In Memories

In Memories
part 56



Pagi ini Aditya sudah terbang ke swiss untuk perjalanan bisnisnya dengan Sekertaris Angga. Ia berangkat dengan menggunakan jet pribadi nya.


Begitu sampai di Zurich Airport ia langsung pergi menuju hotel pribadinya yang di kelola oleh orang kepercayaannya di swiss. Sebelum Aditya kembali menetap di jakarta, dulu beberapa tahun setelah lulus kuliah ia mengembangkan bisnisnya di negara swiss sebagai anak cabang perusahaannya karena perkembangan yang pesat di negara swiss terhadap bisnisnya ia memutuskan untuk mengembangkan usaha bisnisnya di bidang yang lain. Aditya adalah pebisnis handal ia selalu pintar mencari celah untuk ladang bisnisnya agar bisa maju dengan pesat.


Mereka berjalan menuju ke kamar khusus yang biasa di tempati jika mereka datang ke swiss, untuk perjalanan bisnis atau pun hanya untuk sekedar berlibur.


"Selamat beristirahat Tuan." Ucap sekertaris Angga setelah mereka berjalan ke kamar yang berbeda.


Sedangkan bellboy yang membawa barang mereka ikut masuk ke dalam kamar dan meletakkan barang bawaannya. Setelah itu mereka kembali lagi keluar kamar untuk bekerja kembali.


Aditya merebahkan tubuhnya di kasur big size nya, hampir 14 jam di perjalanan membuat tubuhnya merasa pegal. Jam sudah menunjukan pukul 9 malam itu berarti di indonesia baru pukul 4 sore. Ia tersenyum mengingat wajah Ziana, pasti gadisnya itu sudah berada di rumahnya begitu pikirnya.


Aditya langsung menelpon Ziana via video call.


"Hai sedang apa?" tanya Aditya begitu sambungan telpon tersambung dan menampilkan muka bantal Ziana yang baru bangun tidur.


"Aku baru bangun, apa Kak Ditya sudah sampai?" tanya Ziana.


"Iya aku baru sampai dan langsung menelpon mu." Aditya tersenyum dengan posisi berbaring, tangan kirinya memegang ponsel dan tangan kanannya di jadikannya bantal untuk menahan kepalanya.


"Apa tidak capek? perjalanan jauh pasti bikin pinggang sakit, itu pasti melelahkan."


"Sudah biasa, nanti lain kali aku pasti mengajakmu ke sini." senyum yang tak pernah surut dari bibir Aditya setelah ia menjalin hubungan dengan gadisnya itu.


"Ah yang benar Kak? tapi percuma saja, nggak mungkin Kak mana di kasih ijin sama orang tua ku." Mata Ziana yang tadinya memulat dengan binar bahagia yang terpancar dari wajahnya seketika lenyap mengingat ia tak akan mungkin mendapatkan izin dari orang tuanya.


"Pasti di izinkan, nanti setelah kau jadi milik ku sepenuhnya."


"issh Kak Ditya gombalnya bisa aja." Pipinya ia rasa menghangat dan membuat rona merah di kedua pipi Ziana, ia makin salah tingkah.


"Aku serius." Aditya menatap lekat Ziana.


"Baiklah aku menantikan hal itu." Ucap Ziana seakan memberikan sinyal positif bagi Aditya. Mereka berbincang lama dan setelah itu telpon pun di akhiri karena Aditya harus mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah untuk besok melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya.


***


Sinar matahari pagi yang mulai menyinari bumi, membuat Ziana mau tak mau harus segera bangun karena ia harus kuliah dan juga bekerja kembali. Meskipun bekerja sebagai model tak harus setiap hari ia lakukan, hanya karena ada jadwal saja ia akan pergi ke perusahaan.


Setelah bersiap untuk pergi ke kampus, seperti biasa Ziana sarapan lebih dulu bersama keluarganya. Kali ini ada Pak Risman karena hari ini libur berjualan.


"Zi apa tidak capek kamu harus kuliah juga bekerja?" tanya Pak Risman di sela sarapannya.


"Nggak kok Pak kan nggak tiap hari juga kerjanya, cuma kalau ada pemotretan aja Zi kerja."


"Lagian cuma di foto doang Pak mana ada capeknya." Zian menyahuti perkataan mereka.


"Iya pak untuk menjadikan pengalaman juga jadi biarlah selagi Zi masih muda." Bu Rina ikut menimpali.


"Apa hari ini yang bantu ibu akan datang?" tanya Ziana dengan meneguk susunya.


"Pasti meski ia sakit sekalipun pasti datang, ia sangat patuh pada pacarmu itu." ucap Bu Rina.


"Ngapain lo ngikutin gaya orang, be your self aja Zian." jawab Ziana.


"Biarin dia salah satu panutan gue sekarang." Ucap Zian dengan terus mengunyah dan menyugar rambutnya.


"Terserah lo, udah yuk buruan udah siang ini." Ziana berdiri dan menyelempangkan tas nya.


"Ayok udah siap gue juga."


Mereka berdua pun bergegas pergi meninggalkan rumah dan tak lupa mencium tangan dan memberi salam pada ke dua orang tuanya.


Sesampainya di kampus dari arah berlawanan ia melihat Evan tersenyum padanya, ia berjalan ke arahnya.


"Pagi Zi, apa kabar?" tanya Evan.


"Pagi juga Van, kabar baik. Maaf kejadian waktu itu ya." ucap Ziana.


"Iya nggak apa - apa, apa dia pacarmu?"


Ziana hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Evan.


"Ah ternyata itu alasan nya lo nggak pernah mau gue anter, hmmm." Evan mengangguk dengan senyum nya yang membuatnya tampak sangat mempesona.


"Ih apa sih lo ah, mulai deh." Ziana mengerucutkan bibirnya dengan pandangan yang tak tentu arah, ia terlalu malu untuk menatap Evan karena apa yang Evan katakan benar adanya.


"Kita ke dalam aja yuk takutnya telat ini." lanjut Ziana lagi.


"Baiklah." Evan mengangguk setuju, mereka pun melangkah bersama menuju kelas masing - masing.


Aku ikut bahagia melihat kau menemukan kebahagian mu, tetapi jangan salahkan aku jika suatu saat nanti dia membuat mu menangis aku akan merebutmu darinya.


***


Sementara itu di belahan bumi yang jauh di sana, Aditya yang sejak pagi telah bersiap untuk pertemuan nya dengan rekan bisnisnya. Rapat penting yang harus ia hadiri secara langsung tanpa bisa di wakilkan karena adanya suatu masalah yang terjadi mengharuskannya untuk turun langsung, menghandle nya agar cepat terselesaikan.


"Apa semua sudah siap?" tanya Aditya


"Sudah Tuan." jawab Angga dengan menganggukkan kepalanya berdiri di samping Aditya.


"Baiklah lebih cepat akan lebih baik agar semua dapat terselesaikan." Aditya pun memasuki ruang kerjanya yang merupakan cabang perusahaan nya dari perusahaan pusat yang ada di jakarta.


Semua dewan direksi telah berkumpul untuk membahas permasalahan yang terjadi, agar mendapat titik temu nya secara transparan. Siapa pun nanti yang menjadi musuh dalam selimut tak segan ia pecat dan ia hancurkan kehidupan nya, sampai merangkak meminta maaf di kaki Aditya.


Dalam dunia bisnis Aditya memang terkenal arogant , dan pintar membaca situasi dan keadaan jika ada yang menguntungkan ia bisa dengan mudah masuk ke perusahaan yang sedang membutuhkan kucuran dana, maka ia akan ikut menanamkan modalnya dengan keuntungan berapa persen saham untuknya.


"Aku akan investigasi semua kekacauan yang terjadi sekarang ini, jika saja ada satu penghianat diantara kita jangan harap bisa lepas dari genggaman ku." Aditya berkata dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi apa pun.


Semua dewan direksi yang ada di sana hanya bisa menelan salivanya melihat kemarahan dari seorang Aditya. Ia merupakan pemegang saham terbesar di antara yang lainnya.