In Memories

In Memories
part 53



Aditya yang mendapat notif pesan dari Ziana, membuatnya merasa ada semangat baru baginya Ziana merupakan mood booster dalam hidup nya. Ia tak pernah merasakan sebahagia ini sebelumnya karena hidupnya flat membuatnya tak pernah mengenal dunia yang baru ia rasakan.


"Angga apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Aditya setelah ia membalas pesan Ziana.


"Pernah Tuan tapi hanya cinta monyet pada zamannya." Angga pun tersenyum canggung dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ini pembahasannya kenapa jadi melenceng jauh ya dari berkas perusahaan ke berkas percintaan. Aku tak pernah menyangka Tuan Aditya yang dingin seperti ini menjadi budak cinta hanya dalam waktu yang singkat. Tapi baik untukku jika mood nya selalu bagus aku bisa bekerja dengan tenang.


"Apa sekarang kau tak merasakannya?" Tanya Aditya dengan berkas di tangannya tapi tatapannya tertuju pada Angga.


"Tidak Tuan bagiku sekarang adalah bekerja dan bekerja, cicilan ku banyak Tuan." Angga meringis menjawab pertanyaan dari atasannya itu.


"Sesekali kau harus menyenangkan diri mu." Aditya tersenyum tipis dan menepuk pundak Angga dengan berkas yang ada di tangannya.


"Iya Tuan." sahut Angga dengan mengangguk menyetujui ucapan dari boss nya.


Aditya hanya menggelengkan kepalanya ia tak menyangka ternyata efek jatuh cinta membuatnya menjadi lebih manusiawi ia sekarang merasa lebih banyak mengekspresi kan dirinya.


Mereka pun kembali ke topik awal dengan mempelajari berkas yang menjadikan diri mereka lembur untuk malam nanti.


***


"Apa tak bisa hanya mengirimkan no rekening mu kepadaku? kenapa harus aku yang datang langsung menemui mu?" Ucap Bara yang baru kekuar dari mobilnya begitu sampai di bengkel seperti yang Lena minta.


"Ckk apa enak saja, apa kau tak merasa punya hutang maaf kepada ku?" Tanya Lena dengan mendongakkan wajahnya kepada Bara.


"Apa maaf? apa aku tak salah dengar?"


"Sudah ku duga kau pasti mengelak nya bukan?dasar kau itu pria yang tak bertanggung jawab dan pria yang tak mau mengakui kesalahannya itu bukan lah pria sejati tapi tak lebih dari seorang bocah labil." Ucap Lena dengan nada suara nya yang sesikit tinggi hingga membuat semua mata tertuju padanya.


Apa mulutnya tak bisa memfilter semua ucapannya? Aku sudah tak tahan Arrrrrrggghhhh.


"Kau awas saja jika kau membuat keributan seperti di kantin waktu itu." Ancam Bara dengan menatap tajam wajah Lena.


"Kau pikir aku takut?" ucap Lena dengan berkacak pinggang dan mendongak untuk bisa melihat dengan jelas wajah Bara.


"Kau, ah sudahlah mana berikan padaku rincian biaya nya akan segera aku bayar." Bara mengulurkan tangannya untuk bisa melihat nota pembayarannya.


"Heh dasar pria egois, aku yakin di usia mu yang seharusnya sudah punya anak tapi kau masih single." ucap Lena dengan menatap intens Bara.


"Apa masalah mu?" Bara sudah mulai terpancing emosi.


"Aku cuma butuh kau minta maaf padaku atas semua tindakan mu yang merugikan hati dan mobil ku? Lena menunjuk dada nya kemudian ia menunjuk mobilnya.


"What gadis gila sudah aku tak punya waktu untuk meladeni ocehan bocah seperti mu." Bara berlalu pergi meninggakkan Lena dan menuju kasir untuk pembayaran mobi Lena.


Bukan Lena namanya jika ia akan tinggal diam begitu saja. Saat Bara tengah melakukan pembayaran ia melihat mobil Bara yang terparkir dengan kaca yang terbuka, dengan cepat ia berlari menuju mobil Bara.


Ia kembali lagi ke tempatnya berdiri semula, begitu Bara selesai melunasi pembayaran mobilnya.


"Ah sudahlah lebih baik aku pun pulang urusan ku sudah selesai dengannya, semoga aku tak pernah bertemu dengannya lagi." Ucap Bara dengan berjalan ke arah mobilnya.


Saat ia duduk di balik kemudi dan tangannya menyentuh stir mobilnya, ia merasakan ada yang aneh pada stir mobilnya.


"Gadis gilaaa, kau benar - benar menguji kesabaran ku!! Arrrrrrgggghh aku ingin sekali memakan mu hari ini!! teriak Bara dengan mengangkat kedua tangan nya yang penuh dengan slime warna hitam yang Lena tempel di belakang stir mobilnya.


"Kau pasti sedang mengumpat ku Pak dokter." Lena yang tengah menyetir mobil tertawa membayangkan ekspresi kesal Bara.


Ia pun terus melajukan mobilnya untuk segera pulang karena badannya sudah lelah, ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya.


***


Pagi hari yang saat Ziana baru saja menjejakkan kaki di kampus, ia di kejutkan oleh mobil yang berhenti mendadak di depannya.


Pintu mobil pun terbuka dan keluarlah pria tampan dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya yang mancung, dan wajahnya yang tersorot sinar matahari pagi membuatnya terlihat dua kali lipat lebih tampan.


Ia berjalan lurus mendekati Ziana, dengan senyum tipis dari bibirnya. Ziana tersipu malu wajahnya terasa hangat dengan rona merah di pipinya membuat Aditya semakin menyukainya.


Setelah sampai di hadapan Ziana ia langsung menarik Ziana ke dalam pelukannya tanpa memperhatikan keadaan sekitar yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.


"Aku merindukan mu." ucap Aditya dengan mengeratkan pelukannya.


"Aku juga." Ziana menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aditya.


Setelah beberapa detik mereka pun mengurai pelukannya. Aditya menyelipkan rambut Ziana ke belakang telinga dengan menggengam tangannya.


"Baiklah nanti aku jemput, sekarang masuklah."


"Iya aku masuk dulu ya Kak." Ziana mengangguk dan segera melangkah pergi menuju ke dalam kampus begitu juga dengan Aditya, ia berbalik menuju mobil dan segera melaju meninggalkan kampus Ziana.


"Sampai kapan pun aku tak akan pernah melepaskan mu. Apa pun yang terjadi nanti ke depannya, kau milik ku Ziana." Aditya terus mengembangkan senyum nya ia merasa perasaan yang ia rasakan benar membuatnya melayang.


Selang 15 menit kemudian mobilnya telah sampai di depan perusahaan Erlangga Corp. Dengan langkah ringan ia melangkan menuju lobby perusahaan, mood booster yang ia dapat di pagi hari berdampak juga pada semua karyawan. Saat itu Aditya selalu tersenyum pada semua karyawannya hingga ia sampai di ruang kerjanya.


"Tuan ada perwakilan dari perusahaan Arkios ingin bertemu dengan anda sehubungan dengan kontrak kerjasama bulan lalu." Ucap Angga.


"Bawa dia masuk." ucap Aditya yang sudah duduk di meja kerjanya dengan mulai menyalakan laptopnya tanpa menyadari Angga yang keluar dan kembali dengan tamu yang ingin bertemu dengan Aditya.


"Silahkan." Angga mempersilahkan tamu nya itu untuk masuk.


"Hallo Bapak CEO apa kabar lama tak bertemu? tanya seorang wanita dengan pakaian nya yang sangat elegan dan seksi menyapa Aditya.


"Ah ternyata kau, maaf dengan kejadian waktu itu. Aku mendadak pusing dan meninggalkan mu." Aditya yang kaget saat ia melihat Rania yang datang sebagai perwakilan dari perusahaan Arkios.


"It's ok, itu sudah lama berlalu." Rania duduk dengan rok yang terangkat sampai memperlihatkan kaki mulusnya dengan belahan dada yang sedikit terlihat, ia berusaha menarik perhatian Aditya agar jatuh ke pelukannya.