigu.


"Jangan pernah menyebut namanya di hadapan ku."


"Ok baiklah suami ku."


Evan yang kau salahkan seharusnya pikiran mu yang kau salahkan, selalu berpikir buruk terhadapnya. Aku bahkan ingin sekali melihat isi kepalamu itu yang selalu setingkat lebih tinggi dari orang normal.


Setelah sampai di depan kampus, Ziana pun berpamitan untuk turun tak lupa ia mencium punggung tangan suaminya itu.


"Hati - hati di jalan suamiku." ucap Ziana dengan senyum dan lambaian tangan sesaat sebelum mobil Aditya melaju. Aditya tersenyum mengangguk sebagai jawabannya.


Sampai lah ia di perusahaan miliknya yang selama seminggu ini ia tinggalkan, ia begitu merindukan ruang kerjanya. Aditya berjalam dengan langkah tegap dan senyuman yang tak pernah surut dari bibirnya itu. Hari ini merupakan hari yang begitu membahagiakan hatinya selama ia bekerja di perusahaannya.


Aditya menyapa setiap karyawan yang berpapasan dengannya, hati yang riang akan sangat berpengaruh terhadap mood seseorang bahkan terhadap lingkungannya sekalipun. Ia terus berjalan menuju lift dan menaikinya hingga sampai di lantai tempat dimana ruangannya berada.


"Selamat pagi Tuan Aditya, bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Angga yang tengah berdiri menunggu atasannya datang.


"Jika kau ingin tau maka coba lah untuk menikah." Jawab Aditya sembari berjalan menuju meja kerjanya.


Pamernya pengantin baru, tapi tak apalah setidaknya mood baiknya akan menyelamtkan ku hari ini, semoga.


"Tuan kemarin ada paket untuk anda, saya simpan di laci." Ucap Angga.


"Paket?" Aditya pun membuka laci dan melihat tak ada nama pengirim tertera di sana, dengan tak sabar ia pun membuka paketnya.


Brakkkk..


Seketika rahangnya mengeras mendapati isi paket yang membuatnya menggebrak meja di depannya. Angga yang sedang lengah pun terkejut sampai ia mengusap dada nya karena rasa kaget akan suara gebrakan meja Aditya. Ia melihat wajah Aditya yang merah padam.


Kan pasti sudah ku duga paket ini akan menjadi sumber masalah ku.